Sifat Dasar Seni dan Struktur Seni (Referensi Terlampir)

sifat dasar seni

Sifat Dasar Seni adalah berbagai watak atau ciri khas alamiah yang menyelubungi suatu karya Seni berdasarkan kodratnya yang telah dibawa sejak Seni dilahirkan. Apa saja sifat dasar Seni?

Berdasarkan hasil telaah terhadap berbagai filsafat dan teori seni, dapat disimpulkan bahwa Seni memiliki  5 ciri yang merupakan sifat dasar seni, yaitu: kreatif, individual, ekspresif, abadi dan universal (Gie, 1976: 41). Dibawah ini akan dijabarkan beberapa sifat dasar seni tersebut menurut The Liang Gie.

Sifat Dasar Seni

Kreatif

Pada dasarnya, Seni adalah hasil kegiatan kreatif, yaitu penciptaan hal-hal baru yang belum dikenal. Meskipun sebuah karya seni yang diciptakan meniru alam, proses itu tetap tergolong menjadi penciptaan kreatif. Intinya, Seni mengubah sesuatu menjadi hal lain yang baru dan orisnil, sehingga menghasilkan realitas baru.

Individual

Seni yang dihasilkan akan memiliki ciri khas perogangan dari seniman yang menciptakannya. Dalam artian, karya Seni yang dibuat oleh seorang Seniman akan berbeda dengan hasil yang dibuat oleh Seniman lainnya, bahkan ketika subjek atau tema yang diangkat sama.

Beberapa Fotografer dapat memotret model yang sama, namun hasil Foto dari masing-masing Fotografer akan berbeda. Seni yang baik adalah Seni yang membebaskan makna atau pesan absolut dan tidak memperkosa pandangan Individu perecapnya; Multitafsir.

Ekspresif

Berbagai ekspresi dan emosi yang berasal dari pengalaman hidup seorang Seniman akan terpancar pada karyanya. Dampaknya akan dirasakan oleh Apresiator dan merupakan bentuk ekspresi Apresiator itu sendiri terhadap apa yang ia interpretasikan dari karya sang Seniman.

Sehingga Seni adalah media ekspresi dua arah yang dapat menggerakan hati para Pelaku Seni melalui emosi dan gagasan yang tercipta dari sebuah Karya Seni.

Abadi

Konsep karya seni yang telah dihasilkan oleh seorang seniman dan telah diapresiasi oleh masyarakat tidak dapat ditarik kembali atau terhapuskan oleh waktu, meskipun penciptannya telah meninggal. Bahkan ketika karya seni telah rusak dimakan usia, Konsep-konsep dasarnya akan diteruskan oleh para legasi Pelaku Seni.

Pada dasarnya, ketika kita menciptakan Karya Seni, kita hanya menyusun mozaik dari berbagai pecahan-pecahan kearifan yang telah ada disekitar kita (Intertekstual). Hingga pada masanya, karya yang telah tercipta juga akan menjadi pecahan kearifan itu sendiri dan akan digunakan oleh generasi penerus untuk menyusun mozaik baru.

Universal

Seni terus berkembang di seluruh dunia dalam sepanjang waktu dan dapat dipahami oleh siapapun, meskipun dalam beberapa kasus butuh waktu pembelajaran atau tepatnya penghayatan. Manusia Purba telah mampu mengembangkan Seni sebagai penunjang kebutuhan komunikasi melalui gambar-gambar sederhana.

Gambar telah dikenal jauh sebelum Bahasa ditemukan dan berhasil menjadi media komunikasi pada masa dan komunitas yang sama. Contoh lainnya adalah susunan nada musik yang serupa dapat menggerakan hati Pendengarnya ke arah yang sama, meskipun ia tidak mengerti bahasa lirik lagu yang dinyanyikan.

Struktur yang Membentuk Sifat Dasar Seni

Lalu bagaimana sifat-sifat dasar seni tersebut dapat terbentuk? Jawabannya dapat diambil dari struktur-struktur pembentukan Seni itu sendiri. The Liang Gie (1976: 70) menjelaskan bahwa dalam semua jenis kesenian, secara umum terdapat unsur-unsur yang membangun struktur karya seni sebagai berikut ini.

Struktur Seni

Struktur seni

Struktur seni adalah tata hubung sejumlah unsur-unsur seni yang membentuk suatu kesatuan karya seni utuh. Contoh struktur seni dalam bidang Seni Rupa adalah: garis, warna, bentuk, bidang dan tekstur yang biasa disebut dengan Unsur-Unsur Seni Rupa. Sementara itu pada  bidang Seni Musik adalah irama dan melodi. Unsur-unsur bidang Seni Tari adalah: wirama, wirasa dan wiraga. Bidang seni teater adalah: gerak, suara dan lakon.

Tema

Tema adalah ide pokok yang dipersoalkan dalam karya seni. Ide pokok suatu Karya Seni dapat dipahami atau dikenali melalui pemilihan Subject Matter atau Pokok Persoalan dan Judul Karya. Subject Matter dapat berhubungan dengan niat estetis atau nilai kehidupan lainnya, yakni: objek alam, kebendaan, suasana dan peristiwa yang dikemas dalam metafor atau simbolisasi lainnya.

Medium

Medium yang dimaksud disini adalah sarana yang digunakan untuk mewujudkan gagasan Seniman menjadi suatu Karya Seni melalui pemanfaatan material/bahan dan alat serta penguasaan teknik berkarya. Tanpa medium Karya Seni tidak dapat diciptakan, karena Medium adalah tubuh yang dirasuki oleh gagasan atau konsep Seni.

Gaya

Gaya atau Style dalam karya seni adalah ciri, kepribadian, atau gaya personal yang khas dari sang seniman. Sering kali orang-orang berpendapat bahwa Gaya dan Aliran adalah sama. Namun, sebenarnya keduanya mempunyai perbedaan prinsipil. Seperti yang diutarakan oleh Soedarso Sp. (1987: 79), bahwa gaya adalah ciri bentuk luar yang melekat pada karya seni. Sementara, Aliran lebih berkaitan dengan pandangan atau prinsip seniman dalam menanggapi sesuatu.

Penelusuran Sifat Dasar Seni

Meskipun struktur dapat menjadi salah satu jawaban atas hadirnya Sifat Dasar Seni, kita tidak hanya dapat menarik kesimpulan dari teori itu saja untuk menentukan asal-muasalnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, The Liang Gie merumuskannya dari berbagai teori dan filsafat seni.

Teori itu mencakup pengertian seni itu sendiri, berbagai filsafat seni dan berbagai pemikiran dari Seniman-Seniman berdasarkan pandangan Gaya atau Aliran Seni yang mereka anut. Menelusuri berbagai teori-teori Seni tersebut, tentunya adalah cara yang harus ditempuh pula untuk mengetahui pembentukan Sifat Dasar Seni.

Referensi

  1. The Liang Gie. (1976). Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan). Yogyakarta: Karya.
  2. Soedarso, SP. (1987). Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar untuk Apresiasi. Yogyakarta: Saku Dayar Sana.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas