Pengertian Teks Anekdot

Teks anekdot adalah cerita yang transpirasi oleh fakta, bersifat lucu (mengandung humor) berbarengan dengan kritik halus atau makna tersirat yang positif lainnya. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Kosasih (2017, hlm.2)  yang mengemukakan bahwa teks anekdot adalah teks yang berbentuk cerita yang di dalamnya berisi humor sekaligus kritik dan karenanya, anekdot sering kali bersumber dari kisah-kisah faktual dengan tokoh terkemuka yang nyata.

Sementara itu, Mayora dkk. (2017, hlm.193) berpendapat bahwa teks anekdot adalah teks cerita yang bersifat lucu dan bertujuan untuk menyindir seseorang atau suatu kebiasaan buruk. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa teks anekdot adalah cerita lucu yang bertujuan untuk menghibur sekaligus memberikan kritik membangun dengan cara halus agar teks lebih bermakna untuk dibaca.

Struktur Teks Anekdot

Kosasih (2017: 5) mengemukakan bahwa teks Anekdot memiliki lima struktur teks di antaranya: abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Berikut adalah penjelasannya.

  1. Abstraksi,
    adalah pendahuluan yang menceritakan atau mengungkapkan latar belakang dan gambaran umum mengenai isi suatu teks.
  2. Orientasi,
    merupakan bagian cerita yang mengarah pada terjadinya suatu krisis, konflik, atau peristiwa utama. Bagian inilah adalah penyebab timbulnya krisis atau komplikasi pada bagian selanjutnya.
  3. Krisis atau komplikasi,
    bagian utama dari inti peristiwa suatu anekdot. Pada bagian inilah terdapat kelucuan atau kekonyolan yang menggelitik dan mengundang tawa sekaligus sindiran atau kritik yang disampaikan.
  4. Reaksi,
    adalah tanggapan atau respon atas krisis yang dinyatakan sebelumnya. Reaksi dapat berupa sesederhana tertawa, sikap mencela/menyindir, atau mengiakannya sebagai bentuk ironi.
  5. Koda,
    merupakan kesimpulan dan pertanda berakhirnya cerita. Koda dapat memuat komentar, persetujuan, atau penjelasan ulang atas maksud dari cerita yang dipaparkan sebelumnya.

Unsur Teks Anekdot

Selain struktur, karena teks anekdot adalah suatu cerita, maka teks anekdot mempunyai unsur pembangun ceritanya. Menurut Kosasih (2017, hlm. 19) unsur-unsur di dalam cerita anekdot ada tokoh, alur, dan latar. Berikut ini adalah penjabarannya.

  1. Tokoh,
    tokoh adalah partisipan yang terlibat dalam cerita yang berada dalam teks anekdot. Tokoh dalam teks anekdot bersifat faktual, biasanya orang-orang terkenal.
  2. Alur,
    alur adalah jalan cerita berupa rangkaian peristiwa yang benar-benar terjadi atau pun sudah mendapat polesan maupun tambahan-tambahan dari pembuat anekdot itu sendiri.
  3. Latar,
    latar berupa waktu, tempat, ataupun suasana dalam anekdot diharapkan bersifat faktual. Artinya benar-benar ada di dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Baca juga: Prosa: Pengertian, Unsur, Jenis & Penjelasan Lengkap

Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot

Menurut Kosasih (2017, hlm. 9) Anekdot tergolong ke dalam teks bergenre cerita. Berdasarkan hal tersebut, secara kebahasaan anekdot memiliki karakteristik sebagai berikut.

  1. Banyak menggunakan kalimat langsung ataupun tidak langsung.
  2. Menggunakan nama tokoh orang ketiga tunggal, baik dengan menyebutkan langsung nama tokoh faktual atau tokoh yang disamarkan.
  3. Banyak menggunakan keterangan waktu. Hal ini terkait dengan bentuk anekdot yang berupa cerita, disajikan secara kronologis atau mengikuti urutan waktu.
  4. Menggunakan kata kerja material, yaitu kata yang menunjukkan suatu aktivitas. Hal ini terkait dengan tindakan para tokohnya dan alur yang membentuk rangkaian peristiwa ataupun suatu kegiatan yang menyangkut ceritanya.
  5. Banyak menggunakan kata penghubung atau konjungsi yang bermakna kronologis (keterangan waktu), seperti: kemudian, akhirnya, lalu.
  6. Banyak pula menggunakan konjungsi penerang atau penjelas, seperti: bahwa, ialah, sebab. Hal ini berkaitan langsung dengan dialog dari para tokohnya yang diubah dari bentuk langsung ke kalimat tak langsung.

Sementara itu, Tim Kemdikbud (2017, hlm.95) mengutarakan bahwa unsur kebahasaan khas sebagai berikut:

  1. Menggunakan  kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu.
  2. Banyak menggunakan kalimat bergaya retoris atau kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
  3. Menggunakan konjungsi atau kata penghubung yang menyatakan hubungan waktu (kronologis) seperti: akhirnya, kemudian, lalu.
  4. Menggunakan kata kerja aksi seperti: menulis, membaca, dan berjalan.
  5. Menggunakan kalimat perintah atau imperative sentence.
  6. Menggunakan kalimat seru, khusus untuk anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog, penggunaan kalimat langsung sangat dominan.

Perbedaan Anekdot dan Humor

Lalu apa bedanya anekdot dengan humor biasa? Berikut adalah tabel perbandingan dari anekdot dan humor.

Aspek Anekdot Humor
Ide Cerita: Peristiwa nyata Rekaan
Isi: Masalah yang terkait tokoh publik atau terkenal yang berpengaruh besar terhadap orang banyak Masalah kehidupan sehari-hari yang banyak dialami oleh masyarakat
Fungsi Komunikasi: Menyampaikan kritik yang berbentuk sindiran yang lucu namun tetap disampaikan secara halus Menghibur
Makna Tersirat Biasanya memiliki makna tersirat berupa saran, harapan atau kritik membangun yang objektif dan tidak menyudutkan satu pihak (mengajak semuanya berintrospeksi) Tidak memiliki makna tersirat

 

Jenis-jenis Teks Anekdot

Luxembrug dkk (1992:160), mengemukakan bahwa jenis-jenis teks anekdot sebagai berikut.

  1. Artikel Anekdot
    artikel bisa berbentuk format naratif yang mana dalam ceritanya memiliki kejelasan tokoh, alur, peristiwa, dan latar.
  2. Cerpen Anekdot
    anekdot berupa cerpen biasanya hanya menceritakan sesuatu hal yang lugas, sehingga ceritanya tersebut tidak berbelit-belit, sehingga pembaca dapat lebih mudah untuk memahami lelucon dan sindiran dari teks tersebut.
  3. Teks Dialog Anekdot
    teks dialog adalah sarana primer dari teks anekdot. Mengapa? Karena teks dialog merupakan situasi bahasa utama untuk menyampaikan lelucon. Sehingga, teks dialog anekdot sangatlah memungkinkan untuk dibuat.

Contoh Teks Anekdot Singkat

Bikin Undang-undang

Dodi datang bertandang pada sepupunya yang bernama Allan, ia berdomisili di sebuah kota.

Suatu pagi yang lengang Dodi diajak cari sarapan, mereka naik mobil, tentu Allan yang nyopir.

Di perempatan jalan, waduh…, lampu merah menyala, tapi Allan melaju terus, maka itu Dodi menegor sepupunya itu.

Dodi : Lampu merah, mengapa engkau melaju terus?!

Allan : Alah…, tenang aja, di Negeri ini aku bisa bikin Undang-undang kok…!, jawabnya santai..

Dodi : Bagaimana bisa?!, bukankah yang membuat Undang-undang itu DPR plus Pemerintah?!

Allan : (Meminggirkan mobilnya)

Dodi : Mengapa meminggir?!

Allan : Mau menjawab pertanyaanmu!!, jawabnya ketus.

Dodi : Mengapa harus meminggir?!

Allan : (Mobil dihentikan, lalu dirogoh saku celananya serta diambil dompetnya yang tebal itu dan ditaruhnya di depan Dodi seraya berkata): Ini jawabannya!! Sambil menancapkan gas…

Dodi : Oh…!!!

Sarang Laba-Laba

Pada saat pak dosen memberi kuliah Sosiologi Hukum, bertanyalah ia pada mahapeserta didik yang bernama Elisa.

Dosen : Saudari Elisa, coba utarakan seringkas mungkin kondisi penegakan hukum di Negara kita tercinta ini…!, tanyanya;

Elisa : Bagaikan sarang laba-laba pak!!‟ jawabnya tegas;

Dosen : Maksudnya…?!

Elisa : Kalau kelas nyamuk akan tertangkap dan tak dapat berkutik pak!, sedang kalau kelas kumbang, wah…, jebol pak…!!;

Dosen : Kalau kelas gagak?!

Elisa : Tak tahu pak…!!

Mahapeserta didik lainnya : Hahaha

(Sumber : Blog Tamao Feryzawa)

KUHP

Seorang dosen Fakultas Hukum sedang memberi kuliah Hukum Pidana

Ali bertanya pada pak dosen, apa kepanjangan daripada KUHP pak…?

Pak dosen tidak menjawab sendiri melainkan dilemparkannya pada si Ahmad. “Saudara Ahmad, coba saya dibantu untuk menjawab pertanyaan saudara Ali”, pinta pak dosen

Si Ahmad menjawab, “Kasih Uang Habis Perkara pak…!!!”, tegasnya.

Mahapeserta didik lain tentu pada ketawa, sedang pak dosen geleng-geleng kepala, seraya menambahkan pertanyaan pada si Ahmad, “saudara Ahmad, darimana saudara tahu jawaban itu?!!

“Dasar si Ahmad”, pertanyaan pak dosen dijawabnya pula dengan tegas, “peribahasa Inggris mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik pak…!!!”

Asap Rokok

Di pagi hari, Andi berjalan menuju halte, dimana orang-orang ingin menunggu bus untuk pergi ke tempat kerjanya. Setelah sampai di halte, dia bertanya kepada seorang buruh pabrik yang sedang menunggu bus Kopaja sambil merokok. Lalu Andi memulai percakapan, “haduh, tebal dan jorok sekali asap bus mayasari bakti.” Lalu buruh pabrik itu merespon pernyataan Andi, “Iya nih.. Asap kopaja juga tebal.” Lalu Andi membalas, “Bagaimana tanggapan anda jika melihat orang yang menyebabkan polusi lebih dari asap bus itu?” Buruh pabrik itu menjawab, “hajar aja tuh orang.” Lalu Andi menghajar Buruh pabrik itu. Setelah mengahajar orang tersebut, Andi memberikan brosur kepada buruh itu.

Lalu Andi berjalan tidak jauh dari halte itu, dan menemukan seorang karyawan swasta yang sedang merokok dan sedang menunggu bus juga. Maka Andi memulai percakapan dengan orang tersebut, “haduh, tebal sekali asap kendaraan di Jakarta ini, padahal kendaraan di Jakarta sudah diwajibkan melakukan uji emisi.” Lalu karyawan swasta tersebut merespon, “Iya nih.. Pantas saja terjadi Global Warming.” Andi pun bertanya kembali pada orang tersebut, “Bagaimana respon anda terhadap orang yang menyebabkan polusi lebih dari asap kendaraan?” Sang karyawan swasta pun menjawab, “Kalo penyebabnya itu pabrik, baker aja. Kalau penyebabnya manusia, tamper aja biar dia sadar.” Lalu Andi menampari orang tersebut, dan memberi brosur kepada orang tersebut.

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Buku Siswa Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAN Kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  2. Kosasih, E. (2017). Jenis-jenis Teks. Bandung: Penerbit Yrama Media
  3. Mayora & Syahrul & Tressyalina (2017). Pengaruh model discovery learning berbantuan media audiovisual terhadap keterampilan menulis teks anekdot siswa kelas X SMA Negeri 1 Lembah Gumanti Kabupaten Solok. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 6 (1): halaman 193.
  4. Yustinah. (2014). Produktif berbahasa Indonesia untuk SMK/MAK kelas X. Bandung: Erlangga.
  5. Luxemburg, Jan Van dkk. (1992). Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia

Gabung ke Percakapan

4 tare

  1. kk,bisakah berikan kritik buat teks anekdot dengan tema “otak orang indonesia di minati”pliz kk.

    1. Halo Eunike, kritik dilakukan dengan menganalisis strukturnya terlebih dahulu, kemudian kita menilai masing-masing struktur apakah kaidah kebahasaannya sesuai, bahasa yang digunakan jelas, amanatnya apa, dsb.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *