Teori belajar merupakan upaya untuk menjelaskan dan mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga dapat membantu kita semua memahami proses yang kompleks dari belajar. Tentunya setelah mengetahui dan memahami bagaimana proses belajar terjadi, kita dapat memanfaatkan berbagai celah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efikasi dan efisiensinya dalam pembelajaran.

Tentunya untuk menelusuri teori belajar, kita harus mengetahui apa, mengapa, dan bagaimana belajar yang dimaksud tersebut. Pemahaman terhadap pengertian dan komponen-komponen lainnya dari belajar akan memperluas ruang gerak dalam menyelaminya. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa uraian mengenai belajar sebelum kita menyelami dunia teori belajar.

Pengertian Belajar

Pengertian belajar menurut Winkel dalam (Purwanto, 2016, hlm. 39) adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam diri seseorang dan proses interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan kata lain, belajar merupakan upaya dari seseorang agar dapat berubah menjadi berwawasan, berketerampilan, dan bersikap lebih baik. Perubahan selalu menjadi kata kunci dari belajar, karena perubahan adalah yang dituju, bukan hanya mendapatkan atau ditransferi ilmu.

Sementara itu menurut Slameto dalam (Nurjaman, 2016, hlm. 14) belajar adalah suatu proses usaha yang dikerjakan seorang untuk memperoleh sebuah perubahan tingkah laku yang baru dengan cara menyeluruh, sebagai akibat dari pengalaman yang dirasakan seseorang itu sendiri saat berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini, masih senada dengan Winkel, belajar juga bisa ditafsirkan sebagai kegiatan yang berlangsung disebabkan hadirnya interaksi secara aktif antara individu dengan lingkungan sekelilingnya.

Selanjutnya, menurut Sardiman dalam (Nurjaman, 2016, hlm. 15) belajar adalah suatu perubahan perilaku atau tampilan, dengan rangkaian aktivitas seperti membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lainnya. Perubahan tersebut dibuktikan dari seluruh tingkah laku dari individu yang belajar, dan aktivitas pembelajaran seperti membaca dan mengamati menjadi cara konkret untuk meraihnya.

Berdasarkan definisi para ahli mengenai belajar yang sudah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu runutan aktivitas yang dilakukan dengan interaksi terhadap suatu lingkungan yang akan membawa perubahan terhadap seseorang, baik itu pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

Ciri/Karakteristik Belajar

Selain definisi, tentunya akan lebih mempertegas pemahaman belajar lagi, jika kita mengetahui karakteristik atau ciri yang dapat mendefinisikan sesuatu dianggap sebagai belajar. Menurut Baharrudin dan Wahyuni (2015, hlm. 18-19) ciri atau karakteristik belajar adalah sebagai berikut.

  1. Belajar dibuktikan dengan terdapat perubahan tingkah laku (change behavior).
  2. Perubahan tingkah laku relatif permanen pada diri individu.
  3. Perubahan tingkah laku tidak selalu cepat diperhatikan di waktu proses pembelajaran sedang berlangsung, karena perubahan tingkah laku tersebut memiliki sifat potensial
  4. Perubahan tingkah laku adalah hasil dari sebuah latihan dan pengalaman.
  5. Pengalaman atau latihan itu menghasilkan penguatan pada diri individu.

Hasil Belajar

Sebagai suatu upaya atau aktivitas, tentunya belajar diharapkan agar bisa mendapatkan hasil. Menurut Gagne & Briggs (dalam buku Suprihatiningrum 2016, hlm. 37) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan peserta didik. Artinya, diharapkan pembelajaran memberikan perubahan positif yang dapat diamati atau diukur seberapa jauh dampaknya. Hal tersebut karena sesuatu yang “tampil” dapat dapat diamati atau diukur adalah bukti konkret dari keberhasilan suatu pembelajaran.

Sementara itu, Winkel dalam (Purwanto, 2016, hlm. 45) mengartikan hasil belajar sebagai perubahan yang mempengaruhi manusia dalam bersikap dan bertingkah laku. Perubahan sikap dan tingkah laku yang dimaksud mencakup tiga aspek yaitu, aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Ranah kognitif merupakan tujuan belajar yang berhubungan dengan perkembangan pemahaman, pengetahuan intelektual dan keterampilan. Ranah afektif merupakan tujuan belajar yang menjelaskan pada minat, emosi, nilai-nilai, dan sikap. Sementara itu, ramah psikomotorik diartikan sebagai kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif, karena psikomotorik berkaitan keterampilan dan kemampuan bertindak setelah mendapatkan pengalaman belajar.

Sebagai tambahan, menurut Anderson dan Krathwohl dalam (Rusmono, 2017, hlm. 8) mengungkapkan bahwa ranah kognitif dalam taksonomi Bloom merevisi ranah kognitif menjadi dua dimensi, yaitu proses kognitif dan pengetahuan. Dimensi kognitif terdiri atas 6 tingkatan yang meliputi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi dan menciptakan, sedangkan dimensi pengetahuan terdiri dari empat tingkatan yang terdiri atas pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif.

Setiap aspek dari hasil belajar haruslah dapat terukur. Oleh karena itu, dalam suatu butir pembelajaran, setiap aktivitas yang dilakukan oleh siswa harus dapat dievaluasi. Caranya adalah dengan mengaplikasikan kata kerja operasional. Contohnya, daripada meminta peserta didik untuk “memahami” lebih baik gunakan situasi “jelaskan” karena hal yang dijelaskan dapat diamati dan diukur tingkatnya.

Faktor yang Memengaruhi Belajar

Terdapat bermacam faktor yang dapat memengaruhi belajar. Menurut Baharrudin dan Wahyuni (2015, hlm. 19) berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut.

  1. Faktor internal
    Faktor internal adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Beberapa faktor internal dalam belajar meliputi kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, sikap kebiasaan belajar serta kondisi fisik dan kesehatan.
  2. Faktor lingkungan/eksternal/sosial
    Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan peserta didik. Seorang peserta didik yang memiliki intelegensi yang baik, dari keluarga yang baik, bersekolah di sekolah yang bagus, dan fasilitasnya baik belum tentu dapat belajar yang baik. Ada faktor yang mempengaruhi hasil belajarnya, seperti kelelahan karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh, dan pengaruh lingkungan yang buruk yang terjadi di luar kemampuannya.
  3. Faktor instrumental
    Faktor instrumental adalah faktor-faktor yang diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang telah direncanakan. Beberapa faktor instrumental meliputi: 1) kurikulum yang merupakan rencana belajar dan merupakan unsur substansial dalam pendidikan, 2) sarana dan fasilitas seperti ruang belajar dan laboratorium, dan 3) guru yang harus mengorganisir semua komponen pembelajaran sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan yang lainnya dapat berinteraksi secara harmonis.

Pengertian Teori Belajar

Berbagai pengertian dan konsep belajar yang telah dipaparkan sebelumnya menunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks, di mana komponen-komponen saling berinteraksi satu sama lain. Dalam menunjang proses belajar yang kompleks tersebut, teori belajar menjadi hal krusial untuk dipahami agar pendidikan dapat memberikan stimulus atau aktivitas yang tepat dalam memberikan dampak positif pada proses belajar dan pembelajaran peserta didik.

Berdasarkan berbagai pemaparan mengenai belajar sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa teori belajar merupakan kumpulan prinsip dan komponen-komponennya yang disusun secara sistematis mengenai bagaikan seorang individu belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menjelaskan serta menggambarkan bagaimana seorang individu belajar, sehingga dapat membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran.

Macam-Macam Teori Belajar

Terdapat beberapa teori belajar yang telah dikembangkan oleh para ahli psikolog dalam proses perkembangan bidang ini. Tiga pandangan utama dari ranah psikologi ini meliputi teori belajar behavioristik, kognitif, dan konstruktivisme. Beberapa teori belajar lainnya meliputi teori belajar humanistik, sosial, dan sibernetik. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing teori belajar.

Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik adalah teori belajar yang fokus terhadap perubahan tingkah laku individu sebagai perolehan dari pengalaman yang diakibatkan adanya stimulus dan respons. Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Thobroni (2015, hlm. 55) yang mengungkapkan bahwa teori belajar behavioristik merupakan suatu teori perihal perubahan perilaku sebagai perolehan dari pengalaman.

Penjelasan lengkap mengenai teori belajar behavioristik dapat disimak pada artikel di bawah ini.

Teori Belajar Behavioristik & Pengertian, Ciri, Kelebihan & Kekurangan

Teori Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif adalah teori belajar yang lebih menekankan pada suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia secara utuh dalam semua situasi dan kondisi pembelajaran yang sedang dilakukan. Al-Hasan (2012, hlm. 10) mengemukakan bahwa kemampuan kognitif adalah kemampuan untuk berpikir secara lebih kompleks dan melakukan penalaran serta pemecahan masalah. Semakin berkembangnya kemampuan kognitif maka akan mempermudah seseorang untuk menguasai pengetahuan umum yang lebih luas.

Sehingga dapat dikatakan bahwa teori belajar kognitif adalah teori belajar yang ingin menekankan kemampuan berpikir lebih kompleks serta melakukan pemecahan masalah dibandingkan dengan hanya sekedar menguasai pengetahuan umum lewat hafalan atau latihan saja.

Penjelasan lengkap mengenai teori belajar kognitif dapat dibaca pada artikel di bawah ini.

Teori Belajar Kognitif & Pengertian, Ciri, Prinsip, dsb

Teori Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah teori belajar yang mengusung pembangunan kompetensi, pengetahuan, atau keterampilan secara mandiri oleh peserta didik yang difasilitasi oleh pendidik melalui berbagai rancangan pembelajaran dan tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan yang dibutuhkan pada peserta didik.

Menurut Thobroni (2015, hlm. 107) Teori konstruktivisme memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya. Artinya, belajar dalam pandangan konstruktivisme betul-betul menjadi usaha aktif individu dalam mengonstruksi makna tentang sesuatu yang dipelajari.

Penjelasan lengkap mengenai teori belajar konstruktivisme dapat dibaca pada artikel di bawah ini.

Teori Belajar Konstruktivisme & Pengertian, Ciri, Prinsip, dsb

Teori Belajar Humanistik

Teori pembelajaran humanistik adalah teori belajar yang tergerak dari dalam diri manusia berdasarkan keinginan dan kebutuhannya sendiri dalam berbagai proses pemenuhan, aktualisasi, pemeliharaan, hingga peningkatan diri. Menurut Arbayah (2013, hlm. 207) teori belajar humanistis adalah teori belajar yang menempatkan individu pembelajar sebagai pelaku dan sebab tujuan secara sekaligus, sehingga individu dapat mengaktualisasikan segenap potensi dirinya tidak hanya dalam bentuk yang terasing dari sebab-sebab di luar, tetapi bahkan juga dalam posisi yang mengemban tujuan dari perwujudan dirinya, dan individu ini sepenuhnya bertumpu pada dirinya sendiri dalam proses aktualisasi diri, pemeliharaan diri, dan peningkatan diri.

Penjelasan lengkap mengenai teori belajar humanistik dapat dilihat pada artikel di bawah ini.

Teori Belajar Humanistik : Pengertian, Ciri, Tujuan & Prinsip

Teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial adalah pembelajaran yang tercipta ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain melalui peniruan (imitation) atau pemodelan (modeling). Dengan kata lain, informasi yang didapatkan dari cara memperhatikan kejadian-kejadian yang ada di lingkungan sekitar atau lingkungan sosial.

Teori belajar sosial, atau dikenal juga dengan teori pembelajaran observasional. Bandura (1963) mengemukakan bahwa individu belajar banyak tentang perilaku melalui peniruan (modeling) bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) yang diterimanya dan proses belajar semacam ini disebut observational learning atau pembelajaran melalui pengamatan.

Davidoff dalam (Purwanto, 2016, hlm. 28) juga menyebutkan bahwa modeling disebut juga observation learning, imitation atau social learning. Jadi pembelajaran observasional merupakan komponen utama dari pembelajaran sosial Bandura, oleh karena itu teori belajar observasional berkaitan erat dengan teori belajar sosial.

Penjelasan lengkap mengenai teori belajar sosial dapat dibaca pada artikel di bawah ini.

Teori Belajar Sosial (Observational Learning)

Teori Belajar Sibernetik

Dalam teori sibernetik, belajar adalah pengolahan informasi. Proses belajar memegang peranan penting, namun yang lebih penting lagi adalah pengolahan sistem informasi. Dengan kata lain, sistem informasi dipandang sangat memegang peranan penting dalam memudahkan penyampaian materi pembelajaran yang akan disajikan kepada siswa.

Teori belajar sibernatik adalah teori belajar yang menganggap bahwa teori komputasi tidak hanya dapat digunakan untuk mengolah data, database, presentasi, dan alat komunikasi, tetapi dapat juga digunakan sebagai suatu alat untuk memancing dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada peserta didik untuk menciptakan dan membangun pengetahuan baru peserta didik (Thobroni, 2015, 168).

Penjelasan lengkap mengenai teori belajar sibernetik dapat dibaca pada artikel di bawah ini.

Teori Belajar Sibernetik & Pengertian, Proses, dan Penerapan

Teori Belajar Menurut Para Ahli

Selain dapat diklasifikasikan berdasarkan alirannya, teori belajar juga dapat dibagi berdasarkan tokoh pencetusnya. Beberapa teori belajar menurut para ahli yang memberikan pengaruh besar terhadap teori belajar meliputi:

  1. Teori Belajar Ausubel,
  2. Teori Belajar Gagne,
  3. Teori Belajar Bruner, dan
  4. Teori Belajar Piaget.

Seluruh pembahasan lengkap mengenai masing-masing teori belajar menurut para ahli tersebut dapat disimak pada masing-masing tautan di atas.

Referensi

  1. Al-hasan, Yusuf. (2012). Pendidikan anak dalam islam. Jakarta: Darul Haq.
  2. Baharuddin & Wahyuni, E.N. (2015). Teori belajar dan pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
  3. Nurjaman, Syarifan. (2016). Psikologi Belajar. Ponorogo: Wade Group.
  4. Purwanto. (2016). Evaluasi hasil belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  5. Rusmono. (2017). Strategi pembelajaran dengan Problem Based Learning itu perlu : untuk meningkatkan profesionalitas guru. Bogor: Ghalia Indonesia.
  6. Suprihatiningrum, Jamil. (2016). Strategi Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
  7. Thobroni. (2015). Belajar & Pembelajaran, Teori dan Praktik. Yogyakarta: ArRuzz Media.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *