Sejarah psikologi sebetulnya sudah dapat ditelusuri dari sejak berabad-abad yang lalu bahkan di zaman sebelum masehi. Namun sebagian ahli menganggap bahwa psikologi baru benar-benar terbentuk ketika telah berdiri sendiri sebagai ilmu mandiri. Hal ini karena pada masa sebelumnya, psikologi hanya menjadi komplementer dari kajian-kajian utamanya yang berupa filsafat atau ilmu faal.

Dengan demikian, Dalam garis besarnya, sejarah psikologi dapat dibagi dalam dua tahap utama, yaitu masa sebelum dan masa sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri, dan kedua tahap ini dibatasi oleh berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig pada tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt (Saleh, 2018, hlm. 9). Untuk lebih jelasnya, berikut adalah pemaparan dari kedua masa utama dalam sejarah psikologi.

Masa Sebelum Psikologi Menjadi Ilmu Mandiri

Mula-mula, para filsuf atau filosof Yunani Kuno lah yang mulai memikirkan tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun tentunya pada zaman itu belum ada pembuktian-pembuktian nyata atau empiris, melainkan segala teori dikemukakan berdasarkan spekulasi dan argumentasi logis (akal) belaka.

Dengan kata lain, psikologi pada waktu itu benar-benar masih merupakan bagian dari filsafat sebagai akar dari segala ilmu. Bahkan dapat dikatakan merupakan sekedar cabang atau bagian kecil dari filsafat murni.  Tokoh-tokoh filsafat tersebut yang banyak mengemukakan teori-teori psikologi antara lain adalah Plato (427 – 347 SM) dan Aristoteles (384 – 322 SM).

Berabad-abad setelah itu, psikologi masih juga masih merupakan bagian dari filsafat, antara lain di Perancis muncul Rene Descarters (1596 – 1650) yang terkenal dengan teori tentang kesadaran dan di Inggris muncul tokoh-tokoh seperti John Locke (1623 – 1704), George Berkeley (1685 – 1753), James Mill (1773- 1836) dan anaknya John Stuart Mill (1806 – 1873) yang selanjutnya semua ahli tersebut dikenal sebagai tokoh-tokoh aliran asosiasionisme.

Sementara itu sejumlah sarjana ahli ilmu faal juga mulai menaruh minat pada gejala-gejala kejiwaan. Mereka melakukan eksperimen-eksperimen dan mengemukakan teori-teori yang kemudian memberikan pengaruh besar pada perkembangan psikologi selanjutnya.

Teori-teori yang dikemukakan oleh ahli-ahli ilmu faal ini berkisar tentang syaraf-syaraf sensoris dan Pengantar Psikologi | 11 motoris, pusat-pusat sensoris dan motoris di otak, dan hukum-hukum yang mengatur bekerjanya syaraf-syaraf tersebut. Tokoh-tokoh dari ilmu faal ini antara lain adalah C. Bell (1774 – 1842), F. Magendie (1785 – 1855), J. P. Muller (1801 – 1858), P. Broca (1824 – 1880) dan sebagainya.

Psikologi Sebagai Ilmu Mandiri

Pada tahun 1879 adalah tahun yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Pada tahun 1897 inilah Wundt mendirikan laboratorium psikologi yang pertama kali di Leipzig, Jerman yang dianggap sebagai pertanda berdiri sendirinya psikologi sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya (filsafat dan faal) (Saleh, 2018, hlm. 12).

Aliran Strukturalis

Pada tahun 1879 pula, Wundt memperkenalkan metode yang digunakan dalam eksperimen-eksperimen, yaitu metode introspeksi. Selanjutnya Wundt dikenal sebagai seorang yang menganut strukturalisme karena ia mengemukakan suatu teori yang menguraikan struktur atau susunan (komposisi) dari jiwa.

Aliran psikologi strukturalisme adalah aliran psikologi yang berlandaskan pada struktur, yang berarti sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem (sebagai lawan dari sifat unsur-unsur) dan yang melindungi diri atau memperkaya diri melalui peran transformasi-transformasinya, tanpa keluar dari batas-batasnya atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 19).

Wundt juga dikenal sebagai seorang penganut elementisme, karena ia percaya bahwa jiwa terdiri dari elemen-elemen. Ia pun dianggap sebagai tokoh asosiasionisme, karena ia percaya bahwa asosiasi adalah mekanisme yang terpenting dalam jiwa, yang menghubungkan elemen-elemen kejiwaan satu sama lainnya sehingga membentuk satu struktur kejiwaan yang utuh.

Aliran Fungsionalis

Ajaran-ajaran Wundt ini kemudian disebarluaskan ke Amerika Serikat oleh E. B. Titchener (1867 – 1927). Akan tetapi tidak dapat respon positif karena orang Amerika terkenal Pengantar Psikologi | 13 praktis dan pragmatis. Teori ini tidak diterima karena dianggap terlalu abstrak dan kurang dapat diterapkan secara langsung dalam kenyataan.

Singkat kata, teori Wundt dianggap masih terlalu abstrak dan kurang bisa diterapkan. Bahkan, para sarjana psikologi di Amerika kemudian membentuk aliran sendiri yang disebut fungsionalisme dengan tokoh-tokohnya antara lain William James (1842 – 1910) dan J. M. Cattel (1866 – 1944).

Sesuai dengan namanya, aliran fungsionalisme adalah aliran psikologi yang lebih mengutamakan mempelajari fungsi-fungsi jiwa daripada mempelajari strukturnya (Saleh, 2018, hlm. 13). Aliran ini kemudian akan menjadi peninggalan penting dalam psikotes yang banyak digunakan pada berbagai setting kehidupan. Psikotes ini merupakan teknis evaluasi psikologi oleh J. M. Cattell.

Aliran Wurzburg

Sementara itu, di Jerman sendiri ajaran-ajaran Wundt mulai mendapat kritik dan koreksi. Salah satu murid Wundt, O. Kulpe (1862 – 1915), adalah salah satu yang kurang puas dengan ajaran Wundt dan memisahkan diri dari Wundt untuk mendirikan aliran sendiri di Wurzburg.

Aliran ini yang kemudian dikenal sebagai aliran Wurzburg menolak anggapan Wundt bahwa berpikir itu selalu berupa image atau citra (bayangan dalam alam pikiran). Menurut Kulpe, pada tingkat berpikir yang lebih tinggi apa yang dipikirkan itu tidak lagi berupa image, sehingga Kulpe mengemukakan bahwa ada pikiran yang tak berbayangan (imageless thought).

Aliran Behaviorisme

Hampir bersamaan dengan Wundt, kajian dari para ilmuwan ilmuwan faal terutama yang dilakukan oleh I. P. Pavlov (1849 – 1936) berupa teori-teorinya tentang reflex kemudian berkembang menjadi aliran Behaviorisme di Amerika Serikat. Aliran behaviorisme adalah aliran psikologi yang hanya mengakui tingkah laku yang nyata sebagai objek studinya dan menolak anggapan-anggapan sarjana psikologi lainnya yang mempelajari pula tingkah laku yang tidak nampak dari luar (Saleh, 2018, hlm. 13).

Selain itu, perlu dikemukakan pula peranan seorang dokter berdarah campuran Inggris Skotlandia bernama William McDougall (1871 – 1938) yang telah memberi inspirasi pula kepada aliran-aliran Behaviorisme di Amerika Serikat melalui teori-teorinya yang dikenal dengan nama purpose psychology (psikologi purposif atau psikologi bertujuan).

Penjelasan lebih detial mengenai aliran behaviorisme dapat disimak pada tautan di bawah ini.

Baca juga: Behaviorisme: Pengertian, Perkembangan, Tokoh & Eksperimennya

Aliran Gestalt

Reaksi lain terhadap Wundt di Eropa datang dari aliran Psikologi Gestalt. Aliran ini menolak ajaran elementisme dari Wundt dan berpendapat bahwa gejala kejiwaan (khususnya persepsi, karena inilah yang banyak diteliti oleh aliran ini) haruslah dilihat sebgai keseluruhan yang utuh, yang tidak terpecah-pecah dalam bagian-bagian dan harus dilihat sebagai suatu “Gestalt”. Dengan demikian, aliran gestalt adalah aliran psikologi yang mengajukan teori utama bahwa dalam pengamatan atau persepsi suatu situasi, rangsangan ditangkap secara keseluruhan (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 38). Tokoh-tokoh dari aliran ini adalah M. Wertheimer (1880 – 1943), K. Kofka (1886 – 1941) dan W. Kohler (1887 – 1967).

Penjelasan lengkap mengenai aliran psikologi gestalt, teori, dan prinsipnya dapat disimak pada link di bawah ini.

Baca juga: Teori Gestalt – Pengertian, Prinsip, Perkembangan & Penerapannya

Aliran Kognitif

Selanjutnya aliran Gestalt berkembang lebih lanjut, antara lain melalui tokoh bernama Kurt Lewin (1890 – 1947), yang membawa aliran ini ke Amerika Serikat, hingga menjadi aliran baru yang dinamakan Psikologi Kognitif. Aliran ini merupakan perpaduan antara aliran behaviorisme yang pada tahun 1940- an itu sudah ada di Amerika Serikat dengan aliran Psikologi Gestalt yang dibawa oleh K. Lewin. Aliran kognitif adalah aliran psikologi yang menitikberatkan pada proses-proses sentral manusia seperti sikap, ide, harapan, dan sebagainya untuk mewujudkan tingkah laku (Saleh, 2018, hlm. 14).

Pembahasan lengkap mengenai aliran psikologi kognitif dapat disimak pada tautan di bawah ini.

Baca juga: Psikologi Kognitif: Pengertian, Sejarah, Tokoh & Model (Pengantar)

Aliran Psikoanalisis

Pada perkembangan selanjutnya, peranan dokter-dokter khususnya psikiater (ahli penyakit jiwa) menjadi penting pula dalam perkembangan ilmu psikologi. Dokter-dokter ini umumnya tertarik pada penyakit-penyakit jiwa, khususnya psikoneurosis, dan berusaha mencari penyebab-penyebab dari penyakit ini untuk digunakan dalam upaya mencari teknis penyembuhan atau terapi yang tepat.

Teknik-teknik terapi seperti magnetism dan hipnotisme akhirnya meyakinkan pada dokter ini bahwa di belakang kesadaran manusia, terdapat kualitas kejiwaan yang lain yang disebut ketidaksadaran (unconsciousness) dan justru dalam alam ketidaksadaran itulah terletak berbagai konflik kejiwaan yang menyebabkan penyakit-penyakit kejiwaan.

Sigmund Freud (1856 – 1939) adalah orang yang pertama yang secara sistematis menguraikan kualitas-kualitas kejiwaan itu beserta dinamikanya untuk menerangkan kepribadian orang dan untuk diterapkan dalam teknik psikoterapi dan aliran atau teorinya disebut psikoanalisa atau psikoanalisis. Frued juga mengemukakan bahwa proses tidak sadar manusia meliputi pikiran, perasaan takut dan keinginan yang tidak disadari seseorang, tetapi memengaruhi perilakunya (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 37).

Psikologi yang berkembang sewaktu Freud mencuatkan teorinya banyak memfokuskan perhtian pada “kesadaran” manusia. Selain itu Frued juga mengatakan bahwa dalam diri seseorang terdapat tiga sistem keperibadian, yang disebut id atau Es, Ego atau Ich, dan super-go atau Ube rich.

Aliran ini juga dikenal dengan istilah psikologi dalam (depth psychology), karena aliran ini tidak hanya berusaha menerangkan segala sesuatu yang nampak dari luar saja, melainkan khususnya berusaha menerangkan apa yang terjadi di dalam atau di bawah kesadaran itu. Pengaruh psikoanalisa ini besar sekali terhadap perkembangan psikologi sampai sekarang.

Penjelasan lebih lengkap mengenai psikoanalisis dapat disimak pada link di bawah ini.

Baca juga: Psikoanalisis: Penjelasan Id, Superego, dan Ego (Teori & Aplikasi)

Aliran Humanistik/Holistik

Dua aliran yang sampai hari ini masih dianggap berpengaruh besar adalah Behaviorisme dan Psikoanalisis, meskipun keduanya dipandang terlalu memandang manusia dari satu segi saja. Behaviorisme dianggap memandang manusia hanya sebagai makhluk reflex, sementara Psikoanalisis hanya memandang manusia sebagai makhluk yang dikendalikan oleh ketidaksadarannya.

Oleh karena itu muncul aliran Psikologi Holistik atau Humanistik dengan tokoh-tokohnya antara lain Abraham Maslow (1908 – 1970) dan Carl Rogers (1902 0 1987). Aliran ini dinamakan holistik karena memandang manusia sebagai keseluruhan dan dinamakan Humansitik karena memandang manusia sebagai itu sendiri, sebagai manusia yang mengalami dan menghayati, bukan sekedar sebagai kumpulan reflex atau kumpulan naluri ketidaksaran.

Berbagai penjelasan lengkap mengenai aliran humanistik dapat disimak pada artikel di bawah ini.

Baca juga: Teori Humanistik dalam Psikologi (Maslow & Rogers)

Referensi

  1. Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.
  2. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *