Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri (Mulyadi dkk, 2016, hlm. 43). Altruisme berbeda dengan kebaikan atau perhatian yang terjadi sebagai akibat dari loyalitas atau kewajiban. Oleh karena itu, altruisme ini sering digambarkan sebagai The Golden Rules of Ethic atau aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme merupakna lawan dari egoisme yang justru hanya mementingkan diri sendiri.

Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan balasan atau ganjaran. Sementara itu loyalitas atau kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, atasan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Perilaku yang memiliki keinginan untuk memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan disebut sebagai sikap altruisme murni.

Beberapa ahli berpendapat bahwa altruisme setara dengan perilaku prososial yang pada hakikatnya ingin menguntungkan orang lain (bukan diri sendiri). Seperti yang diungkapkan oleh Baron & Byrne Alma Mulyadi dkk (2016, hlm. 43) bahwa perilaku prososial adalah setiap perilaku yang memiliki tujuan untuk menguntungkan orang lain.

Altruisme juga dapat merujuk pada suatu doktrin etis yang mengklaim bahwa individu-individu secara moral berkewajiban untuk dimanfaatkan bagi orang lain (Mulyadi dkk, 2016, hlm. 44). Konsep ini memiliki sejarah panjang dalam filsafat dan etika berpikir. Istilah ini awalnya diciptakan oleh pendiri sosiologi dan filsuf ilmu pengetahuan, Auguste Comte, dan telah menjadi topik utama bagi psikolog, biologis evolusioner, dan etolog. Minat yang sama namun dikaji dengan cara dan fokus yang berbeda dari berbagai bidang tersebut menghasilkan perspektif yang luas dan berbeda pula pada altruisme.

Pengertian Altruisme menurut Para Ahli

Misalnya, menurut Baron & Byrne (1994 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 45) Altruisme didefinisikan sebagai tingkah laku yang merefleksikan pertimbangan untuk tidak mementingkan diri sendiri demi kebaikan orang lain, sehingga bertindak untuk kepentingan orang lain sebagai tujuannya, bukan sebagai cara agar diakui oleh masyarakat atau untuk kesejahteraan dirinya sehintta individu tidak lagi menganggap dirinya sebagai pusat yang perlu diperhatikan (center of the attention).

Sementara itu menurut Sears & Peplau (1994 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 44) Altruisme adalah perilaku menolong yang timbul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban, melainkan tindakan tersebut bersifat suka rela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain dan tidak berdasarkan norma-norma tertentu, tindakan tersebut juga tidak merugikan penolong, karena tidak meminta pengorbanan waktu, usaha, uang, dan tidak mengharapkan imbalan apa pun dari semua pengorbanan, kecuali telah memberikan suatu kebaikan.

Sedangkan menurut Myers (1996 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 45) Altruisme adalah respons yang menimbulkan positive feeling, seperti empati. Seseorang yang altruis memiliki motivasi altruistik, keinginan untuk selalu menolong orang lain. Motivasi altuistik tersebut muncul karena ada alas an internal di dalam dirinya yang menimbulkan positive feeling, sehingga dapat memunculkan tindakan untuk menolong orang lain. Dua alasan internal tersebut pada akhirnya tidak akan memunculkan egoistic motivation (egocentrism).

Baron dan Byrne, (2006 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 45) berpendapat bahwa altruisme (altruism) dapat diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan pada kebaikan orang lain. Tindakannya sendiri adalah kewajiban, bukan suatu hal yang dilakukan sebagai kewajiban. Suatu tindakan altruistic adalah tindakan kasih yang dalam bahasa Yunani disebut Agape. Agape adalah tindakan mengasihi atau memperlakukan sesama dengan baik semata-mata untuk tujuan kebaikan orang itu dan tanpa dirasuki oleh kepentingan orang yang mengasihi. Maka, tindakan altruistik pastilah selalu bersifat konstruktif, membangun, memperkembangkan dan menumbuhkan kehidupan sesama.

Selanjutnya Campbell (2006 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 45) menganggap altruisme sebagai suatu tindakan yang tidak berhenti pada perbuatan itu sendiri, tetapi keberlanjutan tindakan itu sebagai produknya dan bukan sebagai kebergantungan dan disebut disebut moralitas altruistik, di mana tindakan menolong tidak sekedar mengandung kemurahan hati atau belas kasihan, tertapi diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan sesame tanpa pamrih.Dari hal tersebut seseorang yang altuistik dituntut memiliki tanggung jawab dan pengorbanan yang tinggi.

Aspek Perilaku Prososial/Altruisme

Terdapat beberapa aspek atau komponen yang membentuk suatu perilaku prososial. Menurut Kruglanski dan Higgins (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 48) beberapa aspek dari tingkah laku prososial atau altruisme tersebut adalah sebagai berikut

  1. Perilaku Memberi
    Perilaku ini bersifat menguntungkan bagi orang lain yang mendapat atau yang dikenai perlakuan dengan tujuan memenuhi kebutuhan atau keinginan orang lain, perilaku ini dapat berupa barang atau yang lainya. Pada mahasiswa misalnya memberikan bantuan pada mahasiswa yang lain saat mengerjakan tugas salah satu mata kuliah.
  2. Empati
    Aronson & Akert (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 48) menjelaskan bahwa empati adalah kemampuan untuk mengetahui perasaan orang lain dan ikut berperan dalam pergulatan di arena kehidupan, kesadaran terhadap perasaan kebutuhan dan kepentingan orang lain, ciri empati yang tinggi adalah memahami orang lain dengan minat aktif terhadap kepentingan mereka, orientasi pelayanan, mengembangkan orang lain, dan menumbuh kembangkankan hubungan saling percaya. 49 Empati membutuhkan cukup banyak ketenangan dan kesediaan untuk menerima, sehingga sinyal-sinyal perasaan halus dari orang lain dapat diterima dan ditirukan oleh otak emosional orang itu sendiri. Lebih lanjut Dayakisni dan Hudaniah (2003 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 49) menjelaskan bahwa dalam sikap empati yang terus menerus akan terlibat dalam pertimbangan-pertimbangan moral. Mahasiswa yang memiliki empati tinggi maka mahasiswa tersebut akan lebih mudah untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
  3. Suka Rela
    Tidak adanya keinginan untuk mendapatkan imbalan apapun kecuali sematasemata dilakukan untuk kepentingan orang lain. Misalya mahasiswa yang menjadi panitia pada sebuah acara yang dilaksanakan oleh fakultas.
  4. Komponen Altruisme
    Ada tiga komponen dalam altruisme, yaitu: loving others (mencintai orang lain), helping them doing their needs (membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka butuhkan) , dan making sure that they are appreciated (memastikan orang lain merasa terapresiasi).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Altruisme

Sebagai suatu perilaku atau sikap, tentunya altruisme atau sikap prososial dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menentukannya. Menurut Wortman (1997) beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku altruisme atau prososial adalah sebagai berikut.

  1. Suasana Hati,
    saat suasana hati senang, orang juga akan terdorong untuk memberi pertolongan lebih banyak.
  2. Empati,
    pengalaman menempatkan diri pada keadaan emosi orang lain, menjadikan orang yang berempati seolah-olah mengalaminya sendiri.
  3. Meyakini Keadilan Dunia,
    keyakinan bahwa dalam jangka panjang orang yang salah akan dihukum dan orang yang baik akan mendapat ganjaran.
  4. Faktor Sosiobiologis,
    yakni perilaku yang muncul karena adaptasi dengan lingkungan terdekat, dalam hal ini orang tua. Selain itu meskipun minimal, ada pula peran kontribusi unsur genetik.
  5. Faktor Situasional,
    situasi dapat mendorong seseorang untuk memberikan pertolongan kepada orang lain. Misalnya, jika seseorang memang membutuhkan bantuan dan kebetulan kita dapat membantunya di situasi tersebut, maka kemungkinan besar kita akan menolongnya tanpa mengharapkan pamrih sedikit pun.

Menumbuhkan Sikap Altruisme/Prososial

Myers (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 50) mengungkapkan bahwa karakteristik untuk menuju masyarakat prososial atau altruistik dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan dan melakukan beberapa hal-hal di bawah ini.

  1. Emphaty
    Altruisme akan terjadi dengan adanya empati dalam diri seseorang. Seseorang yang paling altruis merasa diri mereka bertanggung jawab, bersifat sosial, selalu menyesuaikan diri, toleran, dapat mengontrol diri, dan termotivasi membuat kesan yang baik.
  2. Belief in Just World
    Karakteristik dari tingkah laku altruisme adalah percaya pada “just world” maksudnya adalah orang yang altruis percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik dan dapat diramalkan bahwa yang baik selalu mendapatkan ”hadiah” dan yang buruk mendapatkan ”hukuman”. Dengan kepercayaan tersebut, seseorang dapat denga mudah menunjukkan tingkah laku menolong (yang dapat dikategorikan sebagai ”yang baik”).
  3. Social Responsibility
    Setiap orang bertanggungjawab terhadap apapun yang dilakukan oleh orang lain, sehingga ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, orang tersebut harus menolongnya.
  4. Internal LOC
    Karakteristik selanjutnya dari orang yang altruis adalah mengontrol dirinya secara internal. Berbagai hal yang dilakukannya dimotivasi oleh kontrol internal (misalnya kepuasan diri).
  5. Low Egocentricm
    Seorang yang altruis memiliki keegoisan yang rendah. Dia mementingkan kepentingan lain terlebih dahulu dibandingkan kepentingan dirinya.

Referensi

  1. Mulyadi, S., Rahardjo, W., Asmarany, A.I, Pranandari, K.(2016). Psikologi sosial. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
  2. Wortman, Camille, Elizabeth Loftus, And Charles Weaver (1997). Psychology (5th Edition). Australia & New Zealand: Mc Graw Hill).

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *