Berpikir merupakan aktivitas mental yang menjadikan kita sebagai manusia. Descartes, seorang filsuf ternama Perancis pernah berkata bahwa “Aku berpikir maka aku ada”. Ungkapan tersebut sejatinya ingin membuktikan bahwa hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan manusia itu sendiri. Maksudnya, gagasan pemikiran manusia sendiri yang menjadikan kita manusia.

Dalam belajar, berpikir merupakan lalapan sehari-hari yang harus dilakukan. Tanpa berpikir, berbagai hal yang kita pelajari tidak akan pernah menerap dan tidak akan memberikan perubahan berarti bagi potensi diri. Oleh karena itu, berpikir merupakan aspek yang harus diperhatikan di dunia pendidikan.  Akan tetapi sebetulnya berpikir saja tidaklah cukup. Hal tersebut karena berpikir yang produktiflah yang akan memberikan dampak perubahan pada berbagai keputusan dan tindakan yang kita lakukan.

Dalam bidang pendidikan, terdapat istilah yang tidak pernah lepas dari konteks ihwal pentingnya berpikir ini. Istilah tersebut adalah berpikir kritis. Apa itu berpikir kritis? Bagaimana cirinya jika seseorang sedang melakukannya? Apa saja tujuan dan manfaatnya? Berikut adalah berbagai uraian yang akan mengupas tuntas mengenai berpikir kritis, mula dari pengertian, karakteristik, indikator, tujuan, dan manfaatnya.

Pengertian Berpikir

Berpikir merupakan salah satu hal yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya. Bukan hanya antarmanusia saja, berpikir juga menjadi salah satu pembeda manusia dari makhluk lain, dengan alat utama bahasa. Binatang tidak memiliki bahasa (hanya semantik saja) oleh karena itu, mereka tidak dapat berpikir.

Menurut Helmawati (2019, hlm. 99) pengertian berpikir secara umum dilandasi oleh asumsi aktivitas mental atau intelektual yang melibatkan kesadaran dan subjektivitas individu yang merujuk pada suatu tindakan pemikiran, ide-ide, atau pengaturan ide. Pengaturan atau manajemen ide dapat berupa pertimbangan untuk menentukan benar atau salah, penalaran khusus, hingga penyelesaian masalah.

Berpikir adalah proses yang diakletis, artinya selama kita berpikir, pikiran kita dalam keadaan tanya jawab, untuk dapat meletakkan hubungan pengetahuan kita (Ahmadi dan Supriyono dalam Najla, 2016). Dapat dikatakan bahwa secara otomatis kita akan bertanya dan menjawabnya sendiri pada saat kita sedang berpikir.

Sementara itu, menurut Santrock (dalam Rahmawati, 2014) berpikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori. Proses Ini sering dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar dan berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah. Artinya, berpikir merupakan suatu proses yang dilakukan hampir oleh seluruh aktivitas mental atau intelektual kita.

Dapat disimpulkan bahwa berpikir adalah proses aktivitas mental atau intelektual yang menghasilkan representasi mental baru melalui transformasi informasi yang melibatkan interaksi secara kompleks meliputi aktivitas tanya-jawab, penalaran, dan pemecahan masalah dalam rangka mendapatkan pemecahan masalah yang sedang dihadapi.

Pengertian Kritis

Tentunya, dalam konteks berpikir kritis, istilah “kritis” di sini bukanlah mengacu pada keadaan genting atau gawat yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu usaha. Istilah kritis di sini mengacu pada bersifat tidak lekas percaya, atau selalu berusaha untuk menemukan kekeliruan dalam suatu penganalisisan.

Kata kritis berasal dari bahasa Yunani yaitu kritikos dan kriterior. kata “kritiko” berarti pertimbangan sedangkan kata “kriterior” mengandung makna ukuran baku atau standar. Sehingga secara etimologi kata “kritis” mengandung makna pertimbangan yang didasarkan pada suatu ukuran yang baku atau standar.

Kritis sebagaimana digunakan dalam istilah “berpikir kritis” memiliki konotasi pentingnya pemikiran yang mengarah pada pertanyaan isi atau pada masalah yang memprihatinkan. Kritis dalam konteks ini tidak hanya berarti suatu penolakan atau sesuatu yang negatif saja. Ada yang positif dan berguna, misalnya merumuskan solusi yang terbaik untuk masalah pribadi yang kompleks, berunding dengan kelompok tentang tindakan yang harus diambil, atau menganalisis asumsi dan kualitas metode yang digunakan secara ilmiah dalam menguji suatu hipotesis (Helmawati, 2019, hlm. 103).

Pengertian Berpikir Kritis

Berdasarkan pengertian dari “berpikir” dan “kritis” yang telah diuraikan di atas, pengertian berpikir kritis atau critical thinking adalah proses aktivitas mental atau intelektual yang melibatkan interaksi secara kompleks meliputi aktivitas tanya-jawab, penalaran, dan pemecahan masalah untuk membuat keputusan atau memecahkan suatu masalah.

Pernyataan di atas sejalan dengan Nurhasanah, dkk (2020, hlm. 7) yang berpendapat bahwa berpikir kritis dapat diartikan sebagai proses yang terjadi pada alam pikir seseorang dalam membuat konsep, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi suatu informasi yang telah dikoleksi dan dihasilkan dari observasi, pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran yang mempengaruhi tindakan yang dilakukan.

Sementara itu, menurut Hermawati (2019, hlm. 91) berpikir kritis merupakan sebuah proses aktif dan cara berpikir secara teratur serta secara sistematis guna memahami informasi yang secara mendalam, sehingga kemudian membentuk sebuah keyakinan tentang kebenaran dari informasi yang didapatkan atau pendapat-pendapat yang disampaikan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah suatu aktivitas mental atau intelektual yang dilakukan secara teratur dan sistematis yang melibatkan kesadaran dalam membuat konsep, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi suatu informasi mengenai kebenaran atau kesahihannya untuk menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan atau menyelesaikan persoalan.

Karakteristik Pemikir Kritis

Kita dapat mengenali seseorang yang berpikir kritis dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik  tertentu dari berpikir kritis. Menurut Hasanudin (2017, hlm. 277-278) seorang pemikir kritis memiliki sejumlah karakteristik antara lain sebagai berikut.

  1. Mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dan masalah penting, merumuskan dengan jelas dan teliti.
  2. Mengumpulkan dan menilai informasi-informasi yang relevan, dengan menggunakan gagasan abstrak untuk menafsirkannya dengan efektif.
  3. Menarik kesimpulan dan solusi dengan alasan yang kuat, bukti yang kuat dan mengujinya dengan menggunakan kriteria dan standar yang relevan.
  4. Berpikir terbuka dengan menggunakan berbagai alternatif sistem pemikiran, sembari mengenali, menilai, dan mencari hubungan-hubungan antara semua asumsi implikasi akibat-akibat praktis.
  5. Mampu mengatasi kebingungan, mampu membedakan antara fakta, teori, opini, dan keyakinan.

Indikator Berpikir Kritis

Kita juga dapat mengenali seseorang yang berpikir kritis dengan memperhatikan indikator-indikator tertentu dari berpikir kritis. Facione (2015, hlm. 9-10) mengemukakan bahwa indikator kemampuan inti dalam berpikir kritis terdiri dari 6, yaitu Interpretasi (Interpretation). Analisis (Analysis), Evaluasi (Evaluation), Kesimpulan (Inference), Penjelasan (Explanation), dan Pengaturan diri (SelfRegulation). Berikut adalah penjelasan dari masing-masing indikator berpikir kritis.

  1. Interpretasi
    Memahami dan mengekspresikan makna atau signifikansi dari berbagai macam pengalaman, situasi, data, kejadian-kejadian, penilaian, kebiasaan atau adat, kepercayaan-kepercayaan, aturan-aturan, prosedur-prosedur, atau kriteria.
  2. Analisis
    Mengidentifikasi hubungan-hubungan inferensial yang diharapkan dan aktual di antara pertanyaan-pertanyaan, konsep-konsep, deskripsi-deskripsi, atau bentuk-bentuk representasi lainnya yang dimaksudkan untuk mengekspresikan kepercayaan-kepercayaan, penilaian, pengalaman-pengalaman, alasan-alasan, informasi, atau opini-opini.
  3. Evaluasi
    Menaksir kredibilitas pertanyaan-pertanyaan atau representasi-representasi yang merupakan laporan-laporan atau deskripsi-deskripsi dari persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, kepercayaan, atau opini seseorang, dan menaksir kekuatan logis dari hubungan-hubungan inferensial atau maksud di antara pertanyaan-pertanyaan, deskripsi-deskripsi, pertanyaan-pertanyaan, atau bentuk-bentuk representasi lainnya.
  4. Kesimpulan
    Mengidentifikasi dan memperoleh unsur-unsur yang diperlukan untuk membuat kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal, membuat dugaan-dugaan dan hipotesis mempertimbangkan informasi yang relevan dan menyimpulkan konsekuensi dari data, situasi-situasi, pertanyaan-pertanyaan, atau bentuk-bentuk representasi lainnya.
  5. Penjelasan
    Menyatakan hasil atau alasan kemampuan membenarkan suatu alasan berdasarkan bukti, konsep metodologi, suatu kriteria tertentu dan pertimbangan yang masuk akal, dan kemampuan untuk mempresentasikan alasan seseorang berupa argumen yang meyakinkan.
  6. Pengaturan diri
    Kesadaran untuk memonitor proses kognisi diri sendiri, elemen-elemen yang digunakan dalam proses berpikir dan hasil yang dikembangkan, khususnya dengan mengaplikasikan kemampuan dalam menganalisis kemampuan diri dalam mengambil kesimpulan dengan bentuk pertanyaan, konfirmasi, validasi, dan koreksi (Facione, 2015, hlm. 9-10).

Sementara itu, menurut Ennis (2015, hlm. 2) terdapat 12 indikator kemampuan berpikir kritis yang dirangkum dalam 5 tahapan sebagai berikut.

  1. Klarifikasi dasar (basic clarification)
    Tahapan ini terbagi menjadi tiga indikator yaitu (1) merumuskan pertanyaan, (2) menganalisis argumen, dan (3) menanyakan dan menjawab pertanyaan.
  2. Memberikan alasan untuk suatu keputusan (the bases for the decision)
    Tahapan ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) menilai kredibilitas sumber informasi dan (2) melakukan observasi dan menilai laporan hasil observasi.
  3. Menyimpulkan (inference)
    Tahapan ini terdiri atas tiga indikator (1) membuat deduksi dan menilai deduksi, (2) membuat induksi dan menilai induksi, (3) mengevaluasi.
  4. Klarifikasi lebih lanjut (advanced clarification)
    Tahapan ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mendefinisikan dan menilai definisi dan (2) mengidentifikasi asumsi. 5. Dugaan dan keterpaduan (supposition and integration) Tahapan ini terbagi menjadi dua indikator (1) menduga, dan (2) memadukan.

Manfaat dan Tujuan Berpikir Kritis

Menurut Keynes (2008) tujuan dari berpikir kritis adalah mencoba mempertahankan posisi objketif. Ketika berpikir kritis, maka akan menimbang semua sisi dari semua argumen di mana mengevaluasi kekuatan dan kelemahan. Hal yang paling utama dari berpikir kritis ini adalah bagaimana argumen yang dikemukakan benar-benar objektif.

Sementara itu, manfaat berpikir kritis pada aspek performa akademis menurut Eliana Crespo (2012) yaitu, memahami argumen dan kepercayaan orang lain, mengevaluasi secara kritis argumen dan kepercayaan itu, mengembangkan dan mempertahankan argumen dan kepercayaan sendiri yang didukung dengan baik.  Selain membuat argumen, berpikir kritis sangatlah penting di dalam pendidikan berdasarkan beberapa pertimbangan di bawah ini.

  1. Mengembangkan berpikir kritis di dalam pendidikan berarti kita memberikan penghargaan kepada peserta didik sebagai pribadi (respect a person). Hal ini memberikan perkembangan pribadi peserta didik sepenuhnya karena mereka merasa diberikan kesempatan dan dihormati akan hak-haknya dalam perkembangan pribadinya.
  2. Berpikir kritis merupakan tujuan yang ideal di dalam pendidikan karena mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan kedewasaannya.
  3. Perkembangan berpikir kritis dalam proses pendidikan merupakan suatu cita-cita tradisional seperti apa yang ingin dicapai melalui pelajaran ilmu-ilmu eksak dan kealaman serta mata pelajaran lainnya yang secara tradisional dianggap dapat mengembangkan berpikir kritis.
  4. Berpikir kritis merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan di dalam kehidupan demokrasi. Demokrasi hanya dapat berkembang apabila warga negaranya dapat berpikir kritis di dalam masalah-masalah politik, sosial, dan ekonomi (Zakiah dan Lestari, 2019, hlm. 5-7).

Referensi

  1. Ennis R.H. (2015) Critical Thinking: A Streamlined Conception. In: Davies M., Barnett R. (eds) The Palgrave Handbook of Critical Thinking in Higher Education. Palgrave Macmillan, New York. https://doi.org/10.1057/9781137378057_2
  2. Facione P. A. (2015). Critical Thinking: What it is and why it counts. Measured Reasons and the California Academic Press, Millbrae, CA.
  3. Helmawati. (2019). Pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  4. Nurhasanah, S., Arasti, A., Susanti, F. D., Rumperiai, M. G., & Hindun, I. (2020). Pengembangan Instrumen Penilaian Berpikir Kritis Siswa SMA pada Pembelajaran CBL. Prosiding Seminar Nasional V 2019Peran Pendidikan Dalam Konservasi Dan Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan, 347-353. Malang, Indonesia: Kota Tua.
  5. Rahmawati, Nita Dewi. (2014). Pembelajaran Matematika Dengan Strategi Heuristik Polya Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas VIIIC SMP Negeri 6 Yogyakarta. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta.
  6. Zakiah, Linda & Lestari, Ika. (2019). Berpikir Kritis Dalam Konteks Pembelajaran. Bogor: Erzatama Karya Abadi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.