Piaget adalah seorang ahli biologi, filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya mengenai teori perkembangan kognitif. Menurut Glasersfeld, Jean Piaget adalah juga perintis besar dalam teori konstruktivis tentang pengetahuan. Karya Piaget pun banyak dikutip dalam berbagai karya ilmiah lain yang membahas psikologi kognitif. Bahkan, Piaget dianggap sebagai bapak perintis dari aliran teori ini.

Biografi Piaget

Jean Piaget adalah filosof, ilmuwan, dan psikolog perkembangan yang terkenal karena hasil penelitiannya mengenai anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Ia dilahirkan pada 9 Agustus 1896 di Neuchâtel di wilayah Swiss yang berbahasa Prancis. Ayahnya, Arthur Piaget, adalah seorang profesor dalam sastra Abad Pertengahan di Universitas Neuchâtel.

Piaget adalah seorang anak yang dewasa lebih awal dalam artian dari sejak kecil ia telah memiliki ketertarikan tinggi pada ilmu pengetahuan. Karirnya dalam penelitian ilmiah bahkan sudah dimulai dari sejak ia baru berusia 11 tahun dengan diterbitkannya sebuah makalah pendek pada 1907 mengenai burung gereja albino.

Piaget memperoleh gelar Ph.D. dalam Ilmu Alam dari Universitas Neuchâtel, dan ia juga sempat belajar sebentar di Universitas Zürich. Selama masa ini, ia menerbitkan dua makalah filsafat yang memperlihatkan arah pemikirannya pada saat itu yang nantinya ia tolak karena dianggap sebagai karya tulis seorang remaja. Minatnya terhadap psikoanalisis, sebuah aliran pemikiran psikologi yang berkembang pada saat itu mulai muncul di periode ini.

Piaget sempat mengajar di sekolah khusus untuk anak-anak yang dikelola oleh Alfred Binet di Grange-aux-Belles, Prancis. Ketika mengajar di sekolah inilah Piaget memperhatikan bahwa anak-anak terus-menerus memberikan jawaban yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan tertentu. Di sini Piaget mulai menyadari bahwa anak terus-menerus membuat kesalahan dalam pola yang sama, yang tidak akan dilakukan oleh remaja dan orang dewasa. Observasinya di situlah yang menyebabkan Piaget mengajukan teori bahwa pemikiran atau proses kognitif anak pada dasarnya berbeda dengan remaja dan orang dewasa.

Pada 1929, Jean Piaget menerima jabatan sebagai Direktur Biro Pendidikan Internasional, yang dipegangnya hingga 1968. Selanjutnya, Piaget menjabat sebagai profesor psikologi di Universitas Geneva dari 1929 hingga 1980. Pada masa inilah ia menyusun kembali teori perkembangan kognitif dari James Mark Baldwin menjadi empat tahap perkembangan, yakni: masa infancy, pra-sekolah, anak-anak, dan remaja.

Semasa hidupnya, Piaget menerima kurang lebih 12 tanda penghargaan. Sampai saat meninggal Piaget bekerja terus mencari fakta-fakta dan berdasarkan fakta-fakta itu ia secara terus menerus memperdalam pemahamannya. Piaget meninggal pada tahun 1980 (umur 84 tahun) di Kota Jenewa yang tidak jauh dari Neuchatel (kota kelahirannya).

Teori Belajar Piaget

Piaget dalam (Suyono & Hariyanto, 2017, hlm. 83) berpendapat bahwa Setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahapan yang teratur. Proses berpikir anak merupakan suatu aktivitas gradual, tahap demi tahap dari fungsi intelektual, dari konkret menuju abstrak. Pada suatu tahap perkembangan tertentu akan muncul struktur kognitif tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap bergantung kepada pencapaian tehapan sebelumnya.

Apa yang diungkapkan oleh PIaget tersebut kemudian disebut dengan teori perkembangan kognitif, yang sering disebut pula teori perkembangan intelektual, atau teori perkembangan mental. Teori ini berkenaan dengan kesiapan siswa untuk belajar yang dikemas dalam tahap-tahap perkembangan intelektual. Piaget (dalam Djiwandono, 2018, hlm. 72) membedakan tahap-tahap perkembangan kognitif tersebut menjadi 4 tahapan perkembangan, yakni sebagai berikut.

No. Tahap Perkembangan Keterangan
1. Sensory-motor, usia 0 – 2 tahun Kemampuan pada tahap sensomotorik merujuk pada konsep permanensi objek, yaitu kecakapan psikis untuk mengerti bahwa suatu objek masih tetap ada.
2. Praoperasional, usia 2 – 7 tahun Kemampuan menggunakan simbol-simbol yang menggambarkan objek yang ada di sekitarnya. Cara berfikirnya masih egosentris dan terpusat.
3. Concrete Operational, usia 7 – 11 tahun Mampu berpikir dengan logis dan konkret. Memperhatikan lebih dari satu dimensi dan juga dapat menghubungkan antar dimensi. Kurang egosentris dan belum bisa berpikir abstrak.
4. Formal Operational, usia remaja – dewasa. Mampu berpikir secara abstrak dan dapat menganalisis masalah secara ilmiah hingga kemudian menyelesaikan masalah.

Proses Belajar Piaget

Piaget berpandangan bahwa perkembangan kognitif adalah suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem saraf seorang individu. Piaget juga berpendapat bahwa pengetahuan sebagai hasil belajar berasal dari dalam individu, tidak sepenuhnya dari lingkungannya saja seperti yang diungkapkan pada Teori Behaviorisme. Teori Belajar Piaget juga mengemukakan bahwa proses pengamatan seseorang terhadap lingkungan atau adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui proses asimilasi dan proses akomodasi (Trianto, 2019, hlm. 70).

Proses asimilasi dan akomodasi ini sering juga disebut dengan proses adaptasi. Melalui kedua proses tersebut, seorang anak akan mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya yang disebabkan oleh adanya proses berpikir. Perubahan-perubahan tersebut akan terus berlangsung dan berkelanjutan hingga akhirnya terjadi ekuilibrium (keseimbangan). Selama proses pembelajaran sedang berlangsung, siswa akan terus melakukan proses asimilasi dan akomodasi hingga pengetahuan yang dimilikinya akan bertambah ataupun berubah.

Tentunya proses belajar yang terjadi tersebut memiliki kriteria-kriteria yang harus dicapai untuk mengindikasikan bahwa seorang siswa atau pembelajar tengah mengalaminya. Indikator dan kriteria proses belajar menurut Piaget tersebut adalah sebagai berikut.

Proses Berpikir Keterangan/Indikator
Asimilasi
  1. Jika siswa mempunyai pengalaman yang sama ataupun hampir sama dengan perintah yang diberikan.
  2. Siswa menyesuaikan pengalamanpengalaman baru yang diperolehnya untuk disesuaikan dengan struktur skema yang ada dalam dirinya.
Akomodasi
  1. Jika pengalaman siswa tidak sesuai dengan perintah yang diberikan.
  2. Siswa menyesuaikan skema yang ada dalam dirinya dengan fakta-fakta baru yang diperoleh melalui pengalaman dari lingkungan sekitarnya.
Ekuilibrium
  1. Siswa mempunyai pengalaman yang sama dengan perintah yang diberikan.
  2. Siswa menyesuaikan skema yang ada dalam dirinya dengan fakta-fakta baru yang telah diperolehnya melalui pengalaman dari lingkungannya.

Sumber: (Trianto, 2010, hlm. 71)

Teori Belajar Kognitif

Pada dasarnya, seluruh buah pemikiran Piaget adalah cikal-bakal dari lahirnya teori belajar kognitif. Sepeti yang diungkapkan oleh Thobroni (2015, hlm. 79) bahwa teori kognitif adalah teori yang dikembangkan oleh Piaget. Teori kognitif membahas munculnya dan diperolehnya skemata bagaimana seseorang mempersiapkan lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan dan saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental.

Menurut Teori Kognitif, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman, dan tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Asumsi dasar teori ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan tersebut tertata dalam bentuk struktur kognitif. Dalam teori kognitif, disebutkan bahwa proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.

Menurut Suprijono dalam (Thobroni, 2015, hlm. 80), belajar dari perspektif kognitif merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral tampak lebih nyata hampir dalam setiap peristiwa belajar. Hal tersebut merupakan bentuk penolakan utama terhadap behaviorisme dari Piaget. Perilaku individu bukan semata-mata respons terhadap yang ada, melainkan dari dorongan mental yang diatur oleh otaknya pula.

Baca juga: Teori Belajar Kognitif : Pengertian, Ciri, Prinsip, dsb

Teori Belajar Konstruktivisme

Revolusi konstruktivisme mempunyai akar yang kuat dalam sejarah pendidikan, dan perkembangan teorinya tidak lepas pula dari usaha Piaget dan Vygotsky. Kedua tokoh Psikologi Pendidikan ini menekankan bahwa perubahan kognitif ke arah perkembangan terjadi ketika konsep-konsep yang sebelumnya sudah ada mulai bergeser karena ada sebuah informasi baru yang diterima melalui proses ketidakseimbangan (Baharuddin & Wahyuni, 2015).

Namun demikian, perkembangan Konstruktivisme juga tidak dapat lepas dari tokoh penting lainnya, yakni Giambatissta Vico. Menurut Glaserfeld dalam Suparno (2012), pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Piaget. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya sudah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistemolog dari Italia yang menyatakan bahwa pengetahuan selalu

menunjuk kepada struktur konsep yang dibentuk, pengetahuan tidak lepas dari orang (subjek) yang tahu, dan pengetahuan merupakan struktur konsep dari pengamat yang berlaku. Hanya saja, banyak ahli yang memandang bahwa pada saat Vico mengungkapkan gagasan ini, ia belum dapat membuktikannya, dan Piaget dan Vygotsky-lah yang pada akhirnya berhasil melakukan penelitian lebih lanjut.

Baca juga: Teori Belajar Konstruktivisme : Pengertian, Ciri, Prinsip, dsb

Referensi

  1. Baharuddin, & Wahyuni, E. N. (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
  2. Djiwandono, S.E.W. (2018). Psikologi pendidikan. Jakarta : Gramedia.
  3. Suyono, & Hariyanto. (2017). Belajar dan pembelajaran teori dan konsep dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  4. Thobroni. (2015). Belajar & Pembelajaran, Teori dan Praktik. Yogyakarta: ArRuzz Media.
  5. Trianto. (2019). Model Pembelajaran Terpadu (cetakan-9). Jakarta: Bumi Aksara.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.