Pengertian Material Handling

Material handling adalah penanganan material dalam jumlah yang tepat dari material yang sesuai dalam kondisi yang baik pada tempat yang cocok, pada waktu yang tepat dalam posisi yang benar, dalam urutan yang sesuai dan biaya yang murah menggunakan metode yang benar (Arif, 2017, hlm. 116). Material handling atau desain aliran pemindahan bahan ini berperan penting dalam suatu perencanaan layout atau tata letak fasilitas pabrik.

Hal tersebut karena proses operasi pabrik umumnya lebih banyak melibatkan bahan bergerak daripada orang ataupun mesin. Akan tetapi, pada kasus tertentu, lebih baik orang atau mesinlah yang bergerak daripada bahan, karena pemindahan bahan tersebut tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Sementara itu, berdasarkan perumusan yang dibuat oleh American Material Handling Society (AMHS), pengertian material handling adalah seni dan ilmu yang meliputi penanganan (handling), pemindahan (moving), pembungkusan atau pengepakan (packaging), penyimpanan (storing), sekaligus pengendalian atau pengawasan (controlling), dari bahan atau material dengan segala bentuknya.

Selanjutnya, menurut Wignjosoebroto (dalam Ardiansyah, 2019, hlm. 16) pemindahan bahan atau material ini diterjemahkan dari material handling, di mana aktivitas ini sangat penting dalam kegiatan produksi dan berkaitan erat dengan perancangan tata letak fasilitas. Aktivitas ini tergolong aktivitas “non produktif” karena tidak memberikan nilai perubahan apa-apa terhadap material atau barang yang dipindahkan.

Akan tetapi dari sisi lain, material handling ini justru menambah biaya (cost), dengan demikian sebisa mungkin aktivitas pemindahan material atau barang di minimalisasi, atau lebih tepatnya untuk menekan biaya pemindahan ini adalah dengan memindahkan material atau barang dengan jarak sependek-pendeknya dengan mengatur tata letak fasilitas yang ada.

Ruang Lingkup Material Handling

Sistem material handling berfokus pada pembahasan mengenai beberapa poin berikut ini.

  1. Motion (gerakan),
    sebuah material handling harus mampu memindahkan setiap produk dari satu lokasi ke lokasi yang lain.
  2. Time (waktu),
    sebuah material handling harus mampu memenuhi kedatangan sebuah produk dengan tepat, tidak terlambat ataupun terlalu awal.
  3. Quantity (jumlah),
    material handling harus mampu membawa barang atau produk yang diantar ke berbagai lokasi dengan jumlah yang benar.
  4. Space (ruang),
    kebutuhan akan space sangat dipengaruhi oleh bentuk aliran dari sistem material handling-nya (Arif, 2017, hlm. 116).

Prinsip Material Handling

Menurut Efendi, dkk (2019, hlm. 150) beberapa prinsip dasar material handling di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Meminimumkan kegiatan pemindahan bahan.
  2. Perencanaan secara teliti (penempatan mesin dan peralatan lainnya.
  3. Pemilihan peralatan yang tepat.
  4. Penggunaan peralatan dan mesin secara efektif dan efisien.

Dasar Pemilihan Metode Pemindahan Bahan

Terdapat beberapa hal yang perlu dijadikan dasar dalam memilih metode pemindahan barang, yaitu sebagai berikut.

  1. Kondisi bangunan pabrik.
  2. Jenis peralatan produksi.
  3. Produk dan bahan.
  4. Jenis peralatan pemindahan bahan yang akan dipergunakan.
  5. Evaluasi dan analisis biaya (Efendi, 2019, hlm. 150).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Material Handling

Beberapa faktor yang terlibat dalam analisis material handling di antaranya yakni sebagai berikut.

  1. Barang (material),
    dapat dilihat dari tipe, karakteristik, maupun kuantitasnya.
  2. Pergerakan (move),
    dapat mempertimbangkan source dan destination, logistic, karakteristik dan tipenya.
  3. Metode perpindahan (method),
    dapat dilihat dari handling unit, peralatan dan kuantitasnya.
  4. Batas fisik (physical restriction),
    yang dipengaruhi oleh lokasi, aisle, dan space (Arif, 2017, hlm. 116).

Tujuan Kegiatan Material Handling

Menurut Wignjosoebroto (dalam Andriansyah, 2019, hlm. 17) tujuan dari material handling di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Menambah kapasitas produksi,
    peningkatan ini bisa tercapai dengan cara : a. Menambah produktivitas kerja orang per jam kerja. b. Meningkatkan efisiensi peralatan material handling dengan mengurangi down time (waktu henti). c. Menjaga aliran kerja dengan tidak membiarkan terjadinya penumpukan bahan atau produk. d. Perbaikan control kegiatan melalui penjadwalan yang terencana baik dan pengawasan ketat.
  2. Mengurangi limbah buangan (waste),
    mengurangi kesalahan dalam melakukan material handling yang berakibat material tersebut tidak bisa terpakai lagi (waste) dengan cara: a) Memindahkan material secara hati-hati selama proses berlangsung; b) Fleksibilitas untuk memenuhi ketentuan khusus pemindahan material ditinjau dari sifat dan karakternya;
  3. Memperbaiki kondisi area kerja (working condition),
    faktor ini bisa meningkatkan produktivitas. Material handling yang baik bisa dicapai dengan cara: a) Menjaga kondisi area kerja yang aman dan nyaman; b) Mengurangi faktor kelelahan operator; c) Memperbaiki perasaan nyaman bekerja para operator; d) Memotivasi pekerja untuk lebih produktif lagi dalam bekerja.
  4. Memperbaiki distribusi material,
    kegiatan material handling juga meliputi kegiatan akhir (finished goods product) yang berpengaruh langsung terhadap harga jual produksinya, sasaran dalam hal ini antara lain: a) Mengurangi kerusakan dalam proses pemindahan atau pengiriman yang harus ditempuh; b) Memperbaiki rute pemindahan yang harus ditempuh; c) Memperbaiki fasilitas gudang dengan mengaturnya; d) Meningkatkan efisiensi kerja dalam proses penerimaan dan pengiriman barang.
  5. Mengurangi biaya,
    pengurangan ini diartikan pengurangan biaya secara total, yaitu: a) Meningkatkan produktivitas kerja; b) Mengurangi dan mengendalikan inventories; c) Memanfaatkan luas area untuk hal-hal lebih baik lagi; d) Mengurangi kegiatan pemindahan yang tidak efisien; e) Mengatur jadwal pemindahan material dengan baik.

Manfaat Material Handling

Material handling memiliki manfaat yang amat kaya apabila dilaksanakan dengan baik. Menurut Apple (dalam Ardiansyah, 2019, hlm. 18) memiliki beberapa manfaat atau keuntungan sebagai berikut.

  1. Menaikkan efisiensi produksi, produktivitas.
  2. Pemanfaatan ruangan yang lebih baik.
  3. Kegiatan pemindahan yang lebih sederhana.
  4. Mengurangi waktu menganggur.
  5. Pemanfaatan tenaga kerja lebih efisien.
  6. Mengurangi kerusakan produk.
  7. Meminimalkan kecelakaan kerja.
  8. Mengurangi kemacetan pergerakan di gang.
  9. Meminimumkan langkah balik.
  10. Aliran bahan lancar.

Pola Aliran Bahan

Ada beberapa pola aliran bahan yang bisa dipergunakan pada proses produksi, yaitu:

  1. Straight line, pola aliran bahan berdasarkan garis lurus;
  2. Zig-zag, yaitu pola aliran bahan berdasarkan garis patah-patah;
  3. U-shape, pola aliran bahan yang mengehendaki akhir proses produksi untuk diposisikan pada lokasi yang sama dengan lokasi di awal proses produksi;
  4. Circulation, pola aliran bahan yang dibentuk berdasarkan lingkaran (Efendi, 2019, hlm. 150).

Sementara itu, adapun pola aliran bahan yang bisa dipergunakan pada proses perakitan antara lain sebagai berikut.

  1. Combination assembly line pattern, pola aliran bahan yang membutuhkan suatu lintasan panjang dengan garis perakitan utama yang dipasok dari beberapa sub-rakitan di sisi yang sama.
  2. Tree assembly line pattern, pola aliran bahan dengan sub-rakitan yang diposisikan pada dua sisi garis perakitan utama.
  3. Overhead assembly line pattern, aliran bahan dengan pattern yang terletak pada tingkatan yang berbeda (Efendi, 2019, hlm. 151).

Analisis Desain Aliran Bahan

Menurut Efendi (2019, hlm. 151) dalam menganalisis desain material handling diperlukan beberapa macam data sebagai berikut.

  1. Rute lintasan perpindahan bahan.
  2. Volume atau berat bahan yang akan dipindahkan, termasuk frekuensi perpindahan dalam satu satuan waktu.
  3. Jarak perpindahan bahan dari suatu lokasi ke lokasi lainnya.
  4. Kecepatan gerak perpindahan bahan.
  5. Biaya yang dikeluarkan untuk proses perpindahan bahan.

Berdasarkan berbagai data tersebut, teknik analisis yang biasanya dipergunakan dalam suatu proses perencanaan aliran bahan ialah sebagai berikut.

  1. Assembly Chart;
  2. Operation process Chart;
  3. Multi Product Process Chart;
  4. String Diagram;
  5. Process Chart;
  6. Flows Diagram;
  7. Flow Process Chart;
  8. From to-Chart;
  9. Procedure Chart;
  10. Critical Path Method (Efendi, 2019, hlm. 151).

Ongkos Material Handling (OMH)

Menurut Wignjosoebroto (dalam Ardiansyah, 2019, hlm. 19), secara umum biaya material handling terbagi dalam tiga klasifikasi berikut ini.

  1. Biaya yang berkaitan dengan transportasi raw material dari sumber asal menuju pabrik pengiriman finished goods product ke konsumen yang dibutuhkannya. Biaya ini berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi pabrik dengan mempertimbangkan tempat di mana sumber material berada serta lokasi tujuannya.
  2. In-plant receiving and storage, yaitu biaya yang diperlukan untuk gerakan perpindahan material dari proses satu ke proses berikutnya, warehousing serta pengiriman produk lainnya.
  3. Handling materials yang dilakukan oleh operator pada mesin atau peralatan kerjanya serta proses perakitan yang berlangsung di atas meja perakitan.

Penyusunan dan Rumus Ongkos Material Handling

Format ongkos material handling dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Dari Ke Nama Komponen Produk/Jam Berat Bentuk Berat Total Alat Angkut OMH Rp/m/ Gerakan Jarak (m) Total Ongkos
Total OMH

Sumber: Arif (2017, hlm. 138)

Rumus:

Sumber: Arif (2017, hlm. 138)

Di dalam sebuah perusahaan yang menjadi input dan output ongkos material handling adalah sebagai berikut.

  1. Input ongkos material handling yang di antaranya: Tabel material, Operation Process Chart, Tabel luas lantai, jarak mesin.
  2. Output ongkos material handling, adalah tabel dan total ongkos atau biaya material handling suatu perusahaan atau pabrik.

Referensi

  1. Arif, M. (2017). Perancangan tata letak pabrik. cetakan pertama. Yogyakarta :Penerbit Deepublish.
  2. Andriansyah, Fani. (2018). Redesain tata letak gudang untuk meminimalkan ongkos material handling pada pt. securiko indonesia. Skripsi. Surabaya: Untag Surabaya.
  3. Efendi, S., Pratiknyo, D., Sugiono, E. (2019). Manajemen operasional. Jakarta: LPU-UNAS.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.