Psikologi perkembangan merupakan bidang kajian yang melibatkan banyak pihak dari berbagai bidang studi. Dibutuhkan dialog dari berbagai ide dan konsep-konsep intelektual yang diperkuat oleh eksperimen dan penelitian untuk mengumpulkan sumber valid dan ilmiah untuk menyusunnya. Hal ini juga dilakukan karena psikologi perkembangan memiliki urgensi yang sangat universal terhadap berbagai ilmu pengetahuan, baik itu psikologi secara umum, pendidikan, ilmu kesehatan, hingga kesejahteraan mental keluarga, dan sebagainya.

Ambil contoh dengan memahami perkembangan individu dan mengetahui fase-fasenya dalam dunia pendidikan maka kita dapat menyusun kurikulum, pendekatan, model, materi serta sarana dan alat-alat yang sesuai dengan situasi dan kondisi anak yang akan dididik. Sementara itu  bagi orangtua dengan mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak mereka akan mengetahui pendekatan atau cara asuh seperti apa yang baik untuk diterapkan pada fase perkembangan anaknya.

Para psikolog, bimbingan konseling, psikiatris, atau terapis mental lainnya akan mampu memberikan berbagai model pelayanan pada anak secara psikologis sampai usia remaja, dan umur-umur lainnya, sehingga setiap individu diharapkan dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik dalam setiap tahapnya. Secara keilmuan baik untuk para pendidik maupun peneliti psikologi perkembangan juga dapat membuka Horison baru untuk memperluas khazanah pengetahuan mengenai manusia untuk manusia itu sendiri.

Oleh karena itu tak heran rasanya apabila psikologi perkembangan merupakan bidang kajian penting yang dipelajari baik untuk para pakar psikologi, pendidikan, maupun ilmu kesehatan. Berikut adalah berbagai konsep dasar, materi, dan teori psikologi perkembangan, dimulai dari hakikat dan pengertiannya sendiri.

Pengertian Psikologi Perkembangan

Psikologi berasal dari kata psyche dan logos yang berarti “jiwa” dan “ilmu”. Dengan demikian psikologi dapat diartikan sebagai ilmu kejiwaan atau proses mental manusia. Sedangkan perkembangan mengacu pada serangkaian perubahan bertahap yang terjadi sebagai akibat dari proses pematangan dan pengalaman (Harlock, 1980). Dapat dikatakan bahwa psikologi perkembangan adalah ilmu kejiwaan atau proses mental manusia dari sisi serangkaian perubahan bertahap yang terjadi sebagai akibat dari proses pematangan dan pengalaman hidupnya.

Sementara itu menurut Aljuhari (2019, hlm. 6) Psikologi perkembangan adalah suatu cabang dari psikologi yang membahas tentang gejala jiwa seseorang baik menyangkut perkembangan atau kemunduran perilaku seseorang sejak masa konsepsi hingga dewasa. Dengan demikian psikologi perkembangan juga dapat diartikan sebagi suatu ilmu psikologi yang membahas tentang masalah masalah perkembangan manusia mulai dari usia awal pembentukan sampai usia akhir.

Selanjutnya para ahli psikologi, pendidikan, dan ilmu kesehatan lainnya juga tentu memiliki berbagai pandangan berbeda yang mungkin bisa jadi mengacu ke arah yang sama. Beberapa pendapat tersebut dapat memberikan makna lebih bagi pemahaman mengenai psikologi perkembangan.

Psikologi Perkembangan menurut Para Ahli

Beberapa definisi psikologi perkembangan menurut para ahli tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Menurut Prof. Dr. F.J. Monks, Prof. Dr. A.M.P. Knoers, dan Prof. Dr. Siti Rahayu Haditoro, psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang mempersoalkan faktor-faktor umum yang mempengaruhi proses perkembangan yang terjadi dalam diri pribadi seseorang dengan menitikberatkan pada relasi antara kepribadian dan perkembangan”.
  2. Menurut Dra. Kartini Kartono, psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang dimulai dengan priode masa bayi, anak pemain, anak sekolah, masa remaja, sampai periode adolesen menjelang dewasa.
  3. Carter V. Good dalam dictionary of education berpendapat bahwa psikologi perkembangan adalah cabang dari psikologi yang membahas tentang arah atau tahapan kemajuan dari prilaku dengan mempertimbangkan phylogenetic dan ontogenetic, termasuk semua fase pertumbuhan dan penurunan. Hal ini berarti adanya pembatasan yang lebih luas dari pengertian ilmu jiwa keturunan, walaupun bentuk dan polanya ada persamaanya serta dapat dipertukarkan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa psikologi perkembangan adalah cabang ilmu psikologi yang secara spesifik mengkaji gejala jiwa atau proses mental manusia baik menyangkut pertumbuhan, perkembangan, atau kenaikan dan kemunduran perilaku manusia sepanjang rentang kehidupannya.

Ruang Lingkup Psikologi Perkembangan

Ruang lingkup dari pembahasan ilmu psikologi perkembangan dapat ditarik dari berbagai pengertiannya sendiri yang telah diuraikan sebelumnya. Dari berbagai uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup psikologi perkembangan menyangkut:

  1. cabang ilmu psikologi itu sendiri,
  2. objek pembahasannya adalah perilaku atau gejala jiwa seseorang, dan
  3. tahapannya dimulai dari masa konsepsi hingga masa dewasa (Aljuhari, 2019, hlm. 7).

Secara spesifik beberapa tujuan atau berbagai hal yang ingin dikuak melalui kajian dan penelitian psikologi perkembangan dapat mencakup:

  1. Untuk memahami dasar, pola umum perkembangan, dan pertumbuhan anak pada tiap-tiap fasenya;
  2. Bagaimana untuk mengarahkan seseorang untuk berbuat dan berperilaku yang selaras dengan tingkat perkembangan orang lain;
  3. Bagaimana cara memunculkan sikap senang bergaul dengan orang lain terutama anak-anak, remaja, dengan penuh perhatian kepada mereka baik dalam lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat;
  4. Dalam bidang pendidikan, bagaimana pendidik dapat memahami dan memberikan bimbingan kepada anak, sejalan dengan taraf perkembangan anak didiknya, sehingga proses pendidikan anak berjalan dengan sukses dalam pencapai tujuannya.

Secara struktural, berbagai konsepsi yang akan dibahas pada psikologi perkembangan manusia berdasarkan fase atau periode dari pranatal hingga dewasa akhir yang dijabarkan sebagai berikut.

  1. Perkembangan manusia pranatal (fisik ibu hamil dan janin).
  2. Periode usia 0-2 tahun.
  3. Periode pra-sekolah.
  4. Periode sekolah dasar.
  5. Periode remaja (aspek fisik dan psikologis).
  6. Permasalahan periode remaja.
  7. Periode usia dewasa awal.
  8. Periode usia dewasa madya.
  9. Periode usia dewasa akhir.

Selain itu, psikologi perkembangan juga akan membahas perkembangan intelegensi, metode penelitian psikologi perkembangan, dan teori-teori yang menyangkut bagaimana perkembangan manusia terjadi (nativisme, empirisme, dan gabungannya/konvergensi).

Teori Perkembangan

Bagaimana suatu perkembangan atau pertumbuhan dalam suatu individu terjadi? Apa saja yang mempengaruhi serta meningkatkan dan menyebabkan kemunduran perkembangan manusia? Terdapat beberapa teori yang menyokong permasalahan ini yang berujung pada fusi, sintesis, atau penggabungan dari gagasan keseluruhannya. Beberapa teori perkembangan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Teori Nativisme
    Pelapor teori nativisme adalah Arthur Schopenhaur yang berpendapat bahwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu sejak dilahirkan yang mempengaruhi dan menentukan keadaan individu yang bersangkutan. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh natives atau faktor-faktor bawaanmanusia sejak dilahirkan. Singkatnya, menurutnya apabila dari keturunan baik maka akan baik dan apa bila dari keturunan jahat maka akan menjadi jahat.
  2. Teori Empirisme
    Teori ini dikemukakan oleh Jonh Locke. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan seseorang akan ditentukan oleh empirinya atau pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Dalam pengertian pengalaman termasuk juga pendidikan yang diterima oleh individu yang bersangkutan. Menurut teori ini individu yang dilahirkan itu sebagai kertas atau meja yang putih bersih yang belum ada tulisan-tulisannya, apa pun dan siapa pun dapat mengisinya dengan berbagai sifat, sikap, dan perilaku yang akan mempengaruhi perkembangan individu tersebut.
  3. Teori Konvergensi
    Teori ini merupakan teori gabungan (konvergen) dari nativisme dan empirisme yang dikemukakan oleh Willian Stern. Menurut W. Stern, baik pembawaan maupun pengalaman atau lingkungan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu. Perkembangan individu akan ditentukan baik oleh faktor yang dibawa sejak lahir (faktor endogen) maupun faktor lingkungan (termasuk pengalaman dan pendidikan) yang merupakan faktor eksogen.

Perkembangan Masa Hidup (Life Span Development)

Perkembangan tidak melulu membicarakan permasalahan perkembangan anak atau pada usia tertentu saja. Nyatanya perkembangan akan terjadi terhadap manusia tanpa henti, fase-fase yang menyelubunginya hanyalah batasan untuk alat bantu analisis saja. Lamanya hidup manusia (Life Span Development) itu dimulai dari kehamilan dan berlanjut melalui bayi baru lahir, anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia hingga kematian. Oleh karena itu, terdapat dialog besar mengenai teori perkembangan masa hidup atau life span development dalam psikologi perkembangan.

Perkembangan masa hidup atau pendekatan psikologi perkembangan sepanjang rentang kehidupan ini menganggap bahwa setiap orang di dunia juga pasti melalui aktivitas perkembangan pada suatu saat dalam hidupnya. Setiap tugas pengembangan harus diselesaikan sesuai dengan persyaratan fase pengembangan dan tidak boleh diabaikan. Hal ini karena jika suatu tugas perkembangan tidak diselesaikan pada suatu tahap tertentu, maka akan sulit bagi individu untuk menyelesaikan tugas perkembangan berikutnya.

8 Prinsip Perkembangan Masa Hidup

Berdasarkan dialog pendekatan Perkembangan Masa Hidup (life pan development) terdapat beberapa perubahan penting yang dialami individu terjadi selama masa kanak-kanak hingga dewasa. Teori Perkembangan Masa Hidup memiliki 8 sudut pandang atau prinsip terkait perkembangan individu tersebut yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Perkembangan adalah perubahan yang tidak terbatas, bebagai dimensi, multidireksional, multidisiplin, kontekstual, plastis dan melekat secara kesejarahan (Paul Baltes,1987).
  2. Perkembangan tidak dibatasi oleh usia, perkembangan menggabungkan keuntungan dan kerugian, yang berkomunikasi dengan kuat melalui tahap-tahap pembentukan.
  3. Perkembangan merupakan perubahan yang kompleks; meliputi aspek organik, mental dan sosial. Misalnya: ada sejumlah bagian intelegensi: abstrak, nonverbal, sosial.
  4. Perkembangan bersifat multi arah; beberapa aspek atau bagian dari suatu aspek mungkin meningkat dalam perkembangan, sementara aspek atau bagian yang berbeda menurun. Misalnya: orang dewasa semakin pintar dengan berbagai pengalaman, tetapi untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut kecepatan dalam menangani masalah lebih buruk.
  5. Perkembangan dapat dilihat dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu; berkonsentrasi pada kemajuan manusia dari berbagai disiplin ilmu.
  6. Perkembangan itu logis; orang-orang secara konsisten bereaksi dan bertindak berdasarkan latar yang menggabungkan organik, sosial, iklim aktual, latar sosial, sejarah.
  7. Perkembangan bersifat plastis (dapat beradaptasi); pemikiran dewasa dapat dikembangkan melalui pelatihan.
  8. perkembangan umumnya bawaan atau dipengaruhi oleh keadaan yang tercatat; misalnya pada wanita dewasa berusia 30 tahun pandangan arah pekerjaannya berbeda pada tahun 60-an dan 90-an (pada tahun 60-an wanita lebih banyak hanya ingin menjadi ibu rumah tangga, tahun 90-an mereka mulai lebih memperhatikan karir).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Individu

Perkembangan manusia tidak berlangsung secara mekanis-otomatis, sebab perkembangan yang terjadi sangatlah bergantung pada beberapa faktor secara simultan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu tersebut antara lain adalah:

  1. faktor herediter (warisan sejak lahir/bawaan),
  2. faktor lingkungan yang menguntungkan atau merugikan,
  3. kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis,
  4. aktivitas individu sebagai subyek bebas yang berkemauan, kapanpun seleksi, bisa menolak, atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri.

Faktor Turunan (Warisan)

Turunan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua ibu-bapak atau nenek dan kakek. Warisan (turunan atau pembawaan) tersebut yang terpenting, antara lain bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat atau watak dan penyakitnya. Beberapa faktor keturunan yang berpengaruh pada perkembangan anak atau individu meliputi:

  1. Bentuk tubuh, warna kulit dan rambut adalah salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir.
  2. Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah, nenek atau kakek.
  3. Intelegensi, yaitu kemampuan umum yang dimiliki seseorang untuk penyesuaian terhadap situasi atau masalah.
  4. Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol di antara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan khusus ini biasanya berbentuk keterampilan atau suatu bidang ilmu, misalnya kemampuan khusus (bakat) dalam bidang seni musik, seni suara, olah raga matematika, bahasa, ekonomi, teknik, keguruan, sosia, agama, dan sebangainya (Aljuhari, 2019, hlm. 12).

Faktor Lingkungan

Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Contoh dari lingkungan misalnya adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain sehari-hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora,dan sebagainya.

Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung pada keadaan lingkungan serta keadaan jasmani dan rohaninya sendiri. Beberapa lingkungan utama yang akan mempengaruhi perkembangan individu adalah sebagai berikut.

  1. Keluarga
    Keluarga merupakan tempat anak diasuh dan dibesarkan, berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan ekonomi rumah tangga serta tingkat kemampuan orang tua dalam merawat sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan jasmani anak. Kemampuan orang tua tentunya bersinggungan dengan kompetensinya sebagai manusia secara umum, oleh karena itu tingkat pendidikan orang tua juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan rohaniah anak, terutama kepribadian dan kemajuan pendidikannya.
  2. Sekolah
    Sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya. Anak yang tidak pernah sekolah akan tertinggal dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak karena di sekolah mereka dapat belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir serta kepribadian anak.
  3. Masyarakat
    Dapat ditebak bahwa masyarakat sekitar individu turut mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang. Mereka juga termasuk juga teman-teman anak di luar sekolah. Kondisi orang-orang di desa atau kota tempat tinggal ia juga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya. Contoh : dalam sebuah keluarga saling menghormati dan menyayangi, maka anggota keluarganya akan bersifat seperti itu.
  4. Keadaan alam sekitar
    Keadaan alam yang berbeda akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir atau kejiwaan dan tingkah laku seseorang. Contoh mudahnya adalah seseorang yang hidup di desa akan berbeda perilakunya dengan orang yang tumbuh di kota (Ajhuri, 2019, hlm. 14).

Hukum-Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan

Terdapat bermacam hukum atau suatu generalisasi yang memiliki hubungan kontinu dan dapat dikaitkan dengan berbagai hal yang akan terjadi dalam masa pertumbuhan dan perkembangan individu. Hal tersebut disebut sebagai hukum yang menjadi suatu keniscayaan yang akan relatif mengiringi perkembangan individu yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Hukum Cephalocaudal
    Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Bagian-bagian pada kepala tumbuh lebih dulu dari pada bagian-bagian yang lain. Hal ini sudah terlihat pada pertumbuhan pranatal, yaitu pada janin. Hal ini juga terlihat pada kenyataan bahwa bayi bisa menggunakan mulut dan matanya lebih cepat dari pada anggota badan lainnya.
  2. Hukum Proximodistal
    Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik, dan menurut hukum ini, pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alat-alat tubuh yang ada di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi dari pada anggota tubuh yang ada di tepi. Hal ini karena alat-alat tubuh yang ada di pusat lebih vital daripada anggota tubuh yang lain. Misalnya, seorang anak masih bisa melangsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan sedikit saja pada jantung atau ginjal bisa berakibat fatal.
  3. Hukum Tempo dan Ritme
    Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, dan dalam tempo perkembangan yang relatif tetap serta bisa berlaku umum. Semakin lambat masa-masa perkembangan dibandingkan dengan norma-norma umum yang berlaku, semakin menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan atau hambatan dalam perkembangan. Adanya hubungan antara satu aspek dengan aspek yang lain yang saling mempengaruhi, menunjukkan bila satu aspek mengalami kelambatan, maka aspek-aspek yang lain juga mengalami hal yang sama. Sebaliknya kalau tidak, maka ada faktor-faktor khusus yang mempengaruhi perkembangan itu.
  4. Hukum Masa Peka
    Hukum masa peka yang diperkenalkan dalam dunia pendidikan oleh Mario Montessori (seorang pendidik wanita bangsa Italia). Menurutnya, masa peka adalah merupakan masa pertumbuhan ketika suatu fungsi jiwa mudah sekali di pengaruhi dan dikembangkan. Masa peka untuk suatu fungsi itu hanya sekali saja datangnya pada tiap individu. Jadi masa peka itu merupakan masa di mana perkembangan suatu fungsi adalah maksimal besarnya, misalnya masa peka untuk menggambar usia 5 tahun, dan masa peka untuk berjalan 2 tahun, dan sebagainya. Hukum masa peka berhubungan langsung dengan irama dan tempo perkembangan (Ajhuri, 2019, hlm. 17-20).

Referensi

  1. Ajhuri, K.F. (2019). Psikologi perkembangan pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Yogyakarta: Penebar Media Pustaka.

Gabung ke Percakapan

1 Komentar

  1. Hukum Masa Peka
    Hukum masa peka yang diperkenalkan dalam dunia pendidikan oleh Mario Montessori (seorang pendidik wanita bangsa Italia).

    ijin mengoreksi, maksudnya Maria Montessori.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.