Pertumbuhan dan perkembangan manusia merupakan pengetahuan yang penting diketahui oleh semua orang tidak terkecuali masyarakat umum sendiri. Hal ini karena tidak hanya untuk kepentingan akademis, penelitian, dan terapis saja, literasi pertumbuhan dan perkembangan manusia adalah kebutuhan dasar untuk membawa manusia pada taraf hidup dan tingkat kesejahteraan serta kebahagiaan yang lebih baik.

Hal tersebut karena melalui konsepsi perkembangan manusia, kita dapat benar-benar mengetahui seperti apa tugas, hak, dan berbagai perilaku baik yang seharusnya dimiliki pada setiap periode atau tahap pertumbuhan. Dengan demikian, orang tua dapat menjalankan tugasnya dengan baik, seorang kakak mampu memberikan apa yang seharusnya ia berikan pada adik dan orang tuanya, guru mampu memahami berbagai hambatan yang terjadi pada masa pertumbuhan murid didiknya.

Permasalahan peningkatan atau penurunan merupakan salah satu titik vokal utama dalam psikologi perkembangan khususnya mengenai pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri. Hal tersebut karena di sinilah berbagai manfaat besar dapat diambil adalah. Misalnya, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa anak dan remaja haruslah ditolerir karena memang belum memiliki tingkat kematangan yang sama dengan orang dewasa, begitu juga dengan lansia.

Namun meskipun terdengar penurunan hanya dapat terjadi pada lansia, pendidikan atau perilaku dan asupan mental yang tidak efektif dan sesuai dengan porsi dan masa pertumbuhan seseorang juga dapat mengakibatkan penurunan pada usia produktif. Misalnya, dengan arahan dan didikan kurang tepat, seorang remaja bisa jadi menjadi kurang disiplin, anak tidak bergairah untuk belajar, orang dewasa malah menjadi pengangguran, dsb.

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia

Istilah perkembangan (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan, perlu dipahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, dimulai dari perkembangan dan pertumbuhan itu sendiri.

Pengertian Perkembangan Manusia

Perkembangan manusia menurut Santrock (2009 dalam Mariyati & Rezania, 2021, hlm. 1) adalah suatu proses alamiah yang dapat dibuktikan secara ilmiah tentang transformasi atau pola tahapan perkembangan manusia sepanjang kehidupannya. Transformasi berarti perubahan yang terjadi, pola artinya setiap manusia memiliki runutan tahap yang sama dalam perubahannya. Artinya, perkembangan manusia adalah proses perubahan yang memiliki tahap atau periodisasi yang runut.

Contohnya adalah bahwa kemampuan berjalan pada usia anak dimungkinkan akan terjadi jika anak telah melalui perkembangan sebelumnya seperti merambat dan berjalan. Anak juga akan mampu melakukan aktivitas duduk jika ia telah mampu mengangkat leher dan mengangkat dada.

Selanjutnya, menurut Ajhuri (2019, hlm. 43) perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsifungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.

Perlu menjadi catatan pula bahwa perubahan dan kematangan pada anak meliputi pada perkembangan fisiknya, di antaranya pertumbuhan tubuh, volume otak, sensori dan motorik, keterampilan tertentu, dan kesehatan (Mariyati & Rezania, 2021, hlm. 2). Selain itu, perkembangan manusia juga terjadi secara psikologis, baik secara kognitif (intelegensi), afeksi (perasaan dan emosional), dan konasi (kehendak/motivasi).

Dapat disimpulkan bahwa perkembangan manusia adalah suatu proses dan pola perubahan alamiah dan sistematis atau terstruktur yang terjadi pada manusia secara psikologis baik dari kacamata peningkatan maupun penurunan berdasarkan periode masa hidupnya.

Sifat Perkembangan

Berdasarkan pemaparan mengenai pengertian perkembangan di atas, dapat diketahui bahwa perkembangan memiliki karakteristik atau sifat yang mengiringinya. Perkembangan manusia memiliki beberapa sifat penting yang menyelubunginya, yakni:

  1. Perkembangan bersifat terstruktur, yang artinya bahwa setiap perkembangan organisme dalam hal ini manusia akan terjadi secara berkesinambungan dan terorganisir. Misalnya seperti yang diutarakan tadi, bayi akan belajar merangkak dahulu sebelum akhirnya bisa berjalan;
  2. Perkembangan manusia juga bersifat adaptif, yang artinya perkembangan terjadi dengan tujuan untuk mempersiapkan manusia dalam menghadapi kondisi yang muncul di kemudian hari. Contohnya, alasan bayi bisa berjalan adalah agar keinginannya untuk menjelajah dan serta berpindah dari satu tempat ke tempat baru terpenuhi sehingga ia mampu beradaptasi dengan lingkungan hidupnya.

Pengertian Pertumbuhan Manusia

Sementara itu  pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan ukuran, besar, jumlah atau dimensi pada tingkat sel, organ maupun individu (Thahir, 2018, hlm. 63). Dengan demikian pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram, kilogram), satuan panjang (cm, m), umur tulang, dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen dalam tubuh).

Pertumbuhan mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, serta munculnya ciri-ciri baru. Keunikan pertumbuhan adalah mempunyai kecepatan yang berbeda-beda di setiap kelompok umur dan masing-masing organ juga mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda. Terdapat 3 periode pertumbuhan cepat, yaitu masa janin, masa bayi 0 – 1 tahun, dan masa pubertas.

Pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala, jantung, paru-paru, dan sebagainya (Ajhuri, 2019, hlm. 44). Artinya pertumbuhan manusia adalah suatu proses dan pola perubahan alamiah dan sistematis atau terstruktur yang terjadi pada manusia secara jasmaniah atau fisiologis.

Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan

Dengan demikian istilah pertumbuhan lebih cenderung menunjuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun menuju pada keruntuhannya. Sementara itu istilah perkembangan lebih menunjuk pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yang melaju terus sampai akhir hayat.

Kematangan dan Perubahan

Pertumbuhan dan perkembangan manusia juga akan melibatkan istilah kematangan dan perubahan. Menurut Chaplin (dalam Ajhuri, 2019, hlm. 45) kematangan adalah:

  1. perkembangan, proses mencapai kemasakan/usia masak;
  2. proses perkembangan, yang dianggapp berasal dari keturunan, atau merupakan tingkah laku khusus spesies (jenis, rumpun).

Sementara itu perkembangan mengandung perubahan-perubahan, tetapi bukan berarti setiap perubahan bermakna perkembangan. Perubahan-perubahan itu tidak pula mempengaruhi proses perkembangan seseorang dengan cara yang sama. Perubahan-perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup.

Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia

Proses perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan, sehingga setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya. Perkembangan fase awal meliputi beberapa aspek kemampuan fungsional, yaitu kognitif, motorik, emosi, sosial, dan bahasa.

Perkembangan pada fase awal ini akan menentukan perkembangan fase selanjutnya. Kekurangan pada salah satu aspek perkembangan dapat mempengaruhi aspek lainnya. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan manusia menurut para ahli.

1. Tahap Pranatal (Sebelum Lahir)

Periode prenatal atau masa sebelum kelahiran adalah periode awal perkembangan manusia yang dimulai sejak konsepsi, yakni ketika ovum wanita dibuahi oleh sperma laki-laki sampai dengan waktu kelahiran seorang individu (Ajhuri, 2019, hlm. 76). Masa ini pada umumnya berlangsung selama 9 bulan atau 280 hari. Di lihat dari segi waktunya, periode prenatal ini merupakan periode perkembangan manusia yang paling singkat, tetapi justru pada periode inilah dipandang terjadi perkembangan yang sangat cepat dalam diri individu.

Pada umumnya ahli psikologi perkembangan membagi periode prenatal atas tiga fase perkembangan, yaitu:

  1. Tahap Germinal,
    sering juga disebut dengan periode zigot adalah periode yang berlangsung kira-kira 2 minggu pertama dari kehidupan yakni, sejak pertemuan sel sperma dan sel telur yang dinamakan pembuahan. Hal ini akan membentuk satu sel baru yang disebut dengan zigot kemudian membelah-belah menjadi sel yang berbentuk bulatan-bulatan kecil yang disebut blaskotis.
  2. Tahap Embrio,
    dimulai dari 2 minggu sampai 8 minggu setelah pembuahan yang ditandai dengan terjadinya banyak perubahan pada semua organ utama dan sistem-sistem fisiologis.
  3. Tahap Janin,
    Setelah sekitar 8 minggu embrio berkembang menjadi sel-sel tulang. Dalam periode ini ciri-ciri fisik orang dewasa secara lebih proposional mulai terlihat (Ajhuri, 2019, hlm. 78-79).

Jika dinalar dengan sekilas tentunya kita akan menyangka bahwa pada periode ini belum ada perkembangan psikologis yang terjadi. Akan tetapi, menurut Thahir (2018, hlm. 64) Secara psikologis kehidupan manusia dimulai pada saat janin mulai bereaksi terhadap rangsang-rangsang dari luar. Reaksi terhadap rangsang dari luar telah dimulai sangat awal.

Penjelasan detail mengenai prenatal dapat disimak pada link artikel di bawah ini.

Baca juga: Perkembangan Masa Prenatal: Pengertian, Tahapan & Faktor

2. Tahap Paska-natal (Bayi hingga Toddler/Balita)

Periode ini setelah kelahiran (postnatal) disebut dengan bayi hingga individu berusia 18-24 bulan. Periode bayi adalah masa dimana kehidupan manusia dan khususnya kebutuhan dasar seperti terpenenuhinya makanan dan sumber nutrisi, perlindungan tubuh yang digunakan berupa pakaian, tempat untuk bernaung dimana ia merasa aman, dapat melakukan aktifitas dan menumbuhkan afeksi sangat bergantung pada orang disekitarnya khususnya orang dewasa. Sekitar 80% tahap ini dihabiskan untuk tidur, sehingga terkadang tahap ini juga disebut sebagai periode tidur.

Setelah lahir, bayi menunjukkan banyak gerak-gerak refleks. Orang dahulu berpendapat bahwa masa ini kurang ada perkembangan psikologis yang menarik karena anak hanya melakukan tingkah laku-tingkah laku yang instingtif.

Satu tahun pertama semenjak kelahiran bayi adalah perkiraan lamanya periode perkembangan pada bayi. Selanjutnya organisme atau manusia bergerak ke periode selanjutnya yakni toddler atau yang disebut balita. Dalam periode balita, individu secara mandiri atau otonom anak akan mempelajari bagaimana cara untuk mengembangkan dirinya. hal ini sesuai dengan perkembangan pada kemampuan untuk berbicara dan koordinasi gerak motorik untuk dapat bergerak secara mandiri (Ajhuri, 2019, hlm. 84).

Peenjelasan lengkap mengenai perkembangan postnatal dapat dilihat pada tautan artikel di bawah ini.

Baca juga: Postnatal – Perkembangan Masa Kelahiran~Bayi: Fisik, Kognitif & Psikososial

3. Tahap Kanak-Kanak Awal

Periode anak-anak awal dimulai ketika anak memasuki tahun kedua hingga tahun keenam. Periode masa anak awal juga disebut sebagai periode pra-sekolah. Banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh anak di periode ini, misalnya proporsi tubuh anak menjadi lebih tinggi dan lebih ramping. Jika dijabarkan, perkembangan fisik pada awal masa kanak-kanak dibagi menjadi beberapa aspek yaitu: tinggi, berat, perbandingan tubuh, postur tubuh, tulang dan otot, lemak dan gigi.

Pada aspek motorik juga akan mengalami perkembangan, dalam hal ini anak akan semakin terampil. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa anak menjadi lebih mandiri dan memiliki kontrol yang baik terhadap dirinya.

Anak juga akan mengembangkan keterampilan kesiapan diri untuk mengikuti sekolah dasar, seperti kemampuan memahami dan mengikuti instruksi, mengenal huruf, angka, obyek dan berpikir kritis dalam mengelompokkan objek dan membandingkan objek dalam setting situasi yang sama. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman teman sebayanya.

Penjelasan lengkap mengenai perkembangan anak awal prasekolah dapat disimak pada tautan di bawah ini.

Baca juga: Perkembangan Anak Awal (Prasekolah): Fisik, Kognitif & Psikososial

4. Periode Usia Sekolah

Tahap atau periode usia sekolah terjadi pada anak berusia 6 hingga 11 tahun. Anak yang memasuki periode sekolah dasar mulai belajar tentang lingkungan yang lebih luas serta mulai mempelajari tanggung jawab yang lebih kompleks. Pada periode ini, kemampuan fisik anak akan meningkat sehingga bermanfaat terhadap kegiatan yang melibatkan kemampuan atletik anak.

Anak-anak yang berumur 6 atau 7 tahun dianggap matang untuk belajar di sekolah dasar jika:

  1. Kondisi jasmani cukup sehat dan kuat untuk melakukan tugas di sekolah,
  2. Ada keinginan belajar ,
  3. Fantasi tidak lagi leluasa dan liar,
  4. Perkembangan perasaan sosial telah memadai (Ajhuri, 2019, hlm. 115).

Selain itu proses berpikir anak menjadi lebih logis, mulai ikut serta dalam permainan yang memiliki aturan, menguasai keterampilan dasar akademik seperti baca, tulis, dan hitung serta memiliki pemahaman akan diri dan orang lain, aturan-aturan/moralitas, dan hubungan relasi secara mendalam seperti persahabatan.

Penjelasan lebih lengkap mengenai periode anak usia sekolah dapat dibaca pada link di bawah ini.

Baca juta: Perkembangan Anak Usia Sekolah (Tengah-Akhir): Fisik, Kognitif & Psikososial

5. Tahap Remaja

Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Tahap atau periode remaja secara umum terjadi di usia 11 hingga 18 tahun. Namun demikian Menurut Mappiare (1982 dalam Ajhuri, 2019, hlm. 122) masa remaja dapat berlangsung antara umum 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.

Masa remaja adalah masa terjadinya peralihan antara masa anak menuju masa dewasa. Pubertas membuat beberapa perubahan seperti pesatnya perubahan fisik, berkembangnya alat reproduksi menuju kematangan seksual, berpikir idealis dan lebih abstrak. Oleh karena itu periode ini juga cenderung merupakan salah satu masa psikologis yang paling bergejolak karena merupakan transisi besar dari masa anak menuju masa dewasa.

Remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya. Untuk memenuhi kebutuhan sosial dan psikologisnya, remaja memperluas lingkungan sosialnya di luar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lain. Pada masa ini juga mulai muncul kesadaran kemandirian, menetapkan nilai-nilai/aturan dan menetapkan tujuan pribadi sehingga tugas perkembangan di usia ini adalah pencapaian identitas.

Penjelasan lengkap mengenai periode remaja dapat disimak pada tautan di bawah ini.

Baca juga: Perkembangan Masa Remaja: Fisik, Kognitif, Psikososial, dsb

6. Periode Dewasa (Awal, Madya & Akhir)

Struktur kehidupan seseorang mengatur transaksi antara struktur kepribadian dengan struktur sosial. Antara 17 dan 22 tahun seseorang ada dalam dua masa. Ia meninggalkan masa pra dewasa dan memasuki masa dewasa awal yang mencangkup tiga periode yaitu :

  1. Periode Dewasa Awal
    Periode dewasa awal yakni periode pengenalan dengan dunia orang dewasa (22-28 tahun). Orang mengakui dirinya sendiri serta dunia yang ia masuki dan berusaha untuk membentuk struktur kehidupan yang stabil. Orang mencari tempat dalam dunia kerja dan dunia hubungan sosial. Pada akhir usia 20 tahun maka pemilihan struktur hidup ini makin menjadi penting. Pada usia antara 28-33 tahun paling struktur kehidupan ini menjadi lebih tetap dan stabil.

    Baca juga: Perkembangan Usia Dewasa Awal: Fisik, Kognitif & Psikososial

  2. Periode Dewasa Madya
    Periode kedua dalam fase kemantapan (33-44 tahun) orang dengan keyakinan yang mantap menemukan tempatnya dalam masyarakat dan berusaha untuk memajukan karir sebaik – baiknya. Impian yang ada dalam fase – fase sebelumnya (17-33 tahun) mulai mencapai kenyataan. Pekerjaan dan kehidupan keluarga membentuk struktur peran yang memunculkan aspek – aspek kepribadian yang diperlukan dalam fase tersebut.

    Baca juga: Perkembangan Dewasa Madya (Pertengahan): Fisik, Kognitif & Psikososial

  3. Periode Dewasa Akhir
    Periode ketiga pada usia 40 tahun tercapailah puncak masa dewasa. Sesudah itu mulailah peralihan ke arah masa dewasa madya ( tengah madya antara usia 40-45) dalam masa ini seseorang menghadapi tiga macam tugas yaitu penilaian kembali masa lalu, merubah struktur kehidupan, proses individualisasi.

    Baca juga: Perkembangan Dewasa Akhir (Lanjut Usia): Fisik, Kognitif & Psikososial

Sekarang sudah umum diakui bahwa suatu perkembangan tidak berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaan fisik pada masa remaja atau kedewasaan sosial pada masa dewasa awal. Selama manusia berkembang terjadi perubahan-perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada fungsi biologi dan motoris, pengamatan dan berfikir, motif-motif dan kehidupan afeksi, hubungan sosial serta integrasi masyarakat.

Periode Lansia (Dewasa Akhir)

Dewasa akhir (usia 60 tahun ke atas) dapat dibagi menjadi beberapa fase lagi dan memiliki umur fungsional yang berbeda. Dengan bertambahnya usia, sedikit demi sedikit kemampuan fisik mengalami penurunan. Hal inilah yang disebut proses menua. Akan tetapi, sebagian lansia yang justru berumur 90 justru dapat memiliki fungsional yang lebih baik dari yang umur 65 tahun sekali pun. Hal ini karena terdapat bermacam hal yang dapat membuat perubahan besar pada mereka.

Pertambahan usia memang berpengaruh terhadap kualitas fungsi organ-organ tubuh. Namun bukan berarti tidak dapat dilalu dengan kesehatan prima. Setelah dicapai puncak kualitas, yang dapat dipertahankan dalam beberapa waktu, kemudian akan mengalami penurunan kualitas yang berakibat menurunkan kemampuan fisik. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai priode lanjut usia ini dapat disimak pada artikel di bawah ini.

Baca juga: Perkembangan Dewasa Akhir (Lanjut Usia): Fisik, Kognitif & Psikososial

7. Periode Akhir Kehidupan

Saat menghadapi kematian, manusia mengalami perkembangan dari berbagai aspek yang berbeda. Akhir kehidupan tidak hanya dihadapi oleh lansia saja, akan tetapi oleh orang-orang yang terancam hidupnya karena mengalami penyakit fatal, dan sebagainya. Hal ini memberikan perubahan besar dari sisi kognitif, psikologis, dan sosial. Penjelasan mengenai masa akhir kehidupan dapat disimak pada link artikel di bawah ini.

Baca juga: Perkembangan Masa Akhir Kehidupan: Kematian & Kehilangan

Referensi

  1. Ajhuri, K.F. (2019). Psikologi perkembangan pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Yogyakarta: Penebar Media Pustaka.
  2. Mariyati, L.I., Rezania, V. (2021). Psikologi perkembangan sepanjang hidup manusia. Sidoarjo: Umsida Press.
  3. Thahir, A. (2018). Psikologi perkembangan. Lampung: Aura Publishing.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *