Pengertian Resensi

Resensi adalah pertimbangan baik-buruknya suatu karya yang harus dilakukan secara objektif, sesuai dengan kualitas isi buku (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 205). Tugas peresensi adalah untuk memberikan gambaran kepada pembaca mengenai suatu karya apakah layak dibaca atau tidak.

Senada dengan pendapat di atas, Dalman (2015, hlm. 165), mengemukakan bahwa teks resensi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menilai baik tidaknya sebuah buku. Perlu menjadi catatan bahwa keduanya (baik dan buruk) harus ada agar resensi menjadi suatu kritik yang konstruktif. Artinya, resensi bukan hanya opini mencemooh atau memuji secara subjektif tanpa memberikan kontribusi apa-apa.

Apakah hanya buku yang dapat dibuat resensinya? Tidak, resensi adalah ulasan, penilaian atau pembicaraan mengenai suatu karya baik itu buku, film, atau karya lain. Seperti yang dikemukakan oleh Fanani (2016, hlm. 70) bahwa resensi adalah sebuah penilaian terhadap objek resensi yang bisa berupa buku, film, musik, atau karya seni lainnya.

Sementara itu, dari sudut pandang etimologi, Mursidi (2016, hlm. 50), menyatakan bahwa kata resensi berasal dari bahasa Latin, yakni revidere atau recensere yang berarti melihat kembali, menimbang atau menilai.

Jadi dapat dikatakan bahwa apa itu resensi merupakan memberikan penilaian, membahas, mengungkap kembali hingga mengkritik suatu buku, atau objek resensi lainnya seperti film, musik, drama, dsb.

Perbedaan Resensi dan Sinopsis

Mengungkapkan kembali apa yang dihadirkan oleh suatu buku adalah juga disebut dengan sinopsis. Jadi, jika ada pertanyaan apa perbedaan resensi dan sinopsis, maka sangatlah mudah untuk menjawabnya; resensi mengungkapkan kembali isi buku untuk menilainya, sementara sinopsis mengungkapkannya saja (tidak menilainya).

 

Resensi Sinopsis
  1. Mengungkapkan kembali apa yang dihadirkan dalam buku untuk menilainya
  2. Resensi biasanya mengungkapkan apa adanya, tanpa dibumbui untuk menarik perhatian calon pembeli.
  3. Terkadang kalau dibutuhkan resensi akan memberitahukan mengenai “sesuatu” yang akan merusak pengalaman calon pembaca jika mengetahuinya (spoiler).
  1. Hanya mengungkapkan apa yang dihadirkan dalam buku saja, tidak untuk dinilai.
  2. Sinopsis biasanya dibumbui untuk membuat calon pembeli penasaran agar tertarik membeli buku atau karya.
  3. Sinopsis tidak akan mengungkapkan suatu plot penting yang akan merusak pengalaman pembaca/penonton jika mengetahuinya (tidak akan memuat spoiler).

 

Struktur Resensi

Seperti apa struktur resensi? Sebetulnya, sesederhana:

  1. identitas karya,
  2. orientasi (pendahuluan),
  3. inti resensi,
  4. analisis (keunggulan karya),
  5. evaluasi (kekurangan karya),
  6. penutup

Namun, resensi biasanya memiliki format yang membagi masing-masing bagian struktur dalam sub judul yang berbeda. Hal tersebut membuat resensi memiliki taksonomi atau aturan susunan yang teratur layaknya karya ilmiah.

Oleh karena itu, struktur dalam resensi lebih sering disebut sebagai sistematika atau unsur-unsur resensi. Berikut ini adalah penjelasannya.

Sistematika Resensi (Unsur)

Menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 205; Samad, 2008, hlm. 78) unsur unsur atau sistematika resensi di antaranya sebagai berikut.

  1. Judul resensi
    judul yang baik akan dibuat dengan menarik dan menjiwai karya yang diresensi; terdapat hubungan erat dengan karya yang diresensi.
  2. Identitas buku (atau karya lain) yang diresensi
    Berbagai informasi mengenai karya yang diresensi, misalnya jika buku maka meliputi: judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit (termasuk versi cetakan), tebal buku, harga.
  3. Pendahuluan (memperkenalkan pengarang, tujuan pengarang buku, dan lain-lain)
    Dapat berisi pengenalan pengarang atau pencipta karya, memamerkan kekhasan pengarang, keunikan utama karya, penerbit/pihak lain yang terkait, kesan, pertanyaan umum, membuka dialog, dsb.
  4. Inti/isi resensi
    sinopsis, rumusan kerangka atau unsur objek yang diresensi, tinjauan bahasa/desain, pengecekan kesalahan, dsb.
  5. Keunggulan buku (karya)
    Seperti namanya, analisis keunggulan-keunggulan apa saja yang dimiliki oleh buku atau karya.
  6. Kekurangan buku (karya)
    Mengungkap kekurangan yang ditemukan serta jika diperlukan, saran untuk membuatnya lebih baik.
  7. Penutup
    berisi pernyataan akhir dari peresensi terhadap buku seperti menyatakan karya yang diresensi lebih cocok untuk siapa, dsb.

Kebahasaan Resensi

Seperti teks lainnya, resensi memiliki ciri atau kaidah kebahasaan khas yang membedakannya dari jenis teks lain. Dalam buku Bahasa Indonesia untuk SMA kelas XI, Tim Kemdikbud (2017, hlm. 223) ciri kebahasaan resensi adalah sebagai berikut.

  1. Banyak menggunakan konjungsi penerang, seperti: yaitu, yakni, bahwa.
  2. Cenderung menggunakan konjungsi temporal: semenjak, sejak akhirnya, kemudian.
  3. Banyak menggunakan konjungsi penyebababan: sebab, karena.
  4. Menggunakan pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi pada bagian akhir teks. Hal tersebut ditandai oleh kata: hendaknya, harus, jangan.

Cara Membuat Resensi

Tentunya untuk membuat resensi kita haruslah menguasai buku atau karya yang akan diulas. Caranya adalah dengan membaca atau mengapresiasinya dengan seksama terlebih dahulu. Untuk menghasilkan resensi yang baik, peresensi harus menggunakan langkah-langkah yang tepat guna dan efektif. Menurut Dalman (2015, hlm. 174) langkah-langkah menulis resensi yang baik adalah sebagai berikut.

  1. Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang akan diulas. Dapat berupa pra-penelitian, mencari tahu informasi penulis buku atau pencipta karya, penerbit, dsb.
  2. Membaca buku atau mengapresiasi karya yang akan diresensi secara komprehensif, cermat, dan teliti.
  3. Menandai bagian-bagian buku atau karya yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data.
  4. Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang diresensi (membuat deskripsi untu jenis karya lain).
  5. Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang berkenaan dengan organisasi penulisan, bobot ide, aspek bahasanya, dan aspek teknisnya.

Contoh Resensi Buku

Menurut Tim kemdikbud (2017, hlm. 208) berikut ini adalah contoh resensi buku pengetahuan beserta unsur/sistematika/strukturnya (dengan penyesuaian).

Judul Resensi

Menulis Gampang Tanpa Membutuhkan Bakat

Identitas Buku

Judul : Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang

Pengarang : Andrias Harefa

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2002

Halaman : i-xi + 103 halaman

Pendahuluan

Aktivitas menulis sering kali dikaitkan dengan bakat seseorang. Padahal, tidak selamanya bakat dapat membuat aktivitas tulis-menulis menjadi selancar dan semudah yang kita bayangkan. Berulang kali para pakar menyatakan bahwa menulis merupakan pelajaran dasar yang sudah kita dapatkan semenjak duduk di bangku sekolah dasar bahkan di taman kanak-kanak. Dengan kata lain, mengarang adalah keterampilan sekolah dasar. Namun, sering kali ketika kita hendak menuangkan ide-ide kita dalam bentuk tulisan, sesuatu yang bernama “bakat” selalu menjadi semacam “kambing hitam” yang harus siap dipersalahkan.

Isi Resensi

Mengarang bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, juga bukan merupakan hal yang sulit jika ada komitmen, janji pada diri sendiri tentu saja, jika komitmen itu diniati untuk benar-benar ditepati. Komitmen, inilah satu lagi kata kunci agar proses menulis dan mengarang menjadi mudah. Komitmen tersebut adalah janji pada diri sendiri bahwa saya akan menjadi penulis. Jadi, menulis itu bukan perlu bakat, sebab bakat tidak lebih dari “minat dan ambisi yang terus-menerus berkembang”.

Keunggulan Buku

Buku ini menggunakan bahasa sederhana yang mudah untuk dicerna. Berbagai cara atau langkah dalam menulis juga terhitung ringan untuk diikuti. Meskipun begitu, buku ini tetap memiliki pembahasan mendalam dalam menulis.

Kekurangan Buku

Penulis kurang membahas berbagai teknik yang telah diketahui efektif untuk membantu seseorang dalam menulis. Mungkin hal tersebut dilakukan untuk membuat buku lebih ringan. Namun tetap sangat disayangkan berbagai teknik dan pengetahuan umum menulis tidak di elaborasi untuk melengkapi “kegampangan” buku.

Pentutup

Jadi, jika “bakat” bermakna demikian, segala sesuatu memerlukan bakat, tidak hanya dalam soal tulis-menulis. Masalahnya kemudian, bagaimana agar ambisi tersebut terus dipelihara sampai waktu yang lama? Jawabnya, “komitmen pada diri sendiri”.

Referensi

  1. Dalman. (2015). Menulis karya ilmiah. Depok: Rajagrafindo Persada.
  2. Fanani, B. (2016). Kalimat dan imajinasi. Yogyakarta: Araska.
  3. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Buku Siswa Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAN Kelas XI. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  4. Mursidi. (2016). Tip sukses meresensi buku di koran. Jakarta: Gramedia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *