Pengertian Morfologi

Dalam kajian linguistik atau ilmu kebahasaan, morfologi adalah ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata (Chaer, 2015, hlm. 3). Lebih lanjut, Ramlan (2009, hlm. 29) menyatakan bahwa morfologi adalah bagian ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk-beluk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk tersebut, baik dalam fungsi gramatik (arti kata berdasarkan konteks penggunaan) maupun fungsi semantik (arti kata berdasarkan makna leksikal/kamus).

Pengertian Morfologi Menurut para Ahli

Selanjutnya, untuk memastikan kesahihan pengertian dari morfologi sendiri, berikut adalah beberapa pengertian morfologi menurut pendapat beberapa ahli.

Tarigan

Morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata (Tarigan, 1987, hlm. 4 dalam Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 47).

O’Grady

Menurut O’Grady (1997, hlm. 113) “Morphology is the system of categories and rules involved in word formation and interpretation“, yang berarti bahwa morfologi adalah sistem kategori dan aturan yang digunakan dalam pembentukan kata serta interpretasinya.

Bloomfield

Bloomfield (1993, hlm. 207) berpendapat bahwa “By the morphology of a language we mean the constructions in which bound forms or words, but never phrases. Accordingly, we may say that morphology includes the constructions of words and parts of words,…“, Morfologi dalam ilmu bahasa adalah pembentukan kata yang menghasilkan morfem tetapi bukan frasa. Kemudian, dapat dikatakan bahwa ruang lingkup morfologi juga akan menjamah konstruksi dan bagian-bagian dari kata.

Verhaar

Morfologi atau tata bentuk (Inggris morfology; ada pula yang menyebutnya morphemics) adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal (Verhaar, 1984, hlm. 52).

Alwasilah

Dalam bahasa  linguistik  bahasa Arab, morfologi ini disebut tasrif, yaitu perubahan suatu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentuk untuk mendapatkan makna yang berbeda (baru). Tanpa perubahan bentuk ini, maka yang berbeda tidak akan terbentuk (Alwasilah, 1985, hlm. 101).

Dari berbagai pendapat ahli mengenai pengertian morfologi di atas dapat disimpulkan morfologi adalah cabang linguistik yang mengkaji tentang seluk-beluk bentuk dan pembentukan kata hingga berbagai fungsi perubahan-perubahan bentuk kata tersebut untuk mendapatkan makna yang berbeda.

Morfem dan Kata

Lalu apa yang menjadi objek kajian morfologi? Tentunya kata. Namun, sebetulnya kata sendiri dibentuk melalui sesuatu yang lebih kecil sebelum menjadi kata. Sesuatu yang dimaksud tersebut adalah morfem.

Morfem

Morfem adalah satuan terkecil bahasa yang memiliki pengertian dalam suatu ujaran. Seperti yang dikemukakan oleh Hocket (1958, hlm. 123 dalam Tarigan 1987, hlm. 6) morfem adalah unsur terkecil yang secara individual mengandung pengertian dalam ujaran suatu bahasa.

Lalu seperti apa morfem itu? Dapat berupa imbuhan atau kata, misalnya: ber-, di-, juang. Keraf (1987, hlm. 51) membedakan morfem menjadi dua, yaitu:

  1. morfem bebas yang dapat langsung membentuk sebuah kalimat atau morfem yang dapat berdiri sendiri;
  2. morfem terikat yang tidak dapat langsung membina sebuah kalimat, tetapi selalu terikat dengan morfem lain.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel di bawah ini.

Morfem BebasMorfem Terikat
Rumahdi-
JalanBer-
SepedaJuang

Ya, kata adalah morfem juga atau lebih tepatnya merupakan morfem bebas karena kata dapat berdiri sendiri tanpa morfem lain. Sementara itu, afiks (imbuhan) di- dan ber- merupakan morfem terikat karena harus digabungkan dengan morfem lain.

Contoh analisis sederhana morfem adalah sebagai berikut:

  1. Bersepeda -> ber- dan sepeda (dua morfem)
  2. Bersepeda ke luar kota -> ber-, sepeda, ke, luar, kota (lima morfem).

Morfem, Morf, dan Alomorf

Morfem dilambangkan dengan pengapit tanda kurung kurawal { … }. Kata “buat” sebagai sebuah morfem dilambangkan dengan: {buat}, sementara kata “buatkan” dibentuk dari {buat} + {-kan}. Namun, pada kenyataannya, morfem juga merupakan sesuatu yang abstrak. Morfem {meng-} misalnya, bentuk konkretnya sangat bervariasi. Contohnya:

  1. {meng-} + {bawa} > membawa [məm + bawa]
  2. {meng-} + {dengar} > mendengar [mən + dəŋar]
  3. {meng-} + {sapu} > menyapu [məɲ + sapu]
  4. {meng-} + {gapai} > menggapai [məŋ + gapaɪ]
  5. {meng-} + {lukis} > melukis [məø + lukɪs]

Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa morfem {meng-} memiliki banyak varian, tepatnya lima varian. Varian-varian tersebut disebut dengan istilah alomorf. Sederhananya, alomorf adalah variasi dari morfem ().

Di antara alomorf-alomorf di atas yang dianggap paling mewakili adalah morfem {meng-} itu sendiri. Bentuk yang paling mewakili ini disebut dengan istilah morf, yang umumnya langsung dijadikan nama morfem itu sendiri.

Alomorf dari morfem {meng-} dianggap sebagai morf karena distribusinya luas, yakni dapat diikuti oleh konsonan velar (k, g), konsonan faringal (h), dan semua vokal (i, e, a, ə, u, o). Contoh lain dari morfem yang memiliki alomorf dan morf adalah morfem {ber-}.

  1. ubah + {ber-} > berubah
  2. ajar + {ber-} > belajar
  3. rupa + {ber-} > berupa

Klasifikasi Morfem

Morfem dapat dikelompokkan menjadi beberapa klasifikasi, meliputi:

1. Morfem bebas dan terikat

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, morfem bebas adalah morfem yang mampu berdiri sendiri sebagai kata atau membentuk sebuah kata (Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 52). Morfem mandi, duduk, dan makan, masing-masing merupakan kata yang dapat langsung menjadi unsur kalimat, seperti terlihat pada kalimat:

  1. Adik sudah mandi
  2. Dia duduk di teras
  3. Anak itu makan sepotong roti

Ketiga morfem di atas dapat digolongkan sebagai morfem bebas. Pada dasarnya semua kata dasar atau kata monomorfemis dapat digolongkan sebagai morfem bebas.

Morfem terikat adalah morfem yang tidak mampu berdiri sendiri dalam artian harus bergabung atau terikat dengan morfem lain dalam membentuk sebuah kata (Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 52). Contohnya adalah sebagai berikut:

  1. Pada kata bersembahyang, morfem terikat {ber-} bergabung dengan satu morfem bebas {sembahyang};
  2. Dalam kata ketidakhadiran, morfem terikat {ke-/-an} bergabung dengan dua morfem bebas, yakni morfem {tidak} dan {hadir};
  3. Morfem terikat {ber-} dapat bergabung dengan morfem terikat {juang} untuk membentuk kata berjuang.

2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem yang keseluruhan komponennya menyatu atau utuh dalam suatu posisi (Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 53). Kata minuman terdiri atas dua morfem, yakni morfem bebas {minum} dan morfem terikat {-an}. Masing-masing morfem tersebut tergolong morfem utuh.

Morfem terbagi adalah morfem yang posisi komponennya terpisah (Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 53). Morfem terikat {per-/-an} pada kata perburuan, misalnya, disela oleh morfem bebas {buru} sehingga komponennya terpisah atau terbagi, yakni sebagian berada di depan bentuk dasar dan sebagian di belakang bentuk dasar.

3. Morfem dasar, morfem pangkal, dan morfem akar

Morfem dasar adalah bentuk yang menjadi dasar bentukan dalam proses morfologis (Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 54). Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal seperi: gambar, main, dsb. Dalam bahasa Indonesia, gambar dan main merupakan morfem tunggal yang menjadi bentuk dasar dari kata bermain dan mainan, serta bergambar dan menggambar,

Morfem dasar juga dapat berupa gabungan morfem seperti: perbudak. Morfem dasar perbudak (gabungan dari morfem bebas budak dan morfem terikat per-) menjadi dasar bentukan memperbudak.

Sementara itu, morfem pangkal (stema) adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan bentuk dasar dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afiks inflektif (Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 54). Dalam bahasa Indonesia, morfem pangkal dapat dilihat pada kata main yang dibubuhi afiks ber menjadi bermain.

Morfem pangkal dari kata bermain adalah main yang merupakan morfem berkategori verba. Ketika dibubuhi afiks ber-, morfem pangkal menjadi morfem berimbuhan yang tetap berkategori verba. Jadi, morfem pangkal merupakan bentuk dasar dari bentukan yang lebih tinggi dengan tetap memepertahankan kategori kata yang dimiliki oleh morfem pangkal.

Selanjutnya, bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya ditanggalkan, baik afiks infleksional maupun afiks deverensionalnya disebut dengan morfem akar (Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 55). Contohnya, dalam bahasa Indonesia memperbaiki merupakan morfem berimbuhan yang memiliki morfem akar. Baik yang mengalami proses afiksasi dengan penambahan morfem per-i menjadi perbaiki, lalu perbaiki ditambah morfem terikat mem- menjadi memperbaiki.

Kata

Kata adalah bentuk bebas yang paling kecil (Bloomfield, 1995, hlm. 178). Namun, morfem mungkin merupakan keseluruhan kata atau merupakan bagian dari suatu kata. Sehingga, dapat dikatakan pula bahwa kemungkinan besar, sebetulnya morfemlah satuan kata yang paling kecil.

Perbedaan utama dari morfem dan kata adalah kata dapat berdiri sendiri serta dapat membentuk suatu makna bebas. Sebagai satuan gramatik, kata terdiri dari satu atau beberapa morfem.

Sebuah kata dapat berupa bentuk tunggal atau terdiri atas satu satuan gramatikal dan dapat pula berupa bentuk kompleks atau terdiri atas beberapa satuan gramatikal. Dalam artian bentuk kompleks ini dibangun oleh satuan gramatikal yang lebih kecil.

Klasifikasi Kata

Dengan melihat jumlah morfem yang membentuknya kata dapat dibedakan menjadi:

  1. kata monomorfemis, yaitu yang terdiri atas satu morfem seperti: meja, burung, pohon, nasi, ibu
  2. kata polimorfemis yaitu kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih, contohnya: membeli, kue-kue, makanan, jejaring, duduklah, rumah makan, temanmu, mitra kerja.

Satuan Gramatik Lainnya

Morfem, kata, frasa, klausa, dsb disebut sebagai satuan gramatika atau gramatika. Satuan gramatik adalah satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatikal. Tentunya, untuk memahami morfologi yang membahas bentuk dan pembentukan kata, pemahaman terhadap satuan gramatika menjadi sangat penting.

Namun, beberapa satuan gramatika lebih relevan terhadap cabang linguistik yang lain seperti sintaksis dan semantik. Fokus utama morfologi adalah morfem dan kata. Satuan gramatika lainnya dapat dipelajari pada artikel di bawah ini.

Baca juga:  Pengertian Kata, Frasa, Klausa, dan Satuan Gramatik Lainnya

Proses Morfologis

Proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (Ramlan, 2009, hlm. 51). Selanjutnya, Ramlan (2009, hlm.51-82) juga membagi proses ini menjadi beberapa klasifikasi, meliputi: afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Berikut adalah penjelasannya.

Afiksasi

Afiksasi dalah proses pembubuhan afiks (imbuhan) pada sebuah morfem dasar atau bentuk dasar (Dhanawaty, 2017, hlm. 58). Proses ini melibatkan unsur-unsur dasar atau bentuk dasar, afiks, dan makna gramatikal yang dihasilkannya. Contoh afiksasi sesederhana:

  1. ubah + {ber-} > berubah
  2. ajar + {ber-} > belajar
  3. rupa + {ber-} > berupa

Dilihat dari posisi melekatnya bentuk dasar, afiks dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

  1. Prefiks, adalah afiks yang diimbuhkan di awal bentuk dasar, seperti me- pada kata menghibur. Prefiks dapat muncul bersama dengan sufiks atau afiks lain. Misalnya, prefiks ber- bersama sufiks -kan pada kata berdasarkan
  2. Infiks, adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya infiks -el- pada kata telunjuk dan -er- pada kata seruling.
  3. Sufiks, adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar. Umpamanya, dalam bahasa Indonesia, sufiks -an pada kata bagian dan sufiks -kan pada kata bagaikan.
  4. Konfiks, adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia, ada konfiks per-/-an seperti terdapat pada kata pertemuan, konfiks ke-/-an seperti pada kata keterangan, dan konfiks ber-/-an seperti pada kata berciuman.
  5. Sirkumfiks, adalah gabungan afiks yang bukan konfiks, seperti ber-/-an pada kata beraturan yang memiliki makna ‘mempunyai aturan’.

Reduplikasi

Ramlan (2009, hlm. 63) mengemukakan bahwa proses reduplikasi atau pengulangan adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan tersebut disebut kata ulang (terumasuk kata majemuk), sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar.

Terdapat beberapa jenis reduplikasi, yakni:

  1. Pengulangan seluruh, ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, contohnya: sepeda menjadi sepeda-sepeda, pohon menjadi pohon-pohon.
  2. Pengulangan sebagian, merupakan pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Hampir semua bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk kompleks, seperti: mengambil menjadi mengambil-ambil, berjalan menjadi berjalan-jalan.
  3. Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, dalam jenis ini bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Artinya, pengulangan itu terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung suatu fungsi, contohnya: kereta menjadi kereta-keretaan, pohon menjadi pohon-pohonan.
  4. Pengulangan dengan perubahan fonem, sebetulnya pengulaman yang termasuk dalam golongan ini sangatlah Contohnya: bolak-balik yang dibentuk dari dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem /a/ menjadi /o/, dan dari /i/ menjadi /a/.

Komposisi (Kata Majemuk)

Komposisi atau kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya (Dhanawaty, dkk, 2017, hlm. 61). Untuk lebih jelas, perhatikan contoh berikut.

KomposisiBukan Komposisi
Mata hatiMata kiri
MatahariMata adik
Kamar mandiAdik mandi

Kata majemuk dikelompokan menjadi dua jenis, yakni kata majemuk setara, dan kata majemuk tak setara. Berikut adalah penjelasannya.

Kata majemuk setara

Disebut juga sebagai kata majemuk kompulatif atau kata majemuk gabungan, yakni kata majemuk yang bagianbagianya sederajat. Kata majemuk setara terbagi lagi menjadi beberapa jenis, sebagai berikut.

  1. Bagian-bagianya terdiri dari wakil-wakil keseluruhan yang dimaksud, misalnya: kaki tangan, tikar bantal, orangnya tua.
  2. Bagian-bagianya terdiri dari kata-kata yang berlawanan, misalnya: besar kecil, tua muda, tinggi rendah.
  3. Bagian-bagianya terdiri dari kata-kata yang maknanya hampir sama, misalnya panjang lebar, susah payah, hancur lebur.

Kata majemuk tak setara

Disebut juga kata majemuk determinatif, yaitu kata majemuk yang tidak mempunyai inti, terdiri dari:

  1. Kata majemuk dengan susunan DM (Diterangkan Menerangkan), misalnya: raja muda, orang tua, rumah obat.
  2. Kata majemuk dengan susunan MD (Menerangkan Diterangkan), misalnya purbakala, bumiputera, maharaja (kata majemuk seperti ini juga disebut rangkaian sansekerta)

Morfofonemik

Proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal yang dilekatinya dinamakan proses morfofonemik (Alwi dkk., 2010, hlm. 113). Proses morfofonemik juga mengatakan bahwa suatu morfem dapat berubah bentuk dasarnya sebagai akibat pertemuan morfem tersebut dengan morfem yang lainnya.

Jenis Morfofonemik

Umumnya dalam berbagai bahasa terdapat tiga proses morfofonemik yang meliputi: proses perubahan fonem, proses penambahan fonem, dan proses hilangnya fonem. Berikut adalah penjelasannya.

Proses Perubahan Fonem

Proses perubahan fonem, misalnya terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meng- dan peng- dengan bentuk dasarnya. Misalnya, morfem meng- berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-, dan morfem pe- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, dan peng-.

Apa yang terjadi pada contoh di atas adalah perubahan fonem /ŋ/ menjadi /m, n, n, n. Berikut adalah kaidah-kaidahan perubahan fonem dalam bahasa Indonesia.

  1. Fonem /ŋ/ pada morfem meng- dan peng- berubah menjadi fonem /m/ jika bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /p, b, f/, contohnya: meng- + paksa > memaksa, meng- + bantu > membantu, meng- + fitnah >
  2. Fonem /ŋ/ pada meng- dan peng- berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t,d,s/. Contohnya adalah: meng- + tulis > menulis, peng- + dengar > pendengar, meng- + survey > mensurvei.
  3. Fonem /ŋ/ pada morfem meng- dan peng- berubah menjadi /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /s, c, j/, seperti: meng- + sapu > menyapu, peng- + cemas > pencemas, meng- + jadi > menjadi.
  4. Fonem /ŋ/ pada meng- dan peng- berubah menjadi /η/ jika bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k, g, x, h, dan vokal/, contohnya: meng- + kacau > mengacau, meng- + garis > menggaris, meng- + khianati > mengkhianati, peng- + hias > penghias, meng- + angkut >

Proses Penambahan Fonem

Proses penambahan fonem antara lain terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meng- dan peng- dengan bentuk dasarnya yang terdiri atas satu suku kata. Fonem tambahanya ialah /∂/ sehingga meng- berubah menjadi  menge dan peng- berubah menjadi penge-. Misalnya: meng- + bor menjadi mengebor, peng- + cat menjadi pengecat.

Proses Pelesapan Fonem

Pelesapan atau penghilangan fonem terjadi misalnya ketika fonem /ŋ/ pada meng- (dan peng-) terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meng- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y, w, dan nasal/, seperti pada contoh di bawah ini.

  1. meng- + lerai > melerai
  2. meng- + ramalkan > maramalkan
  3. meng- + yakinkan > meyakinkan
  4. meng- + wakili > mewakili
  5. meng- + merahi > memerahi
  6. meng- + nyanyi > menyanyi

Fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- lesap sebagai akibat pertemuan morfem itu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /∂/. Contohnya:

  1. ber- + rapat > berapat
  2. ber- + kerja > bekerja
  3. per- + ragakan > peragakan
  4. ter- + rasa > terasa

Fonem-fonem /p,t,s,k/ pada awal morfem hilang akibat pertemuan morfem meng- dan peng- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem itu. Misalnya:

  1. meng- + paksa > memaksa
  2. meng- + tulis > menulis
  3. peng- + sapu > penyapu
  4. peng- + karang > pengarang

Referensi

  1. Alwasilah, A. Chaedar. (1985). Beberapa Mazdhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung : Angkasa.
  2. Alwi, Hasan dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  3. Bloomfield, Leonard. (1995). Language. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  4. Chaer, Abdul. (2015). Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.
  5. Dhanawaty, N.M., Satyawati, M.S., Widarsini, N.P.N. (2017). Pengantar linguistik umum. Denpasar: Pustaka Larasan.
  6. O’grady, William. (1997). Contemporary Linguistics an Introduction: Third Edition. United Kingdom.
  7. Ramlan, M. (2009). Morfologi Suatu Tinjauan Deskripsi. Yogyakarta: CV Karyono.
  8. Tarigan. (1987). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
  9. Verhaar, J.W.M. (1984). Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *