Perilaku manusia atau sering disebut sebagai tingkah laku manusia pula merupakan salah satu objek utama dari studi psikologi. Bahkan, menurut Warsah & Daheri (2021, hlm. 12) maksud utama bidang studi psikologi adalah untuk mengetahui pola tingkah laku manusia, bukan hanya untuk digeneralisasi, melainkan lebih dari itu, yakni untuk mengetahui sejauh mana seseorang itu berbeda dari yang lain atau sejauh mana manusia itu unik.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengetahui apa itu perilaku manusia, bagaimana proses pembentukannya, dan faktor-faktor apa saja yang memengaruhinya. Berikut adalah berbagai pemaparan mengenai subjek-subjek yang berkaitan dengan perilaku atau tingkah laku manusia.

Perilaku Manusia

Perilaku manusia adalah gerakan yang dapat dilihat melalui indera manusia, gerakan yang dapat diobservasi (Saleh, 2018, hlm. 135). Artinya, berbeda dengan jiwa yang abstrak dan tidak dapat diamati secara langsung, perilaku adalah hal konkret yang dapat diamati karena bentuknya dapat dirasakan secara indrawi dan dialami secara nyata (empiris). Dengan demikian, tidak heran apabila para behavioris hanya mengakui perilaku sebagai objek yang dapat dianalisis oleh psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang memang harus bersifat empiris.

Namun demikian, sebagai makhluk yang kompleks, perilaku manusia tidak muncul begitu saja. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku manusia. Namun, secara intrinsik, perilaku manusia secara umum muncul sebagai akibat dari sistematika atau formulasi berikut ini.

NIAT + PENGETAHUAN + SIKAP = PERILAKU

Dengan keterangan:

  1. Niat adalah sebagai keinginan yang berasal dari dalam diri individu untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu yang hendak dilakukan. Ini merupakan penggerak utama dalam terbentuknya perilaku.
  2. Pengetahuan dipahami sebagai segala sesuatu yang dipahami. Prosesnya dilakukan dengan mencari tahu dan melalui pengalaman.
  3. Sikap dipahami sebagai pernyataan dalam diri individu untuk melakukan sesuatu. Pendirian atau keyakinan yang muncul karena adanya pengetahuan akan hal tersebut. Inilah yang akan termanifestasi dalam bentuk perilaku (Saleh, 2018, hlm. 135).

Perilaku atau aktivitas yang ada pada individu juga tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu itu. Perilaku atau aktivitas itu merupakan jawaban atau respons terhadap stimulus yang mengenainya.

Keadaan ini dapat diformulasikan sebagai:

R= F(S,O),

dengan pengertian bahwa:

R adalah respons;

F = Fungsi;

S = stimulus, dan

O = organisme.

Formulasi tersebut menunjukkan bahwa respons merupakan fungsi yang bergantung pada stimulus dan organisme (Woodworth dan Scholosberg, 1971 dalam Saleh, 2018, hlm. 135).

Teori Perilaku Manusia

Perihal bagaimana terbentuk, penyebab, hingga apa hakikat dari perilaku manusia sendiri sebetulnya masih terus mendapatkan banyak dialog dan perdebatan dari para ahli. Beberapa teori mengenai perilaku manusia yang hingga kini masih berpengaruh besar di antaranya adalah sebagai berikut.

Teori Insting

Teori ini dikemukakan oleh McDougall, Menurut McDougall perilaku itu disebabkan karena insting. Insting merupakan perilaku yang innate, perilaku bawaan, dan insting akan mengalami perubahan karena pengalaman.

Teori dorongan (Drive Theory)

Teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa individu mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan-dorongan ini berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme yang mendorong individu berperilaku. Jika seseorang mempunyai kebutuhan, dan ingin memenuhi kebutuhannya maka akan terjadi ketegangan dalam diri orang tersebut. Sementara itu, jika individu berperilaku dan dapat memenuhi kebutuhannya, maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan tersebut. Karena itu teori ini menurut Hull (Hergenhahn, 1976) juga disebut teori drive reduction.

Teori Insentif (Insentive Theory)

Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa perilaku manusia disebabkan karena adanya insentif. Dengan insentif akan mendorong manusia berbuat atau berperilaku. Insentif terdiri atas insentif positif dan negatif. Insentif positif berkaitan dengan hadiah, sedangkan yang negatif berkaitan dengan hukuman. Insentif positif akan mendorong manusia dalam berbuat, sedangkan yang negatif akan dapat menghambat dalam manusia berperilaku. Dengan demikian, perilaku timbul karena adanya insentif.

Teori Atribusi

Teori ini ingin menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku manusia. Apakah perilaku itu disebabkan disposisi internal (misal motif, sikap) ataukah oleh keadaan eksternal.

Teori Kognitif

Apabila seseorang harus memilih perilaku mana yang ingin dilakukan, maka pada umumnya individu tersebut akan memilih alternatif perilaku yang akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi individu itu. Hal Ini disebut sebagai model subjective expected utility (SEU) (lih. Fishbein dan Ajzen, 1975 dalam Saleh, 2018, hlm. 142).

Dengan kemampuan memilih ini berarti faktor berpikir berperan dalam menentukan pilihannya. Melalui kemampuan berpikir, seseorang dapat melihat apa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangannya di samping melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam seseorang bertindak. Dalam model SEU kepentingan pribadi adalah hal yang paling menonjol, akan tetapi terkadang kepentingan pribadi dapat disingkirkan pula.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia

Tentunya, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi dinamika perilaku manusia dalam perspektif psikologi. Menurut Daryanto (2016, hlm. 337), terdapat dua faktor yang mempengaruhi perilaku manusia, yaitu faktor biologis dan faktor sosiopsikologis

  1. Faktor Biologis
    Perilaku manusia dipengaruhi oleh warisan biologis dari orang tua. Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson (dalam Daryanto, 2016) perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam jiwa manusia.
  2. Faktor Sosiopsikologis
    Manusia merupakan makhluk sosial maka perilakunya dipengaruhi oleh proses sosial. Faktor sosiopsikologis dapat di klasifikasikan ke dalam tiga komponen, yakni: a) Komponen afektif adalah aspek emosional dari faktor sosiopsikologis; b) Komponen kognitif yaitu aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia; c) Komponen konatif merupakan aspek volisional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

Sementara itu menurut Sunaryo (dalam Hartini dkk, 2021, hlm. 14) faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia terbagi atas tiga faktor utama, yakni faktor genetik, eksogen, dan faktor lainnya yang akan dijelaskan sebagai berikut.

1. Faktor Genetik

Faktor genetik maksudnya adalah faktor yang berasal dari dalam diri seorang yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Ras
    Setiap negara di belahan dunia memiliki ciri khas dan ras yang berbeda-beda antara negara yang satu dan negara yang lain. Negara Indonesia memiliki berbagai jenis ras, beragam tradisi dan adat istiadat, bahasa, suku, etnis serta kaya akan budaya yang menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk yang menjunjung tinggi keberagaman. Keberagaman ras dapat dikenali melalui karakteristik dan ciri fisik seseorang yang dapat diidentifikasi secara langsung. Contoh, ras melanesoid yang tersebar di kawasan timur Indonesia.
  2. Jenis Kelamin
    Perilaku antara pria dan wanita berbeda. Pria dikenal sebagai makhluk yang tegas lebih cenderung berperilaku sesuai dengan pertimbangan akal, sedangkan wanita adalah sosok lembut dan lebih cenderung menggunakan perasaan di dalam sikap dan tindakan, dalam memutuskan sesuatu wanita menggunakan perasaan dan emosinya.
  3. Sifat Fisik
    Perilaku individu juga dipengaruhi bentuk fisiknya, seseorang yang memiliki bentuk tubuh yang proporsional cenderung lebih percaya diri di dalam pergaulan sosialnya.
  4. Kepribadian
    Kepribadian (personality) merupakan bentuk perilaku yang ditunjukkan oleh individu dalam interaksi dan adaptasinya dengan lingkungannya.
  5. Bakat dan Minat
    Bakat merupakan sebuah proses yang memadukan antara kemampuan yang dimiliki individu dengan kesempatan untuk mengembangkan aktivitas yang diminatinya. Seorang anak yang memiliki bakat tertentu dan tidak memiliki wadah untuk mengembangkan dan mengeksplorasi kemampuannya, maka anak tersebut mengalami gangguan perilaku sehingga disebut anak nakal.
  6. Kecerdasan
    Kecerdasan atau intelegensi merupakan kemampuan individu di dalam mencerna informasi dan memecahkan sebuah persoalan. Tingkat kecerdasan individu dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor genetik dan gizi. Seseorang yang cerdas memiliki daya tangkap yang cepat, mengambil keputusan cepat dan bertindak tepat dibandingkan dengan seorang yang kurang cerdas. Tingkat kemampuan atau intelegensi seseorang terdiri atas 9 kemampuan yang disebut (multiple intelegence) yaitu kemampuan linguistic, mathematic-logis, ruang, kineetik-badani, musical, interpersonal, intrapersonal, naturalis, serta eksistensi (Gardner, 1983)

2. Faktor Eksogen

Faktor eksogen adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yang berasal dari luar diri individu yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Usia
    Usia merupakan salah satu faktor penting di dalam menentukan sikap dan perilaku individu. Usia juga dapat menentukan kinerja seseorang di dalam bekerja, pada tingkat usia yang relatif muda produktivitas kerja juga semakin tinggi, tetapi pada tingkat kematangan usia tertentu biasanya produktivitas menjadi menurun.
  2. Pendidikan
    Tingkat pengetahuan dapat menentukan perilaku individu, proses belajar melalui pendidikan baik jalur formal maupun non formal dilakukan dengan tujuan ingin tahu, pengetahuan yang luas, kesadaran yang tinggi, sikap yang positif akan berpengaruh terhadap langgengnya sebuah perilaku.
  3. Pekerjaan
    Seseorang yang bekerja cenderung menghabiskan waktu di tempat kerja, terjebak dengan rutinitas dan tugas-tugas sehingga kadang lupa untuk menjaga pola hidup sehat yang diperoleh dengan beristirahat yang cukup dan berolahraga. Antara orang yang memiliki kesibukan dengan orang yang tidak bekerja tentu memiliki pula perbedaan dalam perilaku atau sikapnya.
  4. Agama
    Agama merupakan hal yang mendasar berupa nilai dan keyakinan yang dianut individu bukan saja berpengaruh terhadap perilaku tetapi juga turut mempengaruhi cara pandang, cara berpikir, serta sikap yang ditunjukkan dalam kehidupan sosialnya.
  5. Sosial Ekonomi
    Kedudukan individu dalam masyarakat ditentukan oleh strata sosial dan tingkat ekonomi. Gaya hidup seseorang mencerminkan tingkat penghasilan yang diperoleh. Orang dengan pendapatan tinggi memiliki gaya hidup mewah dengan fasilitas lengkap sebagai penunjang tingginya derajat sosial seseorang yang semuanya akan memberikan pengaruh terhadap pola perilakunya.
  6. Kebudayaan
    Kebudayaan merupakan seperangkat norma yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tertentu secara turun temurun yang dapat melahirkan perilaku. Budaya setiap daerah sangat beraneka ragam dan dalam bentuk yang abstrak seperti adat istiadat, kesenian, keyakinan, hukum, moral, serta susila.
  7. Lingkungan
    Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian seseorang baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

3. Faktor Lainnya

Terdapat beberapa faktor lain yang turut berpengaruh terhadap perilaku individu yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Susunan Saraf Pusat
    Stimulus yang diterima diantarkan ke sistem saraf tepi melalui neuron yang akhirnya berubah menjadi sebuah perilaku individu.
  2. Persepsi
    Persepsi merupakan proses penginderaan yang dimulai dari perhatian atau hasil pengamatan mengenai obyek dan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya.
  3. Emosi
    Emosi merupakan reaksi tubuh atau perubahan fisiologis dalam menghadapi kondisi tertentu. Emosi dapat mendorong individu untuk berperilaku atau bertindak sebagai akibat adanya stimulus yang diterimanya. misalnya perasaan marah ketika diganggu oleh orang lain.

Macam-Macam Perilaku Manusia

Menurut Saleh (2018, hlm. 138) perilaku manusia dapat dibedakan atas perilaku refleksif dan perilaku non-refleksif. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis perilaku manusia.

Perilaku Refleksif

Perilaku refleksif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan (tanpa dipikir) terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut (Saleh, 2018, hlm. 139). Contohnya adalah reaksi kedip mata bila kena sinar, gerak lutut bila kena sentuhan palu, menarik jari bila kena api. Stimulus yang diterima oleh individu tidak smpai ke pusat susunan syaraf atau otak, sebagai pusat kesadaran, pusat pengendali, dari perilaku manusia. Perilaku yang refleksif respons langsung timbul begitu menerima stimulus.

Perilaku Non-refleksif

Perilaku non-refleksif adalah perilaku yang dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak (Saleh, 2018, hlm. 139). Dalam kaitan ini stimulus setelah diterima oleh reseptor (penerima) kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat syaraf, pusat kesadaran, baru kemudian terjadi respons melalui afektor. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat kesadaran ini yang disebut proses psikologi. Perilaku atau aktivitas atas dasar proses psikologis inilah yang disebut aktivitas psikologi atau perilaku psikologis (Branca, 1965, dalam Saleh, 2018, hlm. 139).

Referensi

  1. Daryanto. (2016). Teori Komunikasi. Yogyakarta: Gava Media.
  2. Hartini dkk (2021). Perilaku organisasi. Bandung: Widina Bhakti Persada.
  3. Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.
  4. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.