Teori humanistik adalah teori yang memandang manusia dari dimensi tempat dia tinggal, karena lingkungan juga akan mempengaruhinya secara manusiawi, di mana manusia memiliki kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya. Hal ini tentunya amatlah berlawanan dengan psikologi behaviorisme yang memandang bahwa manusia itu seperti robot yang terdiri atas beberapa unsur yang dikendalikan oleh lingkungannya.

Dalam psikologi humanistik, manusia adalah agen yang bebas dengan kemampuan superior untuk menggunakan simbol-simbol dan berpikir secara abstrak. Pencetus teori psikologi humanistik adalah Abraham Maslow pada sekitar tahun 1950-an. Oleh karena itu, untuk mempelajari teori humanistik baik dari sisi psikologi umum maupun dalam kaitannya dengan pendidikan (teori belajar humanistik), dapat dilakukan dengan mempelajarinya langsung dari pencetusnya sendiri yang akan dipaparkan pada uraian di bawah ini.

Psikologi Humanistik Maslow

Humanistik atau psikologi humanistik dipelopori oleh Abraham H. Maslow (1908-1970) seorang imigran Rusia yang tinggal di Amerika Serikat. Sebetulnya, Maslow sebelumnya merupakan seorang behavioris atau ahli psikologi yang menganut paham psikologi behaviorisme. Namun setelah merenungkan kasih sayang ayahnya di masa kecil, mengamati bayinya yang baru lahir, serta menyaksikan betapa tragisnya tragedi pemboman Pearl Harbour, ia mulai menyangsikan behaviorisme.

Maslow kemudian muak dengan penelitiannya terhadap kera, ia berkata “Dengan cara ini kita tidak akan pernah mengenal Hitler, siapa orang Jerman, Siapa Stalin dan siapa orang Rusia, dengan cara ini kita tidak pernah mencapai perdamaian, karena kita tidak pernah mengenal orang lain dengan sesungguhnya…” (Maslow dalam Saleh, 2018, hlm. 196).

Oleh karena itu, Maslow kemudian beralih ke psikologi humanistik. Maslow berpendapat bahwa pastilah ada pintu masuk di mana kita dapat mempelajari semua manusiai dari sudut pandang yang sama melalui  ideologi yang tidak terkotak-kotak dalam bangsa-bangsa, kelompok-kelompok, aliran-aliran. Ideologi yang dapat diterima oleh semua orang tanpa terkecuali, dan ideologi itu dinamakannya “meta-motivasi” atau “meta-kebutuhan” yang berarti kebutuhan yang tertinggi, yang melebihi kebutuhan-kebutuhan lain pada umumnya.

Teori yang dibawakan oleh Maslow tentang motivasi berawal dari pra-anggapan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, atau setidak-tidaknya netral, tidak bisa jahat. Seperti halnya dengan keadaan fisik, manusia mempunyai indra, merasa lapar, bertumbuh kembang, berkembang biak, dan sebagainya, dari segi kejiwaan pun manusia mempunyai kebutuhan, cita-cita, harapan, usaha, dan sebagainya.

Seperti keadaan fisik juga, pada hakikatnya keadaan jiwa juga harus dikembangkan ke arah yang makin baik, bukan secara alami memiliki dorongan-dorongan agresif/jahat yang harus dikendalikan seperti pada psikoanalisis. Sementara orang-orang yang terganggu jiwanya, yang antisosial, yang jahat adalah orang-orang yang terhambat perkembangan dirinya, yang frustasi oleh gangguan-gangguan dari luar. Menurut Maslow, psikoterapi atau konseling bertujuan mengembalikan seseorang ke jalur pengembangan dirinya sendiri melalui potensi-potensi yang ada dalam dirinya sendiri juga.

Hierarki Kebutuhan Maslow

Teori Maslow yang hingga kini banyak diterapkan oleh berbagai cabang psikologi terapan adalah hierarki kebutuhan. Dalam teori ini ia mengatakan bahwa ada lima macam kebutuhan manusia yang berjenjang ke atas, dan kebutuhan yang lebih tinggi akan timbul jika kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi. Jenjang hierarki kebutuhan menurut Maslow itu sendiri adalah sebagai berikut:

  1. Physiological Needs (Kebutuhan Fisiologis);
  2. Safety Needs (Kebutuhan rasa aman);
  3. Belongingness and Love Needs (Kebutuhan untuk dicintai dan kasih sayang);
  4. Esteem Needs (Kebutuhan Harga Diri);
  5. Self-Actualization Needs (Kebutuhan Aktualisasi Diri) (Saleh, 2018, hlm. 198-200).

Berikut adalah penjelasan dari masing-masing hierarki kebutuhan Maslow.

1. Kebutuhan Fisiologis

Pada tingkat yang paling bawah terdapat kebutuhan yang bersifat fisiologis atau kebutuhan akan hal-hal fisik seperti udara, makanan, minuman, dan sebagainya yang ditandai oleh kekurangan (deficit) sesuatu dalam tubuh orang bersangkutan (Saleh, 2018, hlm. 198). Kebutuhan fisiologis juga disebut sebagai kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan yang sangat ekstrim seperti kelaparan, malnutrisi, sakit, dan sebagainya.

Dalam keadaan tersebut, manusia bisa kehilangan kendali atas perilakunya sendiri, bisa menjadi agresif, tidak malu, tidak punya pertimbangan pada orang lain, dan sebagainya. Hal tersebut karena seluruh kapasitas manusia itu dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup atau sederhananya menghilangkan rasa laparnya. Sebaliknya, jika kebutuhan fisiologis terpenuhi, maka ia akan merangkak menuju kebutuhan selanjutnya, yaitu kebutuhan rasa aman (Safety needs).

2. Kebutuhan Rasa Aman

kebutuhan kedua berupa kebutuhan akan rasa aman ini berhubungan dengan jaminan keamanan, stabilitas, perlindungan, struktur keteraturan, bebas dari rasa takut dan cemas, dan sebagainya (Saleh, 2018, hlm. 198). Karena adanya kebutuhan inilah maka manusia membuat peraturan, undang-undang, mengembangkan kepercayaan membuat sistem asuransi, pensiun, dan sebagainya.

Sama halnya dengan basic needs, jika safety need ini tidak terpenuhi, misalnya seperti pada anak yang tidak diperhatikan orang tuanya, orang yang terlalu lama dalam keadaan perang, dan sebagainya, maka pandangan seseorang tentang dunia akan terpengaruhi, dan pada saatnya, perilakunya akan cenderung mengarah ke arah yang semakin negatif.

3. Kebutuhan Dicintai

Setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman relatif dipenuhi, maka timbul kebutuhan untuk dimiliki dan dicintai (belonginess and love needs) yang berart orang ingin mempunyai hubungan yang hangat dan akrab, bahkan mesra dengan orang lain (Saleh, 2018, hlm. 199). Intinya, seseorang akan ingin mencintai dan dicintai, atau ia ingin setia kawan dan butuh kesetiakawanan. Ia pun ingin mempunyai kelompoknya sendiri, ingin punya “akar” dalam masyarakat. Ia butuh menjadi bagian dari sebuah keluarga, sebuah kampung, suatu marga, sebuah geng, sekolah, atau suatu perusahaan.

Individu yang tidak mempunyai keluarga akan merasa sebatang kara, sedangkan orang yang tidak sekolah dan juga tidak bekerja merasa dirinya pengangguran yang tidak berharga. Kondisi seperti ini akan menurunkan harga diri orang yang bersangkutan. Di sisi lain, jika kebutuhan ini sudah terpenuhi, maka kebutuhannya akan naik pada kebutuhan harga diri.

4. Kebutuhan Harga Diri (Esteem Needs)

Ada dua macam kebutuhan akan harga diri ini, yaitui:

  1. Kebutuhan-kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian;
  2. Kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominansi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi dari orang lain (Saleh, 2018, hlm. 200).

Individu-individu yang kebutuhan harga dirinya terpenuhi akan menjadi seseorang yang percaya diri, tidak tergantung pada orang lain dan selalu siap berkembang terus untuk selanjutnya meraih kebutuhan yang tertinggi yakni aktualisasi diri (self actualization).

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Self actualization atau kebutuhan aktualisasi diri adalah berbagai kebutuhan untuk mencapai potensi maksimal dalam kehidupan seseorang. Kebutuhan aktualisasi diri merupakan yang memayungi banyak kebutuhan yang terdiri atas 17 meta-kebutuhan yang tidak tersusun secara hierarki, melainkan saling mengisi. Jika berbagai meta-kebutuhan tidak terpenuhi, maka akan terjadi meta-patologi seperti: apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera, dan sebagainya (Saleh, 2018, hlm. 200). 17 kebutuhan meta dari aktualisasi diri adalah sebagai berikut.

  1. Kebenaran
  2. Kebaikan
  3. Keindahan/kecantikan
  4. Keseluruhan (kesatuan/integrasi)
  5. Dikotomi Transedensi (pandangan hitam/putih kehidupan)
  6. Berkehidupan (berproses, berubah tetapi tetap pada esensinya)
  7. Keunikan
  8. Kesempurnaan (perfection)
  9. Keniscayaan
  10. Penyelesaian
  11. Keadilan
  12. Keteraturan
  13. Kesederhanaan
  14. Kekayaan (banyak variasi, majemuk, tidak ada yang tersembunyi, semua penting)
  15. Tanpa susah payah (santai, tidak tegang)
  16. Bermain (fun, rekreasi, humor)
  17. Mencukupi diri sendiri

Humanistik Rogers

Metode Socrates, atau metode maieutics, yaitu menggali informasi tentang diri seseorang dari orang itu sendiri dikembangkan oleh Carl R. Rogers menjadi teknik psikoterapi yang sangat populer sejak tahun 1943 sampai sekarang dan dikenal sebagai client centered therapy atau person centered therapy (terapi yang berpusat pada klien atau orang itu sendiri) (Saleh, 2018, hlm. 201).

Rogers dilahirikan dari keluarga besar tradisional yang harmonis di daerah pertanian di Illinois, Amerika Serikat. Ia adalah seorang Doktor lulusan Columbia University pada tahun 1931 dan tertarik pada psikologi pendidikan dan psikologi klinis. Rogers adalah salah satu tokoh penting psikologi, bahkan sempat menjadi presiden American Psycological Association pada tahun 1946-1947.

Ketika ia sedang bekerja praktik sebgai panitera siswa psikoterapis di Institute for child guidance di Colomb ia (yang kental dengan metode psioanalisis Freudian), ia mendengar ceramah visitas dari Alfred Adler yang mengejutkannya, karena Adler melontarkan gagasan bahwa penjelajahan sejarah hidup masa lalu diri klien tidak diperlukan dalam psikoterapi. Padahal, metode Freduian sangat mengandalkan teknik sejarah hidup atau case history.

Pertemuan dengan Alder tersebut telah mengubah orientasi Rogers dalam metode psikoterapi dan mendorongnya untuk mencetuskan teknik client atau person centered therapy yang dikembangkan terus di berbagai tempat kerjanya: Rochester Guidance Center (pusat bimbingan untuk anak terlantar) di New York (1928-1940), Ohio State Universitay (1940-1945), Universitas of Chicango Western behavioral Science Institute di La Jolla, California, dimana ia mendirikkan pusat kajian pribadi (the Center for Studies of the Person).

Psikoterapi Nondirektif

Teknik psikoterapi Rogers juga dikenal sebagai psikoterapi nondirektif, karena memang dalam proses psikoterapinya Rogers selalu menghindari pengarahan (direktif). Istilah klien (client) digunakan untuk menggantikan istilah pasien untuk menunjukkan adanya hubungan sejajar antara hubungan terapis dengan yang diterapi (bukan yang satu lebih tinggi dari yang lain) dan yang diterapi itu adalah orang sehat, orang yang punya wawasan, bukan orang sakit.

Menurut Rogers (dalam Saleh, 2018, hlm. 203) kesenjangan antara konsep diri dan realitaslah yang menyebabkan gangguan kejiwaan pada diri klien, sehingga untuk menyembuhkannya diperlukan upaya penyeimbangan.

Caranya adalah dengan psikoterapi nondirektif, di mana terapis harus berusaha menerima klien sebagaimana adanya, dan terpais pun harus terbuka pada kliennya. Melalui hubungan yang saling menerima, dan melalui upaya bersama antara klien dan terapis, diharapkan terapi dapat menggali semua pengalaman dan perasaan klien untuk tercapainya keseimbangan (congruence) antara berbagai pengalaman dan perasaan yang sesungguhnya terjadi dengan konsep diri klien.

Referensi

  1. Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.