Sebagai individu yang hidup bersosial, semua orang pasti butuh untuk diakui keberadaannya.

Mungkin terdengar narsistik, namun demikian perasaan ini juga bersinggungan langsung dengan keinginan untuk berkontribusi dalam suatu komunitas.

Sehingga dalam taraf yang wajar, perasaan ingin untuk diakui itu masih bersifat positif.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengisi keinginan ini adalah dengan menjadi unik, dan berbeda dari yang lain.

Hal ini juga berlaku saat seniman, desainer, atau content creator sedang berkarya. Karya yang unik, orisinal dan tidak pernah ada menjadi tujuan yang ingin dicapai.

Sayangnya hal tersebut tidak mungkin, semua upaya yang kita kerahkan untuk menjadi orisinal akan akan berujung pada hal yang sudah ada.

Setiap konten yang ditelurkan, akan memiliki kemiripan satu sama lain. Semua karya yang kita buat, akan mengalami gejala kesamaan kolektif di bawah alam sadar. Ya, di dunia ini tidak ada yang asli, orisinalitas adalah ilusi.

Mengapa Tidak Ada Sesuatu yang Asli?

Dalam suatu proses penciptaan, sejatinya kita semua hanya dapat merangkai mozaik dari berbagai pohon kearifan yang telah tumbuh di lingkungan terhangat dan terdekat kita. Baik yang tumbuh secara alami, maupun yang ditanam dengan sengaja.

Peniruan alam adalah salah satu caranya.  Penyair yang mengungkapkan keindahan pepohonan berarti meniru kearifan alam yang ada di sekitarnya.

Seniman yang melukiskan potret wanita cantik, berarti menirukan persepsi sosial mengenai standar kecantikan.  Desainer yang merancang logo prestisius suatu perusahaan berarti meniru konvensi masyarakat mengenai citra kekayaan, dan begitu seterusnya.

Hanya saja, beberapa ilusi terlangka yang paling menarik perhatian dalam waktu dan konteks tertentu akan cenderung disebut orisinal atau asli.

Terdapat teori atau konsepsi yang menyokong ide ketiadaan karya asli ini, yaitu Intertekstualitas.

Intertekstualitas

Intertekstualitas adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa semua teks dalam suatu cara saling terkait satu sama lain.

Misalnya, suatu buku teks ilmu pengetahuan sebetulnya adalah kumpulan teks dari berbagai teks yang telah ada sebelumnya, baik dari buku yang membahas hal sama, maupun dari pendapat para ahli yang pernah mengutarakan hal yang sama pula.

Singkat kata, semua teks adalah teks yang ditempatkan di tengah teks-teks lain yang sudah ada sebelumnya.

Teks yang dibicarakan dalam intertekstualitas tidak melulu mengenai tulisan, buku, atau narasi semata. Teks adalah entitas bebas yang dapat diwujudkan melalui media apa saja.

Bahkan, dalam Semiotika atau ilmu mengenai Tanda, teks dipandang sebagai segala sesuatu yang melingkungi kita, baik itu kebudayaan, politik, seni, dan sebagainya.

Lukisan, ilustrasi, bahkan film dapat memberikan isi atau konten berupa cerita, pesan sosial, hingga suatu ideologi.

Cerita, pesan, gagasan, atau ide-ide lainnya itu merupakan inti dari sebuah teks.

Dengan demikian, teks dapat muncul dari wadah apa pun, di luar bahasa dan sastra.

Implikasi Intertekstualitas Pada Semua Bidang

Artinya, saat kita memproduksi film, maka kita akan membawa kearifan teks dari berbagai film lain yang sudah ada.

Ketika kita mengembangkan suatu aplikasi,  maka kita akan menyisipkan fitur-fitur yang sudah ada pada aplikasi lain yang telah meluncur sebelumnya.

Saat seorang Influencer membuat konten, ia akan menggunakan ujaran pembuka, sapaan pada penonton, hingga tema, dan judul-judul serupa yang telah dibawakan oleh Influencer lainnya.

Dengan begitu, tidak ada teks asli yang menjadi milik seseorang.

Seperti yang dikemukakan oleh Barthes (dalam Eagleton, 1983, hlm. 137) bahwa semua teks terjalin dari teks yang lainnya, bukan dalam makna biasa bahwa teks ini hanya memperlihatkan unsur-unsur pengaruh saja, akan tetapi dalam maksud yang lebih radikal, yaitu setiap perkataan, frasa, atau bagian lainnya adalah penciptaan kembali karya-karya lain yang telah mendahului atau mengelilinginya.

Tidak ada keaslian dalam karya, tidak ada yang dapat disebut karya pertama; semua karya adalah jaringan intertekstual.

Suatu karya selalu melimpah ke dalam karya-karya yang berkelompok di sekelilingnya; menghasilkan ratusan pandangan yang berbeda dan mengecil hingga ke titik hilang.

Karya tidak dapat ditutupi kesamaannya, karya hanya dapat dirujuk pada berbagai konteks dari penciptanya sendiri.

Lalu, jika keaslian atau orisinalitas adalah tiada, untuk apa kita berkarya?

Hilangkan Keinginan untuk Menjadi Asli

Sebaiknya, minimalisir keinginan untuk menjadi asli, karena keinginan tersebut terkadang hanya menjadi belenggu kreasi atau creative block dalam proses berkarya.

Terlalu idealis dalam berkarya hanya akan menghambat gagasan tersebut menjadi karya yang konkret.

Ide adalah hal abstrak yang akan semakin menyiksa jika tidak segera diungkapkan menjadi nyata.

Terlalu banyak berpikir hanya akan membuat kita semakin kecewa dengan eksekusi yang kita jalankan, karena hal tersebut akan berakhir menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

Lebih baik, segera realisasikan ide itu, dan gunakan berbagai kekecewaan di dalamnya menjadi berbagai ketidaksengajaan yang justru akan memperkuat ikatan ide dan kenyataan.

Dengan kata lain, dalam berkarya, improvisasi itu lebih baik daripada konsepsualisasi semata.

Orisinalitas yang Sebenarnya

Seperti teks Ide atau gagasan adalah hal yang bebas diambil oleh siapa saja.

Ide selau ada di sekitar kita seperti udara, berada dalam domain publik dan selalu seperti itu.

Jika seseorang menemukan ide yang bagus, ia akan mengambilnya, menyesuaikannya, mengujinya, dan membuatnya menjadi miliknya sendiri.

Di situlah terjadi pengubahan ide menjadi hak intelektual.

Meskipun ide adalah milik siapa saja, seseorang yang telah menyusun mozaik dari berbagai ide yang ada di mana pun, harus selalu kita hargai, karena di situlah letak orisinalitas yang sebenarnya.

Tidak harus sepenuhnya asli, tetapi menunjukkan karakter proses kreatif dirinya atau kelompoknya.

Tidak benar-benar asli, namun merupakan kreasi seseorang yang telah mencurahkan segalanya, agar ide tersebut menjadi sesuai untuknya, agar gagasan itu teruji di medannya, agar ide-ide tersebut sepenuhnya menjadi dirinya.

Baca juga: Orisinalitas adalah Ilusi, Tidak Ada yang Asli (Intertekstualitas)

Referensi

  1. Amertawengrum, Indiyah Prana. 2010. Teks dan Intertekstualitas. Magistra Vol 22, No 73 (2010), Dipublikasikan September 2010, Diakses tanggal 4 Februari 2018.
  2. Barthes, R. (1981). Theory of the text, in r. young (ed.). Untying the Text, 31-47, London: Routledge.
  3. Eagleton, T. (1983). Literary theory: An introduction. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *