Proses mental merupakan hal lain yang dipelajari dalam psikologi, di luar perilaku atau tingkah laku manusia. Perilaku atau tingkah laku manusia akan lebih mudah dipahami apabila kita juga memahami proses mental yang mendasari perilaku tersebut. Proses mental manusia sering juga disebut sebagai gejala-gejala jiwa.

Pengertian Proses Mental

Proses mental adalah kondisi atau gejala yang terjadi dalam diri individu yang menjadi motor penggerak perilaku manusia (Saleh, 2018, hlm. 65). Mental sendiri adalah kemampuan individu dalam menerima, mengelola, merespons informasi. Proses mental dalam atau gejala jiwa pada manusia dapat dibedakan menjadi gejala kognitif (pengenalan), gejala emosi (perasaan/afeksi), gejala konsesi (kehendak), dan gejala campuran (psikomotorik) (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 81). Berikut adalah penjelasan dari masing-masing gejala jiwa pada manusia.

Gejala Kognisi/Kognitif

Kognisi berasal dari kata cognitive yang berarti hal yang berhubungan dengan pengenalan dan pengamatan. Kognitif dapat diartikan sebagai kegiatan atau proses memperoleh atau menggali pengetahuan, termasuk kesadaran dan perasaan melalui pengalamannya sendiri. Termasuk dalam gejala pengenalan atau kognisi adalah penginderaan dan persepsi, asosiasi, memori, berpikir, inteligensi, tanggapan, pengamatan.

Kognitif juga dapat diartikan dengan kemampuan belajar atau berpikir atau kecerdasan, yaitu kemampuan untuk mempelajari keterampilan dan konsep baru, keterampilan untuk memahami apa yang terjadi di lingkungannya, serta keterampilan menggunakan daya ingat dan menyelesaikan soal-soal sederhana (Wiyani, 2014 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 81).

Macam-macam gejala kognisi pada manusia terdiri atas pengamatan, tanggapan, persepsi, fantasi, asosiasi, ingatan, berpikir, dan intelegensi yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Pengamatan

Pengamatan merupakan proses mengenal dunia luar dengan menggunakan indera. Pengamatan adalah hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 82). Dalam pengamatan dengan sadar, manusia dapat pula memisahkan unsur-unsur dari objek tertentu.

Proses-proses pengamatan dapat dilakukan dengan cara:

  1. Penglihatan
  2. Pendengaran
  3. Rabaan
  4. Pembauan (penciuman)
  5. Pengecapan

Tanggapan

Tanggapan sebagai salah satu fungsi jiwa yang pokok, dapat diartikan sebagai gambaran ingatan dari pengamatan, ketika objek yang diamati tidak lagi berada dalam ruang dam waktu pengamatan. Dengan kata lain, jika proses pengamatan sudah berhenti, dan hanya tinggal kesan-kesannya saja, peristiwa tersebut disebut sebagai tanggapan.

Ingatan/memori

Ingatan adalah hubungan antara pengalaman dengan masa lampau dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia, menyimpan dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang di alaminya (Saleh, 2018, hlm. 66). Apa yang telah pernah dialami oleh manusia tidak seluruhnya hilang, akan tetapi disimpan dalam jiwanya, dan apabila diperlukan hal-hal yang disimpan itu dapat ditimbulkan kembali dengan alam kesadaran.

Dengan demikian, ingatan itu merupakan kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan untuk menerima atau memasukkan (learning), menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau (woodworth dan marquis, 1957 dalam Saleh, 2018, hlm. 67).

Persepsi

Persepsi adalah proses saat ataupun kimiawi yang mengenai alat indra. individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 86). Perilaku individu sering kali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri.

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra atau juga disebut proses sensoris (Saleh, 2018, hlm. 80). Namun proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Proses persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan, dan proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari proses persepsi.

Intelegensi

Perkataan intelegensi dari bahasa latin intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Menurut panitia istilah Padagogik (1953 dalam Saleh, 2018, hlm. 85) yang mengangkat pendapat Stren meungkapkan bahwa apa yang dimaksud dengan intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berfikir menurut tujuannya.

Belajar

Belajar dapat diartikan sebagai suatu aktivitas untuk membawa perubahan dalam pengetahuan maupun keterampilan, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan (practice) (Saleh, 2018, hlm. 95). Pengertian latihan atau practice mengandung arti bahwa adanya usaha dari individu yang belajar.

Perubahan adalah esensi dari belajar, oleh karena itu sehabis belajar individu mengalami perubahan dalam perilakunya. Perilaku dalam arti yang luas dapat over behavior atau innert behavior. Perubahan itu dapat dalam segi kognitif, atau efektif dan dalam segi psikomotor.

Penjelasan mendalam mengenai gejala kognisi dapat disimak pada link di bawah ini.

Baca juga: Kognisi & Pengertian & Macamnya: Pengamatan, Tanggapan, dsb

Gejala Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu “emovere”, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 99) emosi adalah suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Sementara itu menurut Saleh (2018, hlm. 107) emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), dan emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkiri (Avoidance) terhadap sesuatu, dan perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.

Macam-Macam Emosi

Emosi terdiri atas dua jenis penggolongan utama, yaitu emosi positif dan emosi negatif (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 106). Emosi positif (emosi yang menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan positif pada orang yang mengalaminya, diataranya adalah cinta, sayang, senang, gembira, kagum dan sebagainya.

Sementara itu, emosi negatif (emosi yang tidak menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya, di antaranya adalah sedih, marah, benci, takut dan sebagainya. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis emosi.

  1. Marah
    Sumber utama dari kemarahan adalah hal-hal yang mengganggu aktivitas untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian, ketegangan yang terjadi dalam aktivitas itu tidak mereda, bahkan bertambah untuk menyalurkan ketegangan itu seseorang mengekspresikannya dengan marah karena tujuannya tidak tercapai dan tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan (Susanti, 2015).
  2. Takut
    Takut adalah perasaan yang sangat mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu.
  3. Cinta
    Cinta merupakan gambaran kesenangan bagi si pelaku, tentunya mereka akan mendekatinya. Lalu apa itu definisi cinta sendiri? Tentunya sama halnya jika kita di suruh untuk mendefinisikan ihwal kebahagiaan.
  4. Emosi Depresi
    Seseorang mulai menutup ekspresi terbuka daripada emosi-emosinya, dan akan meluapkan dalam dirinya saja. Saat itu terjadi, biasanya seseorang akan mengalami depresi.
  5. Gembira
    Gembira adalah ekspresi dari kalangan, yaitu perasaan terbebas dari ketegangan. Biasanya kegembiraan itu disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba (surprise) dan kegembiraan biasanya bersifat sosial.
  6. Cemburu
    Cemburu adalah bentuk khusus dari kekhawatiran yang didasari oleh kurang adanya keyakinan terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari seseorang.
  7. Emosi Khawatir
    Khawatir atau was-was adalah rasa takut yang tidak mempunyai objek yang jelas atau atau tidak ada objeknya sama sekali (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 107).

Penjelasan lengkap mengenai emosi dapat disimak pada link di bawah ini.

Baca juga: Emosi : Pengertian, Proses, Jenis, Faktor, Gangguan, Mengendalikan, dsb

Gejala Konasi

Pada dasarnya, gejala konsesi atau kehendak amat dipengaruhi oleh motif. Motif berasal dari bahasa Latin movere yang berarti bergerak atau to move (Branca, 1964). Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organism yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force (Saleh, 2018, hlm. 121). Motif sebagai pendorong pada umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling kait mengait dengan faktor-faktor lain yang biasa disebut dengan motivasi.

Suatu hal yang penting berkaitan dengan motif ini ialah bahwa motif itu tidak dapat diamati secara langsung. Meskipun motif tidak menjelaskan secara pasti apa yang akan terjadi, tetapi dapat memberikan ide tentang apa yang sekiranya akan diperbuat oleh seseorang individu. Misalnya orang yang butuh akan prestasi , maka ia akan bekerja secara keras, secara baik dalam belajar, bekerja ataupun dalam aktivitas yang lain.

Pengaruh motivasi yang menjadi tanggungan pribadi sangat penting untuk penjelasan awam dan teori motivasi ilmiah. Dengan cara berbicara, mereka tatap mata pada pandangan pertama. Tiga jenis utama faktor orang dapat dibedakan menjadi:

  1. Kecenderungan dan kebutuhan perilaku universal,
  2. Disposisi motif (motif implisit) yang membedakan,
  3. Antara individu,
  4. Tujuan (motif eksplisit) yang diadopsi individu, dan
  5. Mengejar (J. Heckhausen dan H. Heckhausen, 2018 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 123).

Jenis-Jenis Motif

Terdapat bermacam motif yang berarti suatu keadaan, kebutuhan, atau dorongan yang disadari atau tidak disadari, yang membawa kepada terjadinya perilaku. Jenis-jenis motif tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Motif fisiologis
    Dorongan atau motif fisiologis pada umumnya berakar pada keadaan jasmani, misal dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan seksual, dorongan untuk mendapatkan udara segar.
  2. Tujuan yang dipelajari (learned goals)
    Manusia harus belajar untuk mencapai tujuan yang tidak langsung berkaitan dengan pemuasan kebutuhan biologis. Tujuan semacam ini disebut sebagai tujuan yang dipelajari (learned goals) atau tujuan sekunder (secondary goals).
  3. Motif dan kebutuhan yang dipelajari
    Pengertian kebutuhan yang dipelajari (learned needs) sering digunakan apabila motif itu timbul karena proses belajar.
  4. Motif sosial
    Motif sosial merupakan motif yang berkompleks, dan merupakan sumber dari banyak perilaku atau perbuatan manusia. Dikatakan sosial karena motif ini dipelajari dalam kelompok sosial (social group). Dorongan ini muncul karena menurut menurut Kunkel dalam diri manusia adanya dorongan alami untuk mengadakan kontak dengan orang lain.
  5. Motif eksplorasi, kompetensi, dan self-actualization
    Eksplorasi adalah motif yang hadir untuk mengjelajahi suatu hal. Kompetensi adalah motif yang muncul karena kebutuhan meningkatkan keterampilan atau kepiawaian dalam suatu hal. Sementara itu, self-actualization adalah motif yang hadir karena ingin mengakutalisasikan diri sebagai individu yang unik.

Penjelasan lengkap mengenai proses konasi dapat disimak pada artikel dengan tautan di bawah ini.

Baca juga: Teori Motivasi & Motif : Gejala Jiwa Konasi/Kehendak dalam Psikologi

Referensi

  1. Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.
  2. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.