Konsep musik barat adalah penyusunan utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah sebagai ide atau gagasan yang mendasari dihasilkannya keindahan bentuk, harmoni, dan ekspresi emosi musikal seni musik yang dihasilkan oleh masyarakat Barat. Mengapa demikian? Untuk memastikan kesahihan definisi tersebut, mari kita telusuri masing-masing pengertian dari beberapa kata yang membentuknya, yaitu: konsep, musik, dan barat.

Pengertian Konsep

Istilah konsep berasal dari bahasa latin conceptum yang artinya “sesuatu yang dipahami”. Aristoteles dalam “The classical theory of concepts” (dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 41) menyatakan bahwa konsep adalah penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia. Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran mental yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol.

Konsep dinyatakan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang dibangun dari berbagai macam karakteristik. Kita juga dapat mengartikan konsep sebagai sesuatu yang memiliki komponen, unsur, ciri-ciri yang dapat diberi nama. Jadi, konsep adalah ide atau gagasan yang mendasari terbentuknya sesuatu, dalam konteks ini yakni Musik Barat.

Dengan demikian, dalam konteks musik barat, konsep dapat diartikan sebagai ide atau gagasan yang mendasari dihasilkannya keindahan bentuk, harmoni, dan ekspresi emosi musikal dari masyarakat barat.

Pengertian Musik

Dalam kamus “The Concise Oxford Dictionary” (dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 41) musik didefinisikan sebagai seni menggabungkan suara vokal atau instrumental (atau keduanya) untuk menghasilkan keindahan bentuk, harmoni, dan ekspresi emosi.

Mengapa perlu ada pembedaan konsep musik barat dengan konsep musik lainnya? Pembedaan sebagai upaya mengategorikan atau memberikan ciri-ciri pembeda antara tradisi musik barat dan tradisi musik masyarakat lainnya. Karena sebagai karya budaya, seni musik juga dipengaruhi budaya tempat seni musik itu tumbuh.

Oleh sebab itu, ada istilah musik barat, musik timur, musik modern, musik tradisi, musik kontemporer, musik etis, bahkan terdapat pula musik religius karena pengaruh pandangan hidup para penganut agama tertentu.

Dalam tradisi budaya barat, musik diartikan sebagaimana pernyataan berikut. “Music is the art of arranging and combining sounds able to be produce by human voice or by instruments” yang berarti Bunyi-bunyian atau suara, baik yang berasal dari manusia maupun dari benda-benda atau alat merupakan garapan utama dalam seni musik.

Dalam hal ini arranging and combining diartikan sebagai penataan dan pengombinasian bunyi atau suara. Bunyi atau suara yang tertata dalam pola urutan tertentu, misalnya dari suara rendah hingga tinggi atau sebaliknya, dikenal dengan sebutan nada.

Di antara cabang seni yang lain, musik merupakan salah satu cabang seni yang paling akrab di kehidupan kita. Hal itu kemungkinan karena musik sudah dikenal manusia sejak zaman purba yang menurut peninggalan arkeologis sudah ada sejak zaman Sumeria (5000 SM). Berbeda dengan seni rupa, atau seni benda lain yang kita nikmati wujud nyatanya secara kasat mata (penglihatan), musik dinikmati melalui indera pendengaran. Oleh karena itu, peninggalan seni musik zaman purba hanya dapat ditunjukkan dengan penemuan alat-alat musiknya saja.

Namun, diperkirakan bahwa sejak zaman prasejarah manusia sudah memanfaatkan seni musik untuk berbagai keperluan. Salah satu pemanfaatan utama musik pada masa itu adalah untuk ritual penyembahan kepada para dewa atau nenek moyang.

Pengertian Musik Menurut Para Ahli

Berikut adalah beberapa pendapat para ahli tentang pengertian musik.

Schopenhauer

Schopenhauer, Filsuf Jerman abad ke-19 (dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 43) berpendapat bahwa bahwa musik adalah melodi yang syairnya adalah alam semesta.

David Ewen

Musik adalah ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu yang ingin diungkapkan, terutama aspek emosional (Ewen dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 43).

Dello Joio

Dello Joio (dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 43) menyatakan bahwa mengenal music secara prinsip dapat memperluas pengetahuan dan pandangan selain juga mengenal banyak hal lain di luar musik. Pengenalan terhadap musik akan menumbuhkan rasa penghargaan akan nilai seni, selain menyadari akan dimensi lain di luar suatu kenyataan yang selama ini tersembunyi.

Oleh karena bentuk musik itu terbentang di ruang yang sifatnya spasial, maka ia dapat disejajarkan dengan bentuk-bentuk dalam seni sastra. Jika bentuk-bentuk sastra ditulis secara horizontal, bentuk-bentuk musik ditulis secara horizontal dan vertikal. Arah horizontal menunjukkan dimensi waktu yang menunjukkan awal dan akhir, sedangkan arah vertikal menunjukkan dimensi akustik musikal yang menunjukkan harmoni (keselarasan).

Pendapat-pendapat di atas menyoroti musik dari sisi yang berbeda-beda. David Ewen menyoroti musik dari pengertian teknisnya, sementara itu Schopenhauer memandang musik dari segi filosofinya, selanjutnya Dello Joio lebih menyoroti aspek manfaat dari kegiatan bermusik.

Berdasarkan pengertian musik menurut para ahli di atas, dapat dirumuskan secara singkat bahwa musik adalah seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala rasa indah manusia yang ingin diungkapkan, terutama aspek emosional.

Musik dapat memperluas pengetahuan dan pandangan selain juga mengenal banyak hal lain di luar musik. Pengenalan terhadap musik akan menumbuhkan rasa penghargaan akan nilai seni, selain menyadari akan dimensi lain di luar suatu kenyataan yang selama ini tersembunyi.

Pengertian Tradisi Barat

Masih seperti tradisi masyarakat bumi lainnya, tradisi musik barat juga berawal untuk tujuan spiritual, yaitu untuk memuji keagungan para dewa atau leluhur mereka. Pada zaman itu, masyarakat Yunani menggunakan musik sebagai sarana pemujaan terhadap dewi kesenian bangsa Yunani bernama Musae (cikal bakal nama musik). Hal itulah yang membuat musik tidak bisa lepas dari ritual keagamaan. Alat-alat musik seperti Lyra dan Aulos menjadi alat musik yang digunakan aliran pemuja Apollo dan Dionysus.

Oleh karena itu, pada awalnya musik tersusun atas rangkaian suara (vokal dan instrumental) yang membentuk melodi dan harmoni yang terdengar seperti mantra. Seiring dengan perkembangan peradaban, kepercayaan dan pemujaan terhadap para dewa digantikan oleh kepercayaan kepada Tuhan yang diajarkan oleh agama.

Akhirnya, musik pun diciptakan sebagai sarana peribadahan agama, dalam kebudayaan masyarakat barat, agama yang dirujuk adalah agama Kristen. Musik pun berkembang di gereja-geraja dan istana secara sakral sebagai doa. Musik dalam masa ini biasanya bersifat monofoni dan sakral. Lambat laun, karena seni musik juga menyajikan keindahan musikal yang menyentuh rasa keindahan secara umum, terutama setelah aspek harmoni digarap dengan baik, maka musik pun berkembang menjadi sarana hiburan umum yang menyenangkan dan digemari oleh masyarakat.

Salah satu peradaban musik yang mencolok dari tradisi musik barat adalah susunan nadanya. Susunan nada dalam konsep musik barat menggunakan skala diatonik yang memiliki tujuh not yang berbeda dalam satu oktaf. Dalam notasi solmisasi, not-not tersebut adalah “Do-ReMi-Fa-Sol-La-Si”.

Menganalisis Musik Barat

Di sinilah mengapa konsep musik Barat penting untuk dipelajari. Hal ini karena seperti Bahasa Inggris, konsep Musik Barat juga telah digunakan sebagai standar internasional dalam menganalisis dan menciptakan seni musik secara umum. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa pemaparan mengenai seni musik dari konsep musik Barat. Cara menganalisis tentunya adalah dengan benar-benar memahami berbagai unsur atau satuan-satuan terkecil yang membentuk musik. Berikut adalah pemaparannya.

Unsur-unsur Musik

Seperti karya seni yang lainnya, seni musik juga memiliki unsur-unsur pembentuknya. Unsur-unsur musik menurut Tim Kemdikbud (2018, hlm. 44) meliputi nada, dinamik, tempo, dan irama.

Nada

Seperti telah diuraikan di atas bahwa musik adalah seni yang berhubungan dengan bunyi, maka bunyi menjadi unsur paling penting dalam seni musik. Sebenarnya bunyi tidak hanya identik dengan musik. Komunikasi manusia pun pada awalnya menggunakan bunyi sebagai medianya. Oleh karena itu, bunyi sangat akrab bagi manusia.

Setiap hari manusia mendengar bunyi aneka rupa. Bunyi-bunyian dari yang paling halus seperti bunyi angin yang menyentuh dedaunan sampai bunyi yang paling menggelegar seperti bunyi guntur pasti sering kita dengar dan dengannya kita dapat mengenali lingkungan. Berarti melalui bunyi kita berkomunikasi dengan lingkungan.

Bunyi beraneka rupa, ada bunyi yang enak didengar karena indah, ada pula yang berisik dan kurang enak di telinga. Seni musik berusaha merangkai bunyi-bunyian dengan struktur nada tertentu sehingga membentuk sistem tertentu. Struktur nada itu didasarkan pada tinggi rendahnya nada (pitch), kuat lemahnya nada (dinamik), dan warna nada (timbre). Melalui rangkaian bunyi yang baik, diharapkan kita dapat menghasilkan bunyi indah yang dapat disukai oleh pendengarnya.

Seperti kita ketahui, bunyi dihasilkan oleh getaran suatu benda. Ilmu fisika menjelaskan bahwa bunyi berupa gelombang yang dihasilkan oleh getaran suatu benda. Bunyi yang kita dengar dari sumbernya sebenarnya berupa gelombang yang merambat menuju indera pendengar. Bahkan pada kasus-kasus tertentu bunyi yang merambat itu bila menabrak suatu pembatas atau dinding akan memantul dan kita dengar sebagai gema.

Tinggi Rendah Nada

Ilmu fisika juga menjelaskan bahwa tinggi rendahnya nada ditentukan oleh jumlah getar tiap detik (frekuensi) dari benda yang bergetar. Semakin rendah frekuensi getarnya semakin rendah pula nadanya. Sebaliknya, semakin tinggi frekuensinya, semakin tinggi pula nadanya.

Frekuensi untuk tiap nada bersifat tetap dan berlaku di seluruh dunia. Masing-masing nada dalam tangga nada memiliki jarak ketinggian yang teratur. Manusia normal hanya dapat mendengarkan bunyi yang berfrekuensi anatar 20 Hz sampai dengan 20.000 Hz. Bunyi dalam batas frekuensi tersebut disebut bunyi audiosonik. Yang berfrekuensi di bawah 20 Hz disebut infrasonik dan di atas 20.000 Hz disebut ultra sonik. Bunyi infrasonik dan ultrasonik tidak dapat ditangkap oleh pendengaran manusia.

Sebenarnya jumlah nada yang dapat didengar manusia sangat banyak. Akan tetapi, musik hanya mengambil sebagian saja untuk diolah menjadi sajian musik yang indah. Sebuah nada yang berfrekuensi 440 Hz dipakai dalam musik, tetapi nada-nada lain yang berfrekuensi 441 Hz, 442 Hz, 443 Hz … sampai dengan 465 Hz tidak dipakai. Baru pada nada yang berfrekuensi 466 Hz kita pakai sebagai nada terdekat dengan nada sebelumnya.

Oktaf

Oktaf sangat penting dalam musik karena merupakan interval nada pertama dan terakhir dari suatu tangga nada yang paling banyak digunakan saat ini dalam sistem tangga nada diatonis. Tangga nada tersebut terdiri atas 7 (tujuh) nada sebagai basis musik dari kebudayaan Barat sejak berabad-abad yang lalu. Namun dalam perkembangannya, 7 (tujuh) nada tadi ditambah dengan 5 (lima) nada sehingga keseluruhannya menjadi 12 (dua belas) nada dalam satu oktaf. Pada musik non-Barat atau disebut tangga nada nondiatonis lazim pula disebut tangga nada pentatonis satu oktaf dapat mengandung lebih banyak nada, sampai mencapai 25 (dua puluh lima) nada.

Interval nada terendah dan tertinggi yang mungkin dicapai oleh suara manusia atau alat musik disebut jangkauan nada. Piano, misalnya, memiliki jangkauan lebih dari tujuh oktaf. Suara laki-laki dan wanita sebenarnya memiliki jangkauan yang berbeda satu oktaf.

Jika disusun sebuah pola, susunan nada dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi akan membentuk tangga nada. Tangga nada itu secara berjenjang membentuk oktaf. Frekuensi masing-masing nada ditetapkan dengan aturan tertentu untuk memudahkan sistem tangga nada. Nada a natural yang dalam notasi angka diberi lambang 6 (la) memiliki frekuensi 440 Hz. Sebagai patokan, kita dapat menggunakan alat pembidik nada yang dinamai garpu tala. Garpu tala memiliki frekuensi tetap yang setinggi dengan nada a (la) natural.

Persamaan Frekuensi

Jika nada a adalah 440 Hz, berapakah frekuensi nada-nada lainnya? Cara menentukannya adalah dengan patokan perbandingan interval sebagai berikut.

C D E F G A B C1
24 27 30 32 36 40 45 48

Dengan model perbandingan seperti ini dapat diketahui frekuensi nada-nada yang lain. Sebagai contoh, mari kita cari berapa frekuensi nada c! Ikuti cara berikut!

Diketahui frekuensi nada a = 440 Hz, perbandingan interval nada c dan nada a = 24 : 40 maka,

c : a = 24 : 40

c : 440 = 24 : 40

40c = 440 x 24

c = (440 x 24) : 40 = 264 Hz

Jadi, nada c berfrekuensi 264 Hz.

Sebagai contoh, nada tertinggi pada instrumen musik piano mempunyai frekuensi 4.186 Hz dan nada terendahnya berfrekuensi 27 Hz. Pada manusia, suara laki-laki memiliki nada yang lebih rendah daripada suara perempuan dan anak-anak memiliki ketinggian yang berbeda.

Penulisan Nada

Lagu dapat dikenali lewat tulisan setelah manusia mulai mengenal tulisan. Berbeda dengan bentuk komunikasi bahasa biasa yang penulisannya dengan huruf, musik dikenali dengan notasi musik. Notasi musik adalah sistem penulisan nada lagu, sedangkan satuan nada dalam penulisan musik disebut not. Dengan notasi kita dapat mengenal, membaca, dan menyanyikan sebuah komposisi musik (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 46). Bahkan, kita dapat menuliskan kembali komposisi musik yang telah kita kenal.

Dengan demikian, notasi merupakan perwujudan dari sebuah komposisi musik, sedangkan not merupakan perwujudan dari nada. Jika nada dapat didengar, not dapat dilihat. Jadi, tidak mengherankan bila not disebut pula sebagai lambang nada.

Not Angka

Ada dua cara menuliskan not, yaitu dengan not angka dan not balok. Penulisan nada atau notasi musik dengan not angka adalah cara melambangkan nada dengan lambang angka. Angka yang digunakan adalah angka 1 sampai dengan 7. Untuk nada yang lebih rendah atau yang lebih tinggi tinggal mengulang simbol yang sama. Hanya untuk yang lebih rendah diberi titik di bawahnya dan untuk nada yang lebih tinggi diberi titik di atasnya. Jadi, urutannya adalah sebagai berikut.

Lambang nada dst. ke bawah 1 2 3 4 5 6 7 dst. ke atas
dibaca Do Re Mi Fa Sol La Si

Pelambangan nada dengan not angka sering disebut dengan solmisasi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh teks lagu berikut ini.

Partitur “Hymne Yohanes” karya Giudo de Arezo di atas merupakan lagu yang kemudian dianggap sebagai dasar solmisasi.

Notasi musik dengan not angka cukup mudah untuk diterapkan, terutama untuk menuliskan komposisi musik yang sederhana. Komposisi lagu yang hanya berupa melodi dan syair pokok saja masih dapat disajikan dalam notasi not angka. Namun, kalau notasi musik itu sudah berupa komposisi aransemen untuk penyajian yang besar seperti orkestra, akan terlalu rumit bila dituliskan dengan not angka.

Tinggi rendahnya nada dalam notasi angka sangat relatif. Artinya suatu simbol tertentu, misalnya not 1 (do) dapat benar-benar mewakili nada setinggi nada 1 (do) atau C murni (natural), tetapi juga dapat pula mewakili nada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Oleh karena itu, dalam notasi musik dengan not angka selalu harus dilengkapi dengan penulisan nada dasar.

Penulisan nada dasar itu dimaksudkan untuk mengetahui bahwa nada 1 (do) tersebut seberapa tingginya bila dinyanyikan. Sebagai contoh, lagu yang ditulis dengan nada dasar 1 = C berarti tiap nada 1 harus dinyanyikan setinggi nada C (natural). Demikian pula lagu yang ditulis dengan nada dasar 1 = G berarti tiap nada 1 (do) harus dinyanyikan dengan nada setinggi dengan nada G. Oleh karena itu, dalam buku ini akan lebih banyak dibahas penulisan nada dengan notasi not balok.

Not Balok

Dalam notasi musik, not-not balok ditempatkan di dalam balok not yang lazim disebut sebagai paranada. Paranada berupa 5 garis mendatar dengan jarak yang sama yang mengapit 4 spasi. Perhatikan gambar di bawah ini.

Kegunaan paranada ialah untuk menempatkan not-not balok sesuai dengan sifat-sifat nada yang dilambangkannya. Not yang rendah ditempatkan dalam paranada yang rendah, sedangkan nada yang semakin tinggi ditempatkan di paranada yang semakin tinggi.

Membaca paranada harus dari bawah. Bila kalian menempatkan not di garis ketiga, maksudnya adalah garis ketiga dari bawah. Demikian pula bila kalian menempatkan not dalam spasi keempat maksudnya adalah spasi keempat dari bawah.

Garis dan spasi dalam paranada sama-sama dipergunakan untuk menulis not. Not yang ditempatkan di garis paranada disebut sebagai not garis, sedangkan not yang ditempatkan di dalam spasi paranada disebut sebagai not spasi.

Setiap paranada terbagi-bagi oleh garis tegak lurus menjadi ruas-ruas yang lebih sempit. Ruas seperti itu disebut sebagai ruas birama atau cukup disebut sebagai birama. Garis tegak lurus yang membatasi birama disebut garis birama. Garis birama tingginya harus sama dengan tinggi paranada. Selain ditempatkan dalam paranada, garis birama juga ditempatkan akhir notasi musik sebagai penutup. Birama penutup berupa garis ganda tipis dan tebal. Perhatikan gambar di bawah ini.

Simbol Not Balok

Not balok merupakan simbol nada yang berupa gambar bulatan, bulatan berekor, bulatan berbendera, seperti bentuk kecambah. Untuk lebih jelasnya, simbol not balok di antaranya adalah sebagai berikut.

Ada not yang hanya berupa bulatan. Tetapi ada pula not yang berupa bulatan dan bertangkai. Yang jelas, sebuah not terdiri atas kepala not, tangkai not dan bendera not.

Jika sebuah not dituliskan pada paranada, bulatan atau kepala not besarnya kira-kira sama dengan lebar spasi paranada. Sedangkan panjang tangkainya kira-kira dua setengah kali lebar spasi paranada. Ada yang tangkainya mengarah ke atas. Mengenai arah tangkai not, berlaku ketentuan sebagai berikut.

  1. Jika kepala not terletak di atas garis ketiga, tangkai not harus mengarah ke bawah.
  2. Jika kepala not terletak di bawah garis ketiga, tangkai not harus mengarah ke atas.
  3. Ketika kepala not terletak pada garis ketiga, tangkai not dapat mengarah ke atas atau ke bawah.
  4. Jika kepala not berderet pada tingkat yang sama, tangkai notnya harus searah

Nilai Not

Dilihat dari nilainya, ada beberapa macam not. Harga not memengaruhi panjang-pendeknya nada (durasi). Perbedaan harga not ditandai dengan perbedaan bentuk not. Perhatikan tabel berikut! Harga not juga memengaruhi ketukan dalam sebuah birama.

Dalam notasi angka, tanda titik (.) memiliki nilai yang sama dengan not yang lain. Tetapi dalam not balok tanda titik (.) di belakang not bernilai setengah dari not tersebut. Sehingga jika ada not () berarti not tersebut bernilai 2 + 1 = 3 ketuk.

Bendera Not dan Garis Bendera

Seperti terlihat di dalam tabel di atas, not yang bernilai kurang dari 1 ketuk seperti not 1/8, 1/16, dan yang lebih kecil lagi, dilambangkan dengan not yang berbendera. Makin kecil nilai not makin banyak benderanya. Namun, beberapa not berbendera, khususnya dalam notasi musik instrumentalia, sering kali dihubungkan menjadi satu dengan menggunakan garis lurus. Garis tersebut mewakili bendera not.

Oleh karena itu, disebut juga sebagai garis bendera. Jumlah garis bendera pun sama dengan jumlah bendera not. Jika yang dihubungkan adalah not-not yang berbendera satu, garis benderanya pun satu. Tetapi, jika yang dihubungkan adalah not-not yang berbendera dua, garis benderanya pun dua.

Ketentuan pemakaian garis bendera sebagai berikut.

  1. Garis bendera ditarik dari tangkai not pertama sampai not terakhir yang dihubungkan dengan garis bendera.
  2. Jika ada not yang berlawanan arah tangkainya, harus ada not yang mengalah. Yang dimenangkan adalah arah tangkai not yang terjauh dari garis ketiga.
  3. Pada not yang sama jaraknya dengan garis ketiga, kita bebas menetapkannya. Bisa sama-sama ke atas atau sama-sama ke bawah.
  4. Dengan alasan teknis pada notasi musik instrumentalia dapat diterapkan aturan yang berbeda. Perhatikan contoh di bawah ini.

Namun demikian, pemakaian garis bendera tergantung dari ada atau tidak adanya teks lagu. Pada notasi melodi yang memakai teks lagu, ditetapkan ketentuan sebagai berikut.

  1. Jika teks lagu ditulis dalam bentuk silabis, yakni tiap not hanya mewakili atau suku kata, not-not bendera dibiarkan tetap.
  2. Jika teks lagu ditulis dalam bentuk melismatis, yakni jika dua not atau lebih dituliskan hanya untuk satu suku kata, maka bendera diganti dengan garis bendera.

Garis Lengkung

Ada kalanya beberapa not disatukan karena memiliki nilai yang sama. Ada pula yang disatukan karena hanya mewakili satu suku kata lagu tertentu. Namun, ada pula yang disatukan untuk memperpanjang nada tertentu. Penyatuan not tersebut dilakukan dengan menambahkan garis lengkung terhadap not-not yang disatukan tersebut. Ada 3 macam garis lengkung, yaitu:

-gambar9

  1. Garis Lengkung Melismatis, yaitu garis lengkung yang menyatukan not-not karena beberapa not tersebut hanya memiliki satu suku kata dalam teks lagu. Garis lengkung ini hanya dipakai dalam notasi musik yang memakai teks lagu.
  2. Garis Lengkung Legato. Istilah legato berasal dari kata legare yang berarti mengikat. Maksudnya, garis lengkung lagato berfungsi untuk mengikat dua atau lebih not yang berbeda-beda dalam penyajian yang sambung-menyambung. Jika dinyanyikan secara vokal maka not-not dalam garis lengkung legato ini harus disajikan dalam satu hembusan napas. Garis lengkung legato ditarik dari not pertama sampai not terakhir dari not-not yang diikat dalam satu kesatuan.
  3. Garis Lengkung Legatura. Garis lengkung legatura dipakai oleh sebuah not dan not berikutnya yang merupakan not perpanjangannya. Jadi, yang dihubungkan dengan garis lengkung legatura hanyalah not-not yang sama tinggi, terutama not-not perpanjangan yang melewati garis birama karena tiap awal birama harus dimulai dengan not tidak boleh dengan titik perpanjangan not sebelumnya
  4. Garis Lengkung Portato. Garis lengkung portato digunakan untuk penyajian lagu secara portato, yakni melompat-lompat seperti kanguru. Penyajian portato jarang digunakan. Oleh karena itu, tanda garis lengkung portato jarang digunakan pula. Yang lebih sering digunakan adalah penyajian staccato atau staccatisimo, yaitu penyajian lagu secara berjingkat-jingkat dan putus-putus. Lebih lanjut penyajian staccato dan staccatisimo akan diuraikan dalam bagian lain.

Tanda Diam

Dalam notasi musik, tanda diam dimaksudkan sebagai tanda tidak terjadinya nyanyian (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 52). Pada keadaan ini, penyanyi disarankan untuk mengambil napas sebagai persediaan menyanyi untuk nada-nada selanjutnya. Dalam notasi angka, tanda diam berupa angka 0 (nol). Jika dalam sebuah baris lagu terdapat empat tanda 0 berturut-turut, itu berarti harus diam selama empat ketuk. Pada notasi balok, tanda diam disimbolkan secara berbeda-beda sesuai panjang-pendeknya yang sebanding dengan not.

Perhatikan letak tanda diam dalam paranada.

  1. Tanda diam penuh (empat ketuk) dituliskan menempel di bawah garis keempat paranada.
  2. Tanda diam setengah (dua ketuk) dituliskan menempel di atas garis ketiga paranada.
  3. Sementara itu Tanda diam seperempat (satu ketuk) dituliskan tegak di tempat yang selaras dengan jalur melodi.
  4. Tanda diam seperdelapan (setengah ketuk) dituliskan di tempat yang selaras dengan jalur melodi.

Not-not balok juga diberi nama dengan huruf abjad A sampai G. Di atas not G dan di bawah not A, tujuh nama pokok tersebut diulang. Sebenarnya not balok tidak menunjukkan tinggi rendahnya nada. Bentuk not balok hanya menunjukkan harga yang berhubungan dengan durasi nada (ketukan). Sementara itu tinggi rendahnya nada ditunjukkan oleh paranada. Dengan demikian, letak not-not balok pada paranada yang akan menentukan nama not-not tersebut.

Untuk menaikkan, menurunkan, atau mengembalikan nada setinggi ½ nada digunakan tanda kromatis. Ada 3 (tiga) tanda kromatis yang kita kenal, yaitu tanda kres (#) berfungsi untuk menaikan ½ nada. Untuk menurunkan nada setinggi ½ nada digunakan tanda mol (b). Sedangkan untuk mengambalikan nada ke tinggi semula digunakan tanda pugar. Di samping untuk menaikkan dan menurunkan nada, tanda kres dan mol juga dimanfaatkan untuk menuliskan tanda mula yang menentukan nada dasar sebuah notasi komposisi lagu.

Tinggi rendahnya nada dalam musik dapat menimbulkan suasana yang berbeda. Penggunaan nada-nada rendah akan menimbulkan suasana haru, sedangkan penggunaan nada-nada tinggi akan menimbulkan suasana gembira dan lincah.

Tangga Nada

Seperti sudah dijelaskan di atas, untuk mengetahui tinggi not (nama not) kita harus tahu letak not tersebut dalam paranada. Oleh karena itu, pengetahuan tentang nama garis-garis dan spasi-spasi paranada juga penting. Selain itu, kita juga harus mengenal kunci paranada dalam notasi musik. Dikenal 3 macam kunci paranada, yakni kunci G, kunci F, dan kunci C. Kunci paranada akan menjadi penentu bagi nada-nada yang terdapat pada paranada.

Not G terdapat pada baris kedua, maka not yang terletak di bawah not G atau pada spasi pertama adalah not F. Di bawahnya lagi, pada baris pertama adalah not E. Demikian berturut-turut sampai yang paling bawah. Demikian pula not yang terletak di atas not G atau di spasi kedua paranada adalah not A. Di atasnya lagi, pada baris ketiga adalah not B. Di spasi ketiga not C. Pada baris keempat terletak not D. Di atasnya lagi, pada spasi keempat terletak not E. Dan yang terletak pada baris kelima adalah not F.

Secara berurutan . . . C, D, E, F, G, A, B, C . . . Nada yang disusun bertingkat-tingkat dari yang paling rendah ke yang paling tinggi dalam sistem tertentu disebut sebagai tangga nada. Penyusunan nada dalam tangga nada didasarkan atas jarak nada tertentu. Antara nada yang satu dengan nada yang lain ada yang berjarak 1 nada, ada pula yang berjarak ½ nada. Jarak, yang dalam hal ini lazim disebut sebagai interval, inilah yang akan menentukan kemungkinan variasi nada dan jenis tangga nada.

Deretan nada dari C sampai dengan B disebut oktaf. Demikian pula urutan nada-nada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Maka, sebagai batasan, perlu dijelaskan di sini tentang adanya nama mutlak dari suatu nada. Perhatikan susunan nada dengan nama mutlak menurut tingkat oktafnya.

Susunan Nada menurut Tingkat Oktafnya

Di bawah ini adalah susunan nada menurut tingkat oktafnya.

Oktaf Nama Mutlak Nada
Oktaf 4 c4 – d4 – e4 – f4 – g4 – a4 – b4
Oktaf 3 c3 – d3 – e3 – f3 – g3 – a3 – b3
Oktaf 2 c2 – d2 – e2 – f2 – g2 – a2 – b2
Oktaf 1 c1 – d1 – e1 – f1 – g1 – a1 – b1
Oktaf Kecil c – d – e – f – g – a – b
Oktaf Besar C – D – E – F – G – A – B
Oktaf Contra C1 – D1 – E1 – F1 – G1 – A1 – B1
Oktaf Sub Contra C2 – D2 – E2 – F2 – G2 – A2 – B2

Tangga Nada Diatonis

Istilah diatonis berasal dari kata dia yang berarti dua dan tonis yang berarti hal yang berhubungan dengan nada. Disebut demikian karena dalam sistem tangga nada diatonis terdapat 7 nada yang bila dirinci terdapat 5 nada berjarak sama dan 2 nada berjarak setengahnya. Dengan demikian, tiap nada utuhnya masih dapat dibagi lagi menjadi 2 semi tone (setengah nada).

Tangga nada diatonis terdiri atas tujuh nada yang berinterval satu dan setengah nada. Musik modern dari Eropa umumnya menggunakan tangga nada diatonis ini. Tangga nada diatonis terbagi menjadi dua, yaitu tangga nada mayor dan tangga nada minor.

Sekilas tidak jauh berbeda susunan tangga nada diatonis mayor dan minor. Seolah-olah hanya dibedakan oleh awal dan akhir nada pada susunan tangga nada tersebut. Untuk tangga nada mayor diawali dengan nada c atau do, sedangkan tangga nada diatonis minor diawali dan diakhiri dengan a atau la. Tetapi sebenarnya jika dimainkan pola tangga nada keduanya, akan terasa berbeda. Susunan tangga nada mayor akan menimbulkan kesan riang, bahagia, dan bersemangat. Sedangkan susunan tangga nada minor akan menimbulkan kesan sedih dan suasana sendu dan haru.

Variasi Diatonis Minor

Tangga nada diatonis minor masih memiliki dua variasi lagi, yaitu tangga nada minor melodis dan tangga nada minor harmonis. Susunan tangga nada minor melodis adalah sebagai berikut.

Susunan nada dalam piano, organ, atau pianika jelas menggambarkan susunan tangga nada diatonis yang menggunakan susunan interval 1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½.

Akan tetapi, jika seorang komponis menggubah lagu baik untuk suara manusia (vokal) maupun untuk instrumental, namun jangkauan nada dalam komposisi lagu tersebut mungkin terlalu rendah atau terlalu tinggi, maka lagu tersebut dapat disajikan dengan mengubah nada dasar. Marilah kita mempelajari cara mengubah nada dasar dalam tangga nada mayor dan minor.

Nada dasar dalam tangga nada diatonis mayor yang natural adalah c. Nada dasar natural ini lazim disebut dengan do = c.

Nada pertama dari tangga nada di atas adalah nada do (1). Nada atau not tersebut kita sebut sebagai nada dasar. Ada 2 (dua) cara mengubah nada dasar, yaitu dengan menaikkan ½ nada pada nada yang berinterval ½ pada tangga nada natural. Sering juga disebut dengan memberikan 1 (satu) tanda kres (#) dan dengan menurunkan nada dengan memakai tanda mol (b).

Nada pertama dari tangga nada di atas adalah nada do (1). Nada atau not tersebut kita sebut sebagai nada dasar. Ada 2 (dua) cara mengubah nada dasar, yaitu dengan menaikkan ½ nada pada nada yang berinterval ½ pada tangga nada natural. Sering juga disebut dengan memberikan 1 (satu) tanda kres (#) dan dengan menurunkan nada dengan memakai tanda mol (b).

Tanda Mula dengan kres

Tanda mula berkaitan dengan nada dasar. Cara menentukannya adalah dengan berdasarkan urutan tangga nada natural. Urutan tangga nada natural dianggap sebagai bernada dasar 1 = C (do sama dengan C) tidak ada kresnya. Untuk nada dasar selanjutnya dipakai patokan nada kelima dari urutan nada tersebut. Maka nada dasar berikutnya adalah 1 = G dengan satu kres, dan seterusnya.

Tanda Mula dengan Mol

Hampir sama dengan tanda mula dengan kres, cara menentukan urutan tangga nada dengan mol juga dengan berdasarkan urutan tangga nada natural. Urutan tangga nada natural dianggap sebagai bernada dasar 1 = C (do sama dengan C) tidak ada molnya. Untuk nada dasar selanjutnya dipakai patokan nada keempat dari urutan nada tersebut. Maka nada dasar berikutnya adalah 1 = F dengan satu mol, dan seterusnya.

Dinamik

Dinamik berarti kekuatan, yaitu keras lemahnya atau kuat lembutnya nada dinyanyikan. Dinamik lagu akan memengaruhi suasana lagu tersebut. Ada dua istilah pokok dinamik lagu, yaitu forte yang berarti kuat dan piano yang berarti lembut. Dalam notasi musik forte disingkat f dan piano disingkat p. Karena kuat lemahnya lagu itu bervariasi, masih ada pula variasi dinamik lagu. Berikut adalah tanda-tanda dinamik lagu beserta maksudnya.

Tanda dinamik dituliskan di atas bagian lagu yang memerlukan. Pengaruhnya hanya berlaku bagi not-not yang berada di dekatnya. Namun demikian, dalam praktik, penafsiran seseorang terhadap dinamik lagu tergantung pada yang bersangkutan. Lebih banyak orang memainkan nada-nada rendah dengan lembut sedangkan nada-nada tinggi dengan kuat meskipun tidak terdapat tanda-tanda dinamik lagu. Namun demikian, untuk kepentingan berlatih, lebih baik kalian mematuhi notasi musik secara lebih total karena pencipta lagu atau komposer pasti mempunyai maksud tertentu dalam menuliskan lagunya.

Tempo

Sering kita dengar lagu yang biasanya dinyanyikan dengan lambat tiba-tiba diubah dengan cara dinyanyikan dengan cepat. Mendengar lagu yang diubah kecepatannya, sekejap kita akan merasa janggal. Coba saja nyanyikan lagu “Mengheningkan Cipta” dengan kecepatan seperti ketika kita menyanyikan lagu “Halo-Halo Bandung”. Bagaimana rasanya? Kita merasa aneh karena cita rasa lagu tersebut akan ikut berubah pula.

Oleh karena itu, kecepatan menyanyikan lagu sebaiknya mengikuti petunjuk yang telah dibuat oleh penciptanya. Dalam hal ini kita perlu mengenal istilah tempo. Tempo adalah istilah untuk menentukan cepat lambatnya lagu dinyanyikan. Ada lagu yang bertempo cepat, sedang, dan ada pula lagu yang bertempo lambat. Istilah-istilah sebagai tanda tempo biasanya menggunakan Bahasa Italia. Akan tetapi, dapat juga kita menggunakan istilah dalam bahasa sendiri untuk memberikan tanda tempo tersebut. Pencipta lagu biasanya telah menentukan tempo lagu ciptaannya. Penetapannya dilakukan dengan menuliskan tanda tempo di kiri atas notasi lagu. Tanda tempo sebuah lagu berlaku untuk keseluruhan teks lagu tersebut.

Istilah Tempo Utama
Istilah Keterangan
Largo Lambat sekali
Lento Lebih lambat
Adagio Lambat
Andante Sedang
Moderato Sedang agak cepat
Allegro Cepat
Vivace Lebih cepat
Presto Cepat sekali

Variasai Pemakaian Tanda Tempo

Istilah-istilah tempo di atas dapat berdiri sendiri. Namun, pencipta lagu kadang-kadang masih menambahkan istilah lain bagi lagunya. Penambahan istilah ini tentu ada maksudnya karena ungkapan cita rasa lagu lewat kecepatan lagu tersebut memang harus tergambarkan dengan lebih tepat. Oleh karena itu, sering kita jumpai sebuah lagu diberi tanda tempo berupa gabungan dua istilah, atau berupa penambahan akhiran tertentu, dsb. Berikut ini disajikan beberapa variasi pemakaian tanda tempo.

  1. Menggabungkan dua istilah
    Biasanya dilakukan untuk dua istilah yang berdekatan, misalnya: Allegro Vicave, yang berarti lebih cepat dari allegro tetapi kurang dari vivace.
  2. Menambahkan istilah lain
    Biasanya dilakukan untuk menambahkan sifat tertentu dari sebuah lagu.
    ____ con amore : dengan penuh cinta
    ____ con brio : dengan hidup
    ____ con fiesto : dengan meriah
    ____ con espressione : dengan penuh perasaan
    ____ con dolore : dengan sedih
    ____ con maestoso : dengan agung
    Penerapannya misalnya,
    Adagio con maestoso : lambat dengan agung
    Allegro con fiesto : cepat dengan meriah.
    Untuk praktisnya, istilah con sering dihilangkan, sehingga menjadi: Adagio maestoso, allegro fiesto, dan sebagainya.
  3. Menambahkan akhiran tertentu.
    Biasanya akhiran tersebut adalah etto yang berarti agak dan issimo yang berarti sangat.
    Allegro → allegretto : agak cepat
    Allegro → allegrissimo : sangat cepat
    Largo → largetto : agak lambat
    Largo → largissimo : sangat cepat

Perubahan Tempo

Seperti disinggung di atas, bahwa tanda tempo sebuah lagu berlaku untuk keseluruhan teksnya, kadang kala pencipta masih menginginkan variasi tempo tertentu di bagian-bagian tertentu lagunya. Untuk itu pencipta dapat menggunakan istilah-istilah perubahan tempo. Istilah-istilah tersebut di antaranya adalah:

  1. ritenuto sering disingkat rit, artinya diperlambat.
  2. accelerando sering disingkat accel, artinya dipercepat.
  3. tempo atau tempo primo, artinya kembali ke tempo semula.

Istilah untuk perubahan tempo ini dituliskan di atas paranada pada bagian yang dikehendaki perubahan temponya.

Mengukur Tempo

Sudah dijelaskan di atas bahwa tanda tempo menunjukkan cepat lambatnya lagu dinyanyikan. Tetapi, seberapa tepat kecepatan sebuah tempo harus diterapkan dalam menyanyikan lagu? Bagaimana pula mengukurnya? Johann Nepomuk Malzel (1770 – 1838) menolong kita dengan alat temuannya yang diberi nama Metronome Malzel. Alat ini dapat memberi tanda berupa ketukan teratur yang dapat disetel sesuai dengan tempo lagu. Jika disejajarkan dengan tempo lagu, metronome akan memberi tanda kecepatan sebagai berikut:

  1. Largo : 40 – 60 ketuk per menit
  2. Lento : 60 – 66 ketuk per menit
  3. Adagio : 66 – 76 ketuk per menit
  4. Andante : 76 – 108 ketuk per menit
  5. Moderato : 108 – 120 ketuk per menit
  6. Allegro : 120 – 160 ketuk per menit
  7. Vivace : 160 – 184 ketuk per menit
  8. Presto : 184 – 208 ketuk per menit

Tanda Ulang

Dalam sajian lagu, kita sering mendengar sebuah lagu yang dinyanyikan secara berulang. Kadang diulang secara keseluruhan, kadang yang diulang hanya sebagian. Kadang diulang dari awal, kadang yang diulang hanya bagian tertentu saja. Yang paling sering kita dengar adalah pengulangan lagu hanya bagian refreinnya saja. Dalam notasinya tentu tidak seluruh lagu beserta pengulangannya ditulis. Akan banyak menghabiskan halaman kertas jika demikian. Oleh karena itu, untuk keperluan pengulangan bagian-bagian lagu disini juga dikenalkan cara-cara pengulangan lagu dengan pemakaian tanda ulang.

Tanda ulang bermacam-macam tergantung bagian mana yang akan diulang dalam sebuah notasi lagu. Berikut ini disajikan macam-macam tanda ulang.

  1. Berupa garis penutup yang bertitik dua (:). Dua titik tersebut diletakkan di sebelah kanan garis birama awal pengulangan dan di kiri dua garis penutup.

    Bila terdapat tanda ulang seperti itu, berarti seluruh penulisan lagu dalam apitan tanda titik dua (:) itu harus diulang dua kali, menjadi a – b – c – d – a – b – c – d.

    Bila terdapat tanda ulang seperti di atas, dinyanyikan a – b – c – d – c – d.
  2. Pengulangan yang berbeda di bagian akhir. Cara ini dilakukan bila bagian yang diulang tidak tepat sama dengan ulangannya.

    Penulisan lagu di atas harus dinyanyikan dengan urutan sebagai berikut: a – b – c – d – e – f – g – a – b – c – d – f – h. Pada pengulangannya ruas g tidak dinyanyikan lagi. Dari ruas f langsung melompat ke ruas h. Ruas g yang diberi tanda angka 1 disebut sebagai prima volta (bait pertama) dan ruas h yang diberi tanda angka 2 disebut secunda volta (bait kedua). Jadi maksudnya untuk bait pertama lagu tersebut dari a sampai g dan untuk bait kedua dari a sampai f lalu melompat ke h.
  3. Pengulangan dengan bantuan istilah. Ada dua istilah untuk pengulangan lagu. Keduanya dalam bahasa Italia, yaitu:
    C. al Fine (Da Capo al Fine): diulang dari awal dan berakhir pada tanda Fine.
    D.S. al Fine (Da Segno al Fine): diulang dari tanda Segno

    Contoh di atas harus dinyanyikan a – b – c – d – e – f – a – b

    Contoh di atas dinyanyikan dengan urutan a – b – c – d – e – f – c – d
  4. Tanda untuk mengulang ruas birama pada ruas-ruas berikutnya.

    Contoh di atas harus dinyanyikan dengan urutan a – b – c – d – e – f – c – d.

Referensi

  1. Tim Kemdikbud. (2018). Seni Budaya XI. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *