Psikoanalisis merupakan aliran psikologi yang dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939). Psikoanalisis yang disebut juga sebagai aliran psikologi dalam (depth psychology) secara sistematis menggambarkan jiwa sebagai sebuah gunung es. Bagian yang muncul di permukaan air adalah bagian yang terkecil, yaitu alam sadar. Sementara itu di bawah permukaannya, adalah bagian yang disebutnya alam bawah sadar atau prakesadaran (subconsciousness atau preconsciousness) dan melebar jauh lebih luas dari pada permukaannya sendiri.

Artinya, psikolanalisis menyatakan bahwa kehidupan manusia sejatinya dikuasai oleh alam pra-kesadaran atau alam bawah sadar yang justru tidak tampak. Frued juga mengemukakan bahwa proses tidak sadar manusia meliputi pikiran, perasaan takut dan keinginan yang tidak disadari seseorang, tetapi memengaruhi perilakunya (Warsah & Dehari, 2021, hlm. 37).

Alam bawah sadar ini berisi dorongan-dorongan yang ingin muncul ke permukaan atau ke alam sadar. Dorongan-dorongan ini terus mendesak ke atas, sedangkan tempat di atas sangatlah terbatas. Terdapat “ego” (aku) yang menjadi pusat kesadaran dan mengatur dorongan-dorongan mana yang harus tetap tinggal di alam bawah sadar, dan mana yang boleh dinaikkan ke alam sadar.

Sebagian besar dorongan-dorongan alam bawah sadar ini memang harus tetap tinggal dalam ketidaksadaran, akan tetapi mereka tidak tinggal diam, melainkan terus mendesak untuk muncul ke permukaan dan apabila “ego” tidak kuat menahan desakan-desakan ini dengan seimbang, maka akan terjadi gangguan kejiwaan.

Dorongan-dorongan yang terdapat dalam alam ketidaksadaran sebagian adalah dorongan-dorongan yang sudah ada sejak manusia lahir, yaitu dorongan seksual dan dorongan agresi, untuk bertahan hidup seperti hewan yang disebut sebagai id. Terdapat pula dorongan-dorongan yang berasal dari kebudayaan, norma, atau pengalaman hidup dari individu seperti pendidikan, asuhan orang tua, dan sebagainya yang disebut sebagai superego.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa psikoanalisis adalah aliran psikologi yang mengusung ide bahwa jiwa atau proses mental manusia sebetulnya didominasi oleh alam bawah sadar yang justru tidak tampak dan memiliki dorongan primitif berupa id serta dorongan normatif berupa superego yang saling bertentangan satu sama lain untuk bisa muncul ke alam sadar dalam pengaturan atau pengawasan ego untuk menentukan dorongan mana yang akan dimunculkan.

Teori Psikoanalisis

Teori psikoanalisis dapat berfungsi sebagai tiga macam teori, yakni:

  1. sebagai teori kepribadian,
  2. sebagai teknik analisa kepribadian, dan
  3. sebagai metode terapi (penyembuhan) (Saleh, 2018, hlm. 162).

Sebagai teori kepribadian, psikoanalisa mengatakan bahwa jiwa terdiri atas tiga sistem, yaitu id, superego, dan ego.

Id

Id terletak di alam bawah sadar atau ketidaksadaran manusia. Id merupakan tempat di mana dorongan-dorongan primitif, yaitu dorongan-dorongan yang belum dibentuk atau dipengaruhi oleh kebudayaan dan pengalaman baru (Saleh, 2018, hlm. 162). Artinya, id berisikan dorongan-dorongan untuk hidup dan mempertahankan kehidupan (life instinct) dan dorongan untuk mati (death instinct) dengan cara apa pun tanpa memperhatikan norma, moral, dan sebagainya.

Bentuk dari dorongan hidup ini dapat berupa dorongan seksual atau disebut juga libido. Sementara itu bentuk dari dorongan mati adalah dorongan agresi, yaitu dorongan yang menyebabkan orang lain ingin menyerang orang lain, berkelahi atau berperang atau marah. Prinsip yang dianut oleh id adalah adalah prinsip kesenangan (pleasure principle), yaitu bahwa tujuan dari id adalah memuaskan semua dorongan primitif ini.

Superego

Superego adalah suatu sistem yang merupakan kebalikan dari id yang sepenuhnya dibentuk oleh kebudayaan, pendidikan dan pengalaman lainnya dalam kehidupan seseorang (Saleh, 2018, hlm. 163). Seorang anak akan mendapat pendidikan dari orang tua dan melalui pendidikan itulah ia mengetahui mana yang baik, mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang, mana yang sesuai dengan norma masyarakat, mana yang melanggar norma.

Saat anak itu menjadi dewasa, segala norma-norma masyarakat yang diperoleh melalui pendidikn dan kebudayaan itu menjadi pengisi dari sistem superego, sehingga superego berisi dorongan-dorongan untuk berbuat kebaikan, dorongan untuk mengikuti norma-norma masyarakat dan sebagainya.

Dorongan-dorongan atau energi yang berasal dari superego ini akan berusaha menekan dorongan yang timbul dari id, karena dorongan-dorongan yang berasal dari id yang masih primitif ini tidak sesuai atau tidak bisa diterima oleh superego. Di sinilah terjadi tekan-menekan antara dorongan-dorongan yang berasal dari id dan superego. Terkadang superego-lah yang menang, namun kadang-kadang justru id-lah yang lebih kuat.

Ego

Ego adalah sistem di mana kedua dorongan dari id dan superego beradu kekuatan yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara kedua sistem yang lainnya, sehingga tidak terlalu banyak dorongan dari id yang dimunculkan ke kesadaran, sebaliknya tidak semua dorongan superego saja yang dipenuhi (Saleh, 2018, hlm. 163). Ego sendiri tidak memiliki dorongan atau energi. Ia hanya menjalankan prinsip kenyataan (Reality Principle), yaitu menyesuaikan dorongan-dorongan id dan superego dengan kenyataan di dunia luar.

Ego adalah satu-satunya sistem yang langsung berhubungan dengan dunia luar, karena itu ia dapat mempertimbangkan faktor kenyataan ini. Ego yang lemah tidak dapat menjaga keseimbangan antara superego dan id. Jika ego terlalu dikuasai oleh dorongan-dorongan dari id saja, maka orang itu akan menjadi sosiopat atau bahkan psikopat (tidak memperhatikan norma-norma dalam segala tindakannya). Sebaliknya, jika seseorang terlalu dikuasai oleh superegonya, maka orang itu akan mengalami psikoneurose atau tidak dapat menyalurkan sebagian besar dorongan-dorongan primitifnya.

Untuk menyalurkan dorongan-dorongan primitif yang tidak bisa dibenarkan oleh superego, maka ego mempunyai cara-cara tertentu yang disebut sebagai mekanisme pertahanan (defense mechanism). Mekanisme pertahanan ini gunanya untuk melindungi ego dari ancaman dorongan primitif yang mendesak terus karena tidak diizinkan muncul oleh superego. Menurut Saleh (2018, hlm. 164-168) sembilan mekanisme pertahanan dari ego yang dikemukakan Freud adalah sebagai berikut.

1. Represi (Repression)

Represi adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan dengan cara menekan suatu hal yang pernah dialami dan menimbulkan ancaman bagi ego ke alam bawah sadar dan disimpan di sana agar tidak mengganggu ego lagi. Bukan sekedar dilupakan, karena hal yang dilupakan sewaktu-waktu dapat muncul kembali meskipun samar-samar. Represi benar-benar menekan sesuatu supaya tidak bisa keluar lagi dari alam bawah sadar.

Contohnya, seorang ayah sedang berjalan-jalan bersama anaknya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang tidak dikenalkan kepada anaknya, karena ia benar-benar tidak sadar bahwa ia mengenalnya. Ia seakan tidak kenal pada orang yang padahal dahulu sempat menjadi tetangganya. Ternyata, pernah terjadi konflik besar terhadap orang itu yang sampai mengguncang jiwa sang ayah, maka ia menekan pengalaman tersebut ke dalam ketidaksadarannya.

2. Pembentukan Reaksi (Reaction Formation)

Mekanisme reaction formation bekerja dengan cara seseorang justru akan bereaksi sebaliknya dari yang dikehendakinya demi tidak melanggar ketentuan dari superego. Misalnya seorang ibu membenci anaknya, karena anak ini hampir merenggut nyawanya sewaktu ibu itu melahirkan. Terdorong oleh id atau insting primitifnya, Ibu ini ingin sekali melenyapkan anaknya (dorongan agresif), tetapi superego tidak membenarkan perbuatan itu. Karena itu, ibu ini bertindak sebaliknya, yaitu sangat menyayangi secara berlebih-lebihan terhadap anak. Sebagai akibat dari kasih sayang yang berlebih-lebihan tersebut, maka anak juga menderita, karena ia serba terkekang dan serba dilarang.

3. Proyeksi (projection)

Karena superego seseorang melarang ia mempunyai suatu perasaan atau sikap tertentu terhadap orang lain, maka ia berbuat seolah-olah orang lain itulah yang punya sikap atau perasaan tertentu itu terhadap dirinya. Misalnya A membenci B. Tetapi superegonya melarang A membenci B (karena misalnya B atasannya), maka A mengatakan bahwa B-lah yang membenci dia.

4. Penempatan yang keliru (displacement)

Jika seseorang tidak dapat melampiaskan perasaan tertentu terhadap orang lain karena hambatan dari superego, maka ia akan melampiaskannya kepada pihak ketiga. Misalnya, A tidak senang karena dimarahi B, tetapi A tidak dapat marah kembali kepada B karena B adalah atasannya, maka kemarahannya ini dilampiaskannya kepada C yang merupakan masih bawahan dar si A.

5. Rasionalisasi (rationalization)

Dorongan-dorongan yang sebenarnya dilarang oleh superego dicarikan penalaran sedemikian rupa, sehingga seolah-olah dapat dibenarkan. Misalnya menurut superego A sebenarnya tidak boleh memukul B, tetapi A tetap memukul B dan memberi alasan bahwa hal itu dilakukannya untuk mendidik B atau agar B di waktu yang akan datang bisa bertingkah laku lebih baik.

6. Supresi (supression)

Seperti represi, supresi juga menekan sesuatu yang dianggap membahayakan ego ke dalam ketidaksadaran. Akan tetapi, hal yang tidak ditekan dalam supresi adalah hal-hal yang datang dari ketidaksadaran sendiri dan belum pernah muncul dalam kesadaran.

Misalnya dorongan Oedipoes Complex, yaitu dorongan seksual dari anak laki-laki terhadap ibunya yang menurut Freud ada pada setiap anak, biasanya tidak pernah dimunculkan dalam kesadaran karena bertentangan dengan superego atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu, umumnya setiap orang secara alami telah mensupresi Oedipoes Complex itu dalam ketidaksadaran.

7. Sublimasi (sublimation)

Dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan oleh superego tetap dilakukan juga dalam bentuk yang lebih sesuai dengan tuntutan masyarakat. Misalnya dorongan agresi untuk membunuh orang lain yang sebenarnya tidak dibenarkan oleh superego tetap dilakukan dengan alasan peperangan; berdansa adalah sublimasi dari dorongan seksual; bertinju adalah olahraga yang merupakan sublimasi dorongan-dorongan agresi.

8. Kompensasi (compensation)

Usaha untuk menutupi kelemahan di salah satu bidang atau organ dengan membuat prestasi yang tinggi di organ lain atau bidang lain. Dengan demikian, maka ego terhindar dari ejekan atau rasa rendah diri. Misalnya, seorang gadis yang kurang cantik tidak berhasil menarik perhatian orang, tetapi dia belajar tekun sekali sehingga walaupun ia gagal menarik perhatian orang dengan kecantikannya ia tetap memperoleh kepuasan karena mengagumi kepandaiannya.

9. Regresi (regression)

Untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau ancaman terhadap ego, individu mundur kembali ke taraf perkembangan yang lebih rendah, misalnya ia menjadi kekanak-kanakan kembali. Misalnya, orang yang sudah memasuki usia tua, takut menghadapi ketuaan, maka ia menjadi kekanak-kanakan kembali.

Infantile Sexuality

Dalam teori psikoanalisis sebagai teori kepribadian, Freud mengatakan bahwa pada setiap orang terdapat seksualitas kanak-kanak (infantile sexuality), yaitu dorongan seksual yang sudah terdapat sejak bayi (Saleh, 2018, hlm. 168). Dorongan ini akan berkembang terus menjadi dorongan seksual pada orang dewasa, melalui beberapa tingkat perkembangan, yakni sebagai berikut.

  1. Fase oral (mulut)
    Pada fase ini kepuasaan seksual terutama terdapat di sekitar mulut. Perbuatan bayi menyusui pada ibunya atau memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya adalah dalam rangka mencapai kepuasaan seksual fase oral ini.
  2. Fase anal (anus)
    Pada usia kira-kira dua tahun, daerah kepuasan seksual berpindah ke anus dan anak mendapat kepuasan dengan menikmati duduk di pispot sampai lama.
  3. Fase phallic
    Terdapat pada anak berusia 6-7 tahun. Kenikmatan seksnya terdapat pada alat kelamin, tetapi berbeda dengan kepuasan seks pada orang dewasa, pada fase ini kepuasan yang diperoleh dari aktivitas seksual belum dihubungkan dengan tujuan pengembangan keturunan.
  4. Fase laten
    Mulai anak berusia 7 atau 8 tahun sampai ia menginjak awal masa remaja, seolah-olah tidak aktivitas seksual. Karena masa ini disebut fase latent (tersembunyi).
  5. Fase genital
    Dimulai sejak masa remaja, segala kepuasaan seks terutama berpusat pada alat-alat kelamin (Saleh, 2018, hlm. 169).

Psikoanalisis sebagai Teknik Analisis Kepribadian

Psikoanalisa di samping sebagai teori kepribadian, dapat pula berfungsi sebagai teknik analisa kepribadian. Analisis kepribadian ini dapat dilakukan untuk dapat menerangkan suatu gejala psikoneurose. Dengan demikian, kita dapat mengusahakan penyembuhan terhadap penderita yang bersangkutan.

Dalam analisis ini umumnya dipergunakan dua cara pendekatan, yaitu pertama-tama melihat dinamika dari dorongan-dorongan primitif (khususnya libido) terhadap ego dan bagaimana superego menahan dorongan-dorongan primitif itu. Selanjutnya perlu dilihat apakah ego bisa mempertahankan keseimbangan antara kedua dorongan yang saling menekan itu. Jika ego tidak bisa memperoleh keseimbangan, maka perlu diteliti apa yang menyebabkan lemahnya ego itu.

Pendekatan kedua adalah pendekatan sejarah kasus (case history), terutama untuk melihat fase-fase perkembangan dorongan seksual apakah berjalan wajar, apakah ada hambatan-hambatan dan jika ada, harus diketahui pula pada fase mana mulai terjadi hambatan tersebut.

Psikoanalisis sebagai Metode Terapi

Teknik-teknik yang dipergunakan dalam menganalisa kepribadian selanjutnya dipergunakan juga sekaligus sebagai teknik psikoterapi. Namun, karena pada prinsipnya psikoanalisis mengakui bahwa faktor penyebab yang tersembunyi di dalam ketidaksadaran sudah bisa diketahui dan dibawa ke kesadaran, maka penderita juga dianggap akan mampu sembuh dengan sendirinya. Hanya diperlukan suatu terapi untuk mengakselerasi dan memastikan kemampuan penyembuhannya berjalan dengan baik dan tidak menyimpang.

Hipnose

Psikoneurose umumnya dapat disembuhkan setelah faktor penyebab dalam ketidaksadaran atau alam bahwa sadar dapat diketahui. Salah satu teknik yang dilakukan untuk menganalisa kepribadian adalah dengan teknik hipnose, yaitu menurunkan ambang kesadaran sehingga sampai pada tingkat ketidaksadaran dan selanjutnya mengeksplorasi ketidaksadaran selama klien dalam keadaan dihipnose ini.

Menurut Freud, teknik hipnose ini hasilnya tidak bisa bertahan lama, karena jika penderita sudah sadar kembali dari hipnose, maka kesadarannya akan menutupi kembali ketidaksadarannya dan dorongan yang berasal dari ketidaksadaran itu akan tetap berada dalam ketidaksadaran dan akan terus mengganggu dalam bentuk neurose.

Analisa Mimpi

Selain itu, teknik yang lain dari teknis psikoanalisi adalah mengajak klien secara sadar untuk mengeksplorasi ketidaksadarannya. Salah satu teknikya adalah analisa mimpi (traumdeutung). Penderita disuruh menceritakan mimpi-mimpinya dan mimpi-mimpi itu kemudian dicoba untuk dianalisa. Freud percaya bahwa dorongan-dorongan primitif, maupun hal-hal yang direpresi, yang tidak muncul dalam kesadaran dapat memunculkan dirinya dalam bentuk simbol-simbol dalam mimpi. Oleh karena itu, dengan menganalisa mimpi Freud mengharapkan bisa mengetahui dinamika kepribadian penderita yang bersangkutan.

Asosiasi Bebas

Teknik yang lain adalah membiarkan klien bicara sendiri sebebasnya dengan menggunakan asosiasi bebeas (free association). Dalam teknik ini, klien yang disuruh berbaring, serileks mungkin diminta untuk mengasosiasikan kata-kata yang diucapkannya sendiri atau kata-kata yang dilontarkan oleh terapis, dengan kata-kata yang pertama kali muncul di ingatannya. Dengan teknik ini, Freud mengharapkan dapat menjajaki isi ketidaksadarannya dari klien yang bersangkutan.

Pada intinya, teknik ini adalah teknik wawancara yang hingga kini merupakan teknik yang paling banyak digunakan oleh para psikiater, tentunya dengan berbagai pengembangan dan prinsip-prinsip terbaru dari teori psikologi lainnya. Psikoanalisis Freud hanyalah dasar atau fundamental dari analisis psikologi. Diperlukan pembelajaran, pendidikan, dan pelatihan khusus yang holistik, serta sertifikasi dari asosiasi psikologi untuk dapat menjadi seorang psikiater atau psikolog.

Penutup

Oleh karena itu, sebagai catatan akhir pada artikel ini, jangan pernah menggunakan dasar psikoanalisis ini untuk melakukan self-diagnosis atau diagnosis terhadap gangguan kejiwaan diri sendiri. Diagnosis itu harus dilakukan oleh orang lain, jika tidak maka tidak dapat disebut sebagai diagnosis. Jika kita merasa membutuhkan bantuan psikologi klinis, maka kunjungi konselor atau psikiatris terdekat, bukan malah melakukan diagnosis terhadap diri sendiri.

Namun jika kita ingin berekspresi melalui karya seperti tulisan, karya seni, atau kebutuhan di luar psikologis klinis maka gunakanlah. Sudah banyak seniman, sastrawan, dan keilmuan sosial serta humaniora lainnya yang telah menerapkan psikoanalisis Freud pada karya mereka.

Referensi

  1. Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.
  2. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.