Apresiasi Seni – Penciptaan Kembali Karya dan Interpretasi

apresiasi seni dan interpretasi

Apa yang dimaksud dengan apresiasi seni adalah, mengerti sepenuhnya seluk-beluk suatu benda atau hasil seni serta menjadi sensitif terhadap nilai-nilai yang ada didalamnya. Apresiasi adalah komunikasi dan berbagi pengalaman antara seniman dan apresiator, bahkan ada yang berpendapat bahwa menikmati berarti menciptakan kembali. Tujuan utama apresiasi seni adalah agar publik lebih mengerti seni sehingga dapat mencernanya dengan lebih baik, lalu mengapa ada yang berpendapat bahwa mengapresiasi juga berarti menciptakan kembali karya tersebut? Mari kita mulai telaah lebih dalam mengenai apresiasi seni dengan menelusuri pengertian apresiasi seni terlebih dahulu.

Pengertian Apresiasi Seni

Definisi apresiasi seni rupa atau mengapresiasi karya seni dapat diartikan sebagai upaya untuk memahami berbagai benda atau hasil seni dengan seluk beluknya sehingga terjadi kepekaan akan nilai-nilai keindahan yang terkandung di dalamnya. Soedarso berpendapat bahwa apresiasi seni adalah: “Mengerti dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk sesuatu hasil seni serta menjadi sensitif  terhadap segi-segi estetiknya sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut dengan semestinya.” (Soedarso, 1990: 77). Apresiasi seni adalah kegiatan menangkap, menanggapi, menghayati hingga mendapatkan nilai dari karya seni yang menjadi daya tarik karya tersebut.

Mungkin semua definisi diatas tampak kompleks dan agak membingungkan. Padahal nyatanya dalam kehidupan sehari-hari, secara sadar atau tidak sadar, banyak orang yang sebetulnya melakukan apresiasi pada tingkat tertentu. Membaca komik, menonton film, memilih sepatu yang cocok dengan keinginannya, dan lain-lain. Terkadang setelah puas dan suka dengan film yang telah ditontonnya orang akan menceritakan resensi atau bagian terbaik dari film tersebut kepada temannya. Secara tidak sadar telah terjadi apresiasi tingkat yang lebih lanjut yaitu menciptakan kembali karya seni yang telah dinikmatinya dengan berbagai persepsi dan penafsiran unik dari apresiator. Seperti Rollo May yang menyatakan bahwa “berapresiasi terhadap suatu kreasi baru atau hasil seni juga merupakan suatu tindakan kreatif.”(Alisjahbana, 1983: 81).

Mengapresiasi seni seperti menikmati keindahan teka-teki jigsaw puzzle sembari menyelesaikannya dengan persepsi kita sendiri.

Sebetulnya tidak usah bingung dengan arti dari apresiasi seni. Pada akhirnya apresiasi berarti menikmati karya seni dengan sepenuh hati. Apresiasi mungkin saja melibatkan penafsiran lebih dari bagian menarik yang kita inginkan, tapi tetap tidak mendapatkan beban untuk menilai atau mengungkap kelebihan dan kekurangan pada karya tersebut seperti pada kajian dan kritik seni. Terkadang kurikulum seni pada institusi pendidikan akan menjemukan karena apresiasi seni rupa disetarakan dengan kajian atau kritik yang sebetulnya diperuntukan kepada pemerhati seni.

Manfaat Apresiasi Seni

Manfaat apresiasi seni sesederhana: bayangkan  bila kita tidak mendapatkan hiburan dari video-video internet/televisi atau berita sehari-hari. Hiburan adalah kebutuhan pokok masyarakat yang tidak tampak langsung manfaat fisiknya seperti makanan/minuman. Padahal psikologi kita selalu membutuhkannya. Kesehatan fisik juga sangat bergantung pada psikologis yang seimbang. Selain hiburan beberapa karya seni lain akan memberikan nilai-nilai positif yang mungkin dapat menambah wawasan kita. Memperhatikan seni dengan sungguh-sungguh akan melahirkan berbagai prespektif dan tafsiran baru yang akan membawa kita pada proses kreatif yang sebetulnya dibutuhkan oleh semua insan.

Interpretasi Seni/Penafsiran Seni

Apresiasi erat hubungannya dengan penafsiran karya seni/interpretasi seni. Penafsiran adalah sebuah hipotesis yang menjelaskan adanya unsur makna atau kombinasi unsur makna dalam sebuah karya seni dimana makna tersebut tidak dapat langsung diketahui oleh apresiator. Karya tersebut mungkin tidak jelas dalam arti tidak dapat dipahami atau penuh dengan teka-teki, melalui simbol, metafor, alegori, dan lain-lain. Selain pesan-pesan tersembunyi tersebut karya seni juga dapat memicu makna tanpa melalui berbagai isyarat yang tidak jelas, dan isi yang provokatif terhadap nalar kita.

Singkatnya tafsir seni berarti mengungkapan berbagai makna yang tersembunyi pada sebuah karya. Walaupun apresiasi tidak harus melibatkan penafsiran tetapi biasanya akan terjadi secara otomatis pada prosesnya. Perlu dicatat juga bahwa tidak semua karya seni memiliki muatan/pesan yang ingin disampaikan oleh seniman sehingga terkadang penafsiran menjadi tidak relevan. Terkadang lebih baik melihat karya seni seperti kita memandangi pemandangan yang indah di alam dan menikmatinya tanpa terlalu repot memikirkan ini-itunya.

Saat mengapresiasi, kita juga sedang memproduksi makna kita sendiri. Menafsirkan tidak selalu merekonstruksi makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh perupanya, bahkan tidak perlu. Justru mendapatkan makna lain yang relevan dari karya adalah salah satu ciri keberhasilan apresiasi. Dengan catatan tafsiran yang dihasilkan tetap relevan dengan karya. Itulah sebabnya proses apresiasi juga sering disebut penciptaan kembali karya. Dengan mengapresiasi kita telah menciptakan teks dan makna baru diluar karya tersebut. Terkadang juga setelah apresiasi yang tepat, seniman lain dapat menggunakan nilai apresiasi karya tersebut untuk kemudian membuat karya baru. Misalnya lukisan yang terinspirasi dari puisi, ataupun sebaliknya.

Prinsip Prinsip Interpretasi Seni

Terry Barret, seorang kritikus seni asal Amerika Serikat menyusun beberapa prinsip-prinsip Interpretasi seni. Prinsip prinsip interpretasi seni menurut Barret tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Karya seni memiliki “ketidakjelasan” dan dibutuhkan interpretasi.
  2. Interpretasi adalah argumen persuasif.
  3. Beberapa interpretasi lebih baik dari yang lain.
  4. Penafsiran seni yang baik lebih banyak menceritakan tentang karya seni itu sendiri daripada penafsirnya sendiri.
  5. Perasaan adalah panduan untuk interpretasi.
  6. Ada interpretasi yang berbeda, bersaing, dan kontradiktif terhadap karya seni yang sama.
  7. Interpretasi sering didasarkan pada pandangan dunia.
  8. Interpretasi tidak terlalu benar, tapi kurang lebih masuk akal, meyakinkan, mencerahkan, dan informatif.
  9. Interpretasi dapat dinilai berdasarkan koherensi, korespondensi, dan inklusivitas.
  10. Sebuah karya seni belum tentu tentang apa yang seniman inginkan.
  11. Seorang kritikus seharusnya tidak menjadi juru bicara seniman.
  12. Interpretasi harus menyajikan bagian terbaik karya, bukan bagian terlemahnya
  13. Objek penafsiran adalah karya seni, bukan seniman.
  14. Semua karya seni adalh bagian tentang dunia di mana ia muncul.
  15. Semua karya seni adalah bagian dari karya seni lainnya.
  16. Tidak ada penafsiran yang lengkap tentang arti sebuah karya seni.
  17. Makna sebuah karya seni mungkin berbeda dari kepentingan pemirsa. Interpretasi pada akhirnya adalah usaha komunal, dan masyarakat pada akhirnya mungkin akan mengoreksinya lagi.
  18. Interpretasi yang baik akan mengundang kita untuk melihat diri kita dan melanjutkan interpretasi menurut pendapat kita sendiri.

Beberapa poin diatas hanya cocok diterapkan apabila kita sedang membuat kajian akademis untuk kritik seni yang serius. Tidak ada salahnya untuk mengetahui beberapa prinsip prinsip interpretasi yang bagus dalam melakukan apresiasi seni.

Langkah Apresiasi Seni

Dalam mengapresiasi karya seni rupa secara garis besar terdapat dua cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan takaran subjektif, yaitu menilai bagus tidaknya berdasarkan pertimbangan pendapat pribadi. Penilaian kedua adalah dengan ukuran objektif yaitu, menilai bagus tidaknya karya seni atas dasar ukuran kenyataan dan objek karya seni rupa itu sendiri. Bila karyanya memiliki ukuran secara objektif bagus, maka kita katakan bagus. Begitu juga sebaliknya. Terkadang subjektifitas akan menghalangi kita untuk mengambil nilai dari karya seni. Jika hal tersebut terjadi coba hilangkan subjektifitas kita dan arungi karya tersebut melalui objeknya. Penilaian objektif membutuhkan pengetahuan tentang dasar-dasar seni rupa seperti unsur unsur seni rupa dan prinsip prinsip seni rupa.

Pendekatan Apresiasi Seni

Karya seni dapat di apresiasi dari beberapa pokok pembahasan dengan metoda dan pendekatan masing-masing. Apresiasi seni dapat dilakukan dengan berbagai metode atau pendekatan sebagai berikut.

  1. Pendekatan Aplikatif
  2. Pendekatan Sejarah
  3. Pendekatan Problematik

Pendekatan Aplikatif

Apresiasi pendekatan aplikatif ditumbuhkan dengan mencoba langsung berkarya seni. Melukis, menggambar, mencoba memahat patung, dan lain-lain. Melalui praktek langsung, apresiasi tumbuh melalui pertimbangan dan penghayatan terhadap proses berkarya mulai dari keunikan teknik,  bahan, tingkat kesulitan, dan lain-lain. Melalui praktik berkarya, kita dapat merasakan berbagai kesulitan teknik yang digunakan oleh seniman dalam proses berkarya. Melukis sesuatu yang realistis ternyata sulit, sedangkan mencoba membuat lukisan yang tidak realistis pun ternyata memerlukan akurasi dan effort yang lebih banyak agar terlihat sama indahnya dengan yang realistis. Semakin banyak pengetahuan kita tentang teknik, akan semakin bertambah juga wawasan kita dalam mengapresiasi karya seni.

Pendekatan Sejarah

Mengenal sejarah perkembangan seni akan memperluas pandangan kita terhadap seni yang diciptakan oleh seniman-seniman masa lampau. Kita dapat mencari tahu sendiri mengenai berbagai karya-karya seni yang telah melegenda. Lukisan Monalissa, logo starbuck yang konon adalah salah satu logo terbaik merk terbaik di dunia, dan lain-lain. Konteks apa yang menyebabkan seniman berkarya pada zamannya? Karena setiap aliran/mazhab seni memiliki tujuan dan filosofinya masing-masing. Terkadang pada karya seni modern latarbelakang alasan karya menjadi jauh lebih dominan memancarkan “keindahan” tersembunyinya.

Pendekatan problematik

Apresiasi melalui pendekatan problematik ditumbuhkan dengan menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai media untuk dapat dinikmati secara semestinya. Apresiasi dapat dimulai melalui kacamata objektif, dengan mengenali unsur-unsur seni rupa dan prinsip prinsip seni rupa pada karya seni. Dengan mengetahui berbagai prinsip-prinsip seni rupa kita dapat membaca berbagai gejala masalah yang ditimbulkan oleh komposisi karya tersebut.

Referensi

  1. Soedarso Sp. 2000. Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern. Yogyakarta: CV Studio Delapanpuluh Enterprise & BP ISI Yogyakarta.
  2. Alisjahbana, S. T. 1983. Kreativitas. Jakarta: Dian Rakyat.
  3. Barret, Terry 2006. terrybarrettosu.com. Principle for Interpreting Art. Diterbitkan tahun 2006, diakses tanggal 4 januari 2018,  http://terrybarrettosu.com/wp-content/uploads/2017/08/Barrett-1994-Principles-for-Interpreting-Art.pdf

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas