Prenatala adalah periode perkembangan manusia yang terjadi dari semenjak dalam kandungan atau belum dilahirkan. Masa prenatal merupakan masa di mana terjadinya pertumbuhan dan perkembangan awal manusia hinga kelahiran, terjadi sejak masa konsepsi hingga janin berkembang menjadi bentuk sempurna dan siap untuk lahir ke dunia (Masykuroh dkk, 2021, hlm. 13).

Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan, dan berkesinambungan dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi, namun setiap anak akan melewati suatu pola tertentu. Permulaan kehidupan manusia dapat ditinjau secara psikologis dan biologis.

  1. Secara psikologis kehidupan manusia dimulai pada saat janin mulai bereaksi terhadap rangsang-rangsang dari luar. Reaksi terhadap rangsang dari luar telah dimulai sangat awal.
  2. Secara biologis kehidupan dimulai pada saat terjadinya konsepsi atau pembuahan, yakni bersatunya sel telur (ovum: tunggal, ova: jamak) dan sel laki-laki (spermatozoa: tunggal, spermatozoon: jamak) (Thahir, 2018, hlm. 64)

Kedua sel yang telah bersatu tersebut tumbuh dan berkembang dalam organ reproduksi wanita (rahim). Bertemunya dua sel yang bersatu dan tumbuh berkembang menjadi jabang bayi disebut sebagai pembuahan. Kemungkinan terjadinya pembuahan telah ditentukan secara alamiah. Sekali dalam 28 hari, sering kali sekitar pertengahan siklus menstruasi, sebuah telur dalam salah satu kandung telur menjadi masak dan bergerak pelan masuk ke dalam rahim.

Perjalanan ini memakan waktu 3 sampai 7 hari, dan apabila dalam perjalanan tersebut tidak terjadi pembuahan, maka lenyaplah telur dalam rahim. Bila telur dalam perjalanan bertemu dengan spermatozoa dan masuk melalui dinding telur, maka terjadilah pada detik itu sel benih melepaskan 23 bagian kecil-kecil dari dirinya yang disebut kromosom.

Pada saat itu pecahlah inti telur dan lepaslah 23 kromosom. Kromosom ayah dan kromosom ibu lebur menjadi satu dan membentuk bakal keturunan bagi anak. Kromosom tadi mengandung bagian yang lebih kecil lagi yang membawa faktor-faktor keturunan yang sesungguhnya dan disebut gene. Akhirnya, dimulailah awal kehidupan seorang individu baru.

Pengertian Prenatal

Pada awal kehidupan manusialah masa prenatal manusia dimulai, yakni masa sebelum kelahiran. Tepatnya, prenatal adalah periode awal perkembangan manusia yang dimulai sejak konsepsi, yakni ketika ovum wanita di buahi oleh sperma laki-laki sampai dengan waktu kelahiran seorang individu (Ajhuri, 2019, hlm. 76).

Sementara itu menurut Thahir (2018, hlm. 65) masa pranatal adalah masa kehidupan janin di dalam kandungan. Masa ini pada umumnya berlangsung selama 9 bulan atau 280 hari. Di lihat dari segi waktunya, periode prenatal ini merupakan periode perkembangan manusia yang paling singkat, tetapi justru pada periode inilah di pandang terjadi perkembangan yang sangat cepat dalam diri individu.

Masa ini dibagi menjadi dua periode, yaitu masa embrio dan masa fetus. Masa embrio adalah masa sejak konsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu, sedangkan masa fetus adalah sejak umur 9 minggu hingga kelahiran.

Selanjutnya menurut Aprilia (dalam Masykuroh dkk, 2021, hlm. 13) perkembangan prenatal adalah awal perkembangan manusia yang ditandai dengan pembuahan antara sel telur dan sel sperma yang selanjutnya kedua sel tersebut mencapai pada kematangan dan dapat menjadi sel-sel baru berupa zigot yang selanjutnya berkembang pada tahap germinal, embrionik, dan fetal.

Fase Perkembangan Prenatal

Urutan perkembangan dalam periode pranatal telah pasti dan tidak dapat diubah (Thahir, 2018, hlm. 68). Kepala, mata, tubuh, tangan, kaki, alat-alat kelamin dan alat-alat berkembang dengan urutan tertentu dan juga kurang lebih pada usia pranatal yang sama pada semua fetus. Pertumbuhan yang teratur ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa semua fetus selalu dapat memutar kepalanya lebih dahulu sebelum mereka dapat melencangkan kepalanya.

Oleh karena itu, urutan fase-fase perkembangan prenatal ini dapat dibuat generalisasi tahapan berdasarkan masing-masing tahapan yang terjadi. Menurut Ajhuri (2019, hlm. 78) pada umumnya ahli psikologi perkembangan membagi periode prenatal atas tiga fase perkembangan, yakni tahap germinal, embrionik, dan fetal. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing fase perkembangan prenatal.

1. Tahap Germinal

Tahap Germinal atau sering disebut sebagai periode zigot adalah periode yang berlangsung kira-kira dua minggu pertama dari kehidupan yakni, sejak pertemuan sel sperma dan sel telur yang dinamakan pembuahan (Ajhuri, 2019, hlm. 78). Secara kuantitatif tahapan Germinal atau Pra-Embrionik terjadi sejak pembuahan sampai dengan 2 minggu masa kehamilan.

Tahap ini akan membentuk satu sel baru yang disebut dengan zigot. Zigot membelah diri sebanyak dua kali lipat dari jumlah semula hingga mencapai jumlah 800 juta atau lebih hingga berbentuk fisik manusia. Para proses pembentukan fisik manusia ini, sel mengalami pengkhususan dan membelah-belah menjadi sel yang berbentuk bulatan-bulatan kecil yang disebut blaskotis.

Blaskotis yang berisikan cairan dengan cepat mengalami sejumlah perubahan penting. Blaskotis ini juga di bedakan atas tiga lapisan, yaitu lapisan atas (ectoderm), lapisan tengah (mesoderm) dan lapisan bawah (endoderm).

  1. Dari ecroderm berkembang rambut, gigi dan kuku, kulit lapisan luar ( kulit ari), kelenjar-kelenjar kulit panca indra dan sistem saraf.
  2. Dari mesoderm atau lampisan tengah berkembang otot, tulang atau rangka, sistem pembungan kotoran dan sistem peredaran darah serta kulit lampisan dalam.
  3. Sementara itu endoderm atau lapisan bawah menjadi sistem pencernaan, hati, pankreas, kelenjar ludah dan sistem pernafasan. Dalam waktu singkat plasenta, tali pusat dan kantong amniotik akan terbentuk dari blastokis.

2. Tahap Embrio

Tahapan Embrionik berlangsung sejak 2 minggu hingga 8 minggu masa kehamilan. Organ berkembang secara pesat pada masa ini dan mengalami masa kritis dan rentan dimana pada masa ini ibu rentan mengalami keguguran. Periode embrio ini ditandai dengan terjadinya banyak perubahan pada semua organ utama dan sistem-sistem fisiologis. Bentuk fisik janin belum mencapai kematangan namun organ-organ dan bagian tubuhnya sudah mampu dikenali seperti bentuk telinga, mata, tangan, telinga sudah dapat diidentifikasi.

Selama periode embrio pertumbuhan terjadi dalam dua pola yaitu, cephalocaudal dan proximodistal.

  1. Cephalocaudal artinya proses pertumbuhan yang dimulai dari bagian kepala kemudian terus ke bagian bawah sampai ke ekor, spesifiknya: kepala, pembuluh darah, dan jantung serta organ-organ penting tubuh lainnya.
  2. Proximodital adalah proses pertumbuhan yang dimulai dari bagian-bagian yang paling dekat dengan pusat (tengah) badan, kemudian baru ke bagian-bagian yang jauh dari pusat badan (Ajhuri, 2019, hlm. 80).

Pada umur 8-9 minggu, perubahan janin semakin terlihat dengan jelas. Muka, mulut, mata, telinga, sudah mulai terbentuk dengan baik. Lengan dan kaki lengkap dengan jari-jarinya sudah Nampak pada tahap ini organ sks juga mulai terbentuk. Demikian juga dengan otot dan tulang rawan mulai berkembang. Organ dalam seperti isi perut, hati, pankreas, paru-paru, dan ginjal mulai terbentuk dan mulut mulai berfungsi dengan sederhana.

3. Tahap Janin (Fetal)

Tahap janin atau fetal ada periode perkembangan prenatal di mana organ-organ pada janin bertumbuh dan berkembang lebih kompleks dan memiliki ukuran 20 kali lipat lebih besar dari ukuran semula. Setelah sekitar 8 minggu embrio berkembang menjadi sel-sel tulang. Dalam periode ini ciri-ciri fisik orang dewasa secara lebih proposional mulai terlihat. Pada usia kehamilan ini sang ibu sudah bisa merasakan gerakan-gerakan janinnya seperti: menonjok-nonjok atau menendang-nendang.

Pada minggu ke-12, indera perasa dan penciuman janin mulai berkembang melalui zat yang ada pada cairan ketuban yang dialirkan dari plasenta ibunya. Pada minggu ke 12 indera perasa dan penciuman mencapai pada masa kematangan.

Memasuki minggu ke-26 (awal bulan ke-7) janin mulai menunjukkan aktivitas, janin mulai merespon suara-suara yang didengar dengan menendang dan berpindah posisi. Pada periode fetal panjang janin kira-kira 4,5 inci. Pada permulaan bulan ketujuh juga panjang janin juga semakin berkembang kira-kira sekitar 16 inci dengan berat kira-kira 2,5 kg.

Ciri-ciri manusia sudah terlihat terutama ketika rambut atau bulu mulai menumbuhi kepalanya dan mulut mulai menonjol ke luar, bergerakgerak, di buka dan di tiup, mereguk atau menelan, dan menghisap ibu jarinya. Matanya mulai berkedip dan menangis walaupun matanya tertutup. Bulan ke-8 berat janin sudah mencapai 2,5-3,5 kg. Masa ini akan terus berlangsung dan akan mencapai puncak pada minggu ke-32 (bulan ke-8) ini ketika organ-organ janin memiliki kesiapan dan mampu untuk hidup di luar kandungan ibunya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Prenatal

Selama periode prenatal ini, rahim merupakan lingkungan yang sangat menentukan perkembangan janin. Pada umumnya kondisi rahim ibu sangat nyaman dan dapat melindungi janin dari setiap gangguan. Setiap gerakan yang dilakukan ibu dapat memberikan rangsangan berupa pengalaman indra yang beraneka ragam.

Sebagian besar proses pertumbuhan janin bergantung pada kondisi internal ibu, baik kondisi fisik maupun psikisnya. Namun demikian terdapat pula berbagai faktor-faktor eksternal atau ekstern yang dapat mempengaruhi perkembangan masa prenatal. Berikut adlaha pemaparan faktor-faktor yang mempengaruhi prenatal secara intern maupun ekstern.

Faktor Internal

Setiap gerakan yang dilakukan ibu dapat memberikan rangsangan berupa pengalaman indra yang beraneka ragam. Oleh sebab itu, kesehatan ibu, pengaturan diet, pemakaian obat, serta kondisi emosional ibu dapat menimbulkan pengaruh yang berakibat kerusakan sel.

Bahkan menurut Ajhuri (2019, hlm. 82) bayi yang lahir cacat atau terbelakang secara mental merupakan peristiwa yang terjadi ketika di dalam kandungan ibu. Namun demikian belum dapat diketahui dengan pasti apakah hal ini dapat sepenuhnya dihindari atau tidak. Hanya sebagian kecil saja yang dapat diketahui, misalnya bagi ibu hamil yang terserang campak rubella (campak jerman) maka 60% akan di pastikan bayi lahir dalam keadaan cacat.

Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan prenatal adalah sebagai berikut.

  1. Kesehatan Ibu
    Seorang ibu harus menjaga kehamilannya pada saat-saat yang rentan. Penyakit yang di derita ibu hamil sangat berpengaruh bagi pertumbuhan janin di dalam kandungan. Apalagi penyakit yang bersifat kronis seperti, kencing manis, TBC, radang saluran kencing, penyakit kelamin dll.
  2. Gizi Ibu
    Faktor lain yang cukup berpengaruh pada masa perkembangan adalah gizi. Janin yang sedang berkembang bergantung pada gizi ibunya yang di peroleh melalui darah ibunya. Oleh sebab itu makanan yang di konsumsi bagi ibu hamil harus mengandung cukup protein, lemak, vitamin, dan karbohidrat untuk manjaga kesehatan bayi.
  3. Pemakaian Bahan-bahan Kimia oleh Ibu
    Bahan-bahan kimia yang terdapat dalam obatobatan atau makanan yang di konsumsi ibu hamil dapat mempengaruhi perkembangan janin. Bahan-bahan kimia tersebut dapat menimbulkan efek samping, baik fisik maupun sistem kimiawidalam tubuh janin. Seperti minuman yang mengandung alkohol, menghisap asap rokok.
  4. Keadaan dan Ketegangan Emosi Ibu
    Keadaan emosional ibu selama kehamilan mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan masa prenatal. Ketika ibu hamil mengalami ketakutan, kecemasan, stres, dan emosi lain yang mendalam maka terjadi perubahan psikologis, antara lain meningkatnya pernapasan dan sekresi oleh kelenjar (Ajhuri, 2019, hlm. 82-83).

Faktor Eksternal

Sementara itu menurut Thahir (2018, hlm. 73) faktor lingkungan adalah faktor ekstern yang banyak mempengaruhi perkembangna prenatal, beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi tingkah laku setelah kelahiran pada periode prenatal antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Sinar rontgen dapat mempengaruhi tingkah laku motorik, gerak bebas, pembuangan, aktivitas, dan belajar diskriminatif. Akibat penyinaran memiliki hubungan dengan usia kehamilan. Makin banyak dosis penyinaran makin buruk akibatnya.
  2. Pemakaian obat-obat penenang seperti softenon atau thalidomid dapat mengakibatkan cacat berat. Penelitian antara tahun 1959 – 1962 menemukan bahwa cacat yang disebabkan thalidomid terjadi antara hari ke 34 dan ke 50, jadi antara minggu kelima dan ketujuh usia kehamilan.
  3. Usaha-usaha pengguguran kandungan dengan menggunakan obat-obatan yang lain pada usia kehamilan awal dapat menyebabkan gangguan-gangguan perkembangan.

Sikap Ibu pada Masa Prenatal

Bagi seorang wanita, kehamilan serta kelahiran anak biasanya memberikan arti emosional yang cukup berarti bagi dirinya. Apabila disertai dengan tekanan perasaan yang kuat maka wanita akan menjadi sangat perasa (emosional) sehingga mengakibatkan mudah terganggu keseimbangan mentalnya. Wajar jika dalam kondisi hamil seorang ibu akan muncul proses yang bermacam-macam seperti:

  1. timbul keinginan yang aneh-aneh (ngidam);
  2. merasakan kebahagiaan atau kepuasan, karena merasa dirinya subur, calon ibu sejati maka ada keinginan menyambut bayi dengan gairah;
  3. muncul perasaan cemas, tegangan emosi, dan khawatir.

Ada anggapan bahwa sikap menolak dari pihak ibu terhadap janin dalam kandungan akan diteruskan sesudah anak dilahirkan. Namun hasil penelitian Geissler di Jerman Timur dan Sears dkk di Amerika (dalam Monks, dkk., 1992 dalam Thahir, 2018, hlm. 74) menunjukkan bahwa lebih dari 90% jumlah ibu yang semula menolak, berubah mempunyai sikap yang positif terhadap anak sesudah dilahirkan.

Geissler dalam penelitian longitudinalnya menunjukkan bahwa ada perubahan sikap ibu terhadap anak yang dikandungnya, yakni dari sikap positif ke negatif, dan dari sikap negatif ke positif, dan sikap yang berubah-ubah itu akhirnya menjadi positif, yaitu sikap menerima terhadap anak yang dilahirkan.

Referensi

  1. Ajhuri, K.F. (2019). Psikologi perkembangan pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Yogyakarta: Penebar Media Pustaka.
  2. Masykuroh, K., Dewi, C., Heriyani, E., Widiastuti, H.T. (2021). Modul psikologi perkembangan. Jakarta: Uhamka.
  3. Thahir, A. (2018). Psikologi perkembangan. Lampung: Aura Publishing.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.