Pengertian Model Pembelajaran TGT

Model pembelajaran TGT adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan belajar kelompok secara heterogen baik dari latar maupun prestasi akademik dan menempuh permainan (games) serta turnamen atau kompetisi tersistematis yang akan memberikan skor, klasemen, dan juara bagi individu atau kelompok yang berhasil mendapatkan skor terbaik untuk menumbuhkan rasa senang dan motivasi dalam belajar.

Pengertian di atas diperkuat oleh pernyataan Slavin (2015, hlm. 163) yang mengemukakan bahwa TGT adalah pembelajaran kooperatif yang menggunakan turnamen akademik, kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.

Model pembelajaran TGT atau team games tournament yang berarti turnamen permainan tim adalah model pembelajaran yang dikembangkan oleh David De Vries dan Keith Edwards dan merupakan metode pembelajaran pertama yang dicetuskan dari universitas Johns Hopkins (Huda, 2015, hlm. 117).

Sementara itu, Isjoni (2013, hlm. 83) berpendapat bahwa TGT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang terbentuk ke dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 hingga 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku, dan ras yang berbeda.

Lebih dalam lagi, van Wyk (2011, hlm. 185-186) mengemukakan bahwa klasifikasi kelompok dalam TGT terdiri dari empat hingga lima siswa yang sifatnya heterogen mulai dari kemampuan peserta didik, jenis kelamin dan kinerja akademik di kelas. Sementara itu, kegiatan TGT berbentuk turnamen akademik di mana peserta didik bersaing melawan anggota tim lainnya untuk mendapatkan poin, kelompok dengan poin tertinggi akan jadi pemenang.

Lalu seperti apa pelaksanaan model ini? Berikut adalah penjelasannya.

Langkah Langkah Model Pembelajaran TGT

Menurut Slavin (2015, hlm. 163-168) Sintak, penerapan, atau langkah-langkah model pembelajaran TGT adalah sebagai berikut.

1. Presentasi di kelas (klasikal)

Guru memberikan penjelasan mengenai materi yang akan digunakan dalam ekgiatan TGT. Kegiatan ini merupakan pengajaran langsung ceramah atau klasikal yang diiringi diskusi pelajaran untuk memperdalam, mengulas, dan mempelajari materi secara kooperatif.

2. Tim

Belajar bersama dalam tim untuk mempersiapkan diri agar bisa mengikuti games akademik, kelompok yang terbentuk terdiri dari berbagai kemampuan akademik (heterogen). Penentuan kelompok yang heterogen dapat diikuti dengan langkah-langkah berikut:

  1. membuat daftar prestasi akademik;
  2. membatasi jumlah anggota setiap tim 4-6 anak;
  3. memberi nomor kepada siswa mulai dari yang paling atas (misalnya 1,2,3, dst);
  4. meembentuk tim heterogen (jenis kelamin, etnis, agama, dan kemampuan akademik).

3. Games (permainan)

Games terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan dan dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi di kelas dan pelaksanaan tugas kerja tim. Pertanyaan-pertanyaan beserta jawaban telah disediakan dan sudah diberikan nomor. Games dimainkan di atas meja yang terdiri dari masing-masing perwakilan tim yang berbeda.

4. Turnamen

Setelah membentuk tim, anak-anak mulai berkompetisi dalam turnamen. Penentuan turnamen ditentukan dengan cara homogen dengan langkah sebagai berikut:

  1. menggunakan daftar ranking yang telah dibuat sebelumnya;
  2. membentuk kelompok yang mterdiri dari 4-6 siswa;
  3. menentukan anggota dari setiap kelompok berdasarkan kesetaraan kemampuan akademik, misal turnamen yang dibentuk adalah untuk siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi dan ada kelompok turnamen untuk siswa dengan kemampuan akademik rendah.

Langkah Penyelenggaraan Turnamen

Setelah penentuan kelompok selesai, siswa duduk di meja turnamen yang disediakan. Berikut adalah langkah-langkah turnamen:

  1. menyiapkan lembar soal dan lembar jawaban yang telah diberikan nomor;
  2. meletakkan kembali soal dan jawaban di atas meja turnamen;
  3. menentukan pembaca soal pemain dan penantang;
  4. pemain 1 mengambil nomor soal dan memberikannya kepada pembaca soal;
  5. pembaca soal mengambil soal sesuai dengan nomor yang sudah ada;
  6. pemain 1 wajib membaca soal, jika pemain 1 tidak dapat menjawab soal maka pemain yang lain dapat menjawab soal;
  7. petugas yang membaca soal mengambil nomor dan menjadi pemain 1 selalu digilirkan agar semua  anggota tim mendapatkan tugas yang sama;
  8. jika salah satu pemain dapat menjawab soal dengan benar, maka kartu soal akan diambil oleh penjawab soal, namun jika para pemain tidak dapat menjawab soal maka kartu soal dibiarkan saja.

5. Rekognisi Tim

Penghitungan skor dengan melihat seberapa banyak siswa yang dapat mengumpulkan kartu soal dari pemain yang telah dilakukan. Penjumlahan skor dilakukan bersama kelompok heterogen semua perwakilan kelompok bergabung bersama ddengan kelompok heterogen menjumlahkan skor tim yang diperoleh dari permainan. Skor tertinggi akan mendapatkan hadiah.

Sintak dan Penerapan TGT menurut Taniredja

Sementara itu, Taniredja, dkk (2012, hlm. 70-72), langkah-langkah atau sintak dan penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah sebagai berikut:

  1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament mengikuti urutan sebagai berikut: pengaturan klasikal; belajar kelompok; turnamen akademik; penghargaan tim dan pemindahan atau bumping.
  2. Pembelajaran diawali dengan memberikan pelajaran. Selanjutnya, guru memberikan pengumuman kepada semua siswa bahwa akan dilaksanakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament.
  3. Guru memberitahukan kepada siswa bahwa mereka akan bekerja sama dengan kelompok belajar yang dibentuk oleh guru. Kelompok belajar tersebut dibentuk secara heterogen berdasarkan kemampuan akademik siswa.
  4. Siswa bermain dalam meja turnamen mewakili kelompoknya. Setiap meja turnamen terdiri atas 3-4 siswa yang memiliki kemampuan setara. Kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi akan memperoleh penghargaan.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran TGT

Seperti model pembelajaran lainnya, TGT juga memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya lebih unggul jika dibandingkan dengan yang lain. Tentunya, keunggulan tersebut juga diiringin dengan berbagai kelemahan yang menjadi risiko tersendiri dalam penerapannya. Menurut Taniredja, K, dkk (2012, hlm. 72-73), Model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memiliki kelebihan sebagai berikut.

  1. Siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapatnya.
  2. Rasa percaya diri siswa menjadi tinggi.
  3. Mengurangi perilaku menyimpang siswa di dalam kelas, misal mengganggu teman.
  4. Motivasi siswa bertambah.
  5. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap pokok bahasan tertentu.
  6. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi, baik toleransi antarsiswa maupun toleransi antara siswa dan guru.
  7. Siswa bebas mengaktualisasikan seluruh potensi yang ada di dalam dirinya sehingga interaksi antarsiswa maupun interaksi antara guru dan siswa menjadi lebih hidup dan tidak membosankan.

Taniredja, K, dkk (2012, hlm. 72-73) juga mengemukakan kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) di antaranya sebagai berikut.

  1. Tidak semua siswa ikut menyumbangkan pendapatnya.
  2. Kekurangan waktu untuk proses pembelajaran.
  3. Memungkinkan tejadinya kegaduhan jika guru tidak dapat mengelola kelas dengan baik.

Referensi

  1. Huda, M. (2015). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Slavin, Robert.E. (2015). Cooperative Learning. Bandung: Penerbit Nusa Media.
  3. Taniredja,T,dkk. (2012). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bandung: Alfabeta.
  4. Micheal M. van Wyk. (2011). “The Effects of Teams-Games-Tournaments on Achievement, Retention, and Attitudes of Economics Education Students”. J Soc Sci: South Africa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *